Balada Antifans

Melihat bentuknya saja membuatku tak berselera. Apalagi mencium aromanya, membuatku mengernyitkan hidung akan baunya yang khas. Aku pun berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah menyentuhnya.
Aku tidak mengerti, apa sebenarnya yang disukai dari buah durian. Cara makannya saja susah. Lihatlah bagaimana para penjual membuka kulit luarnya, sungguh membutuhkan energi. Belum lagi harganya yang mahal, membuat pecintanya harus rela merogoh kocek dalam-dalam. Dan baunya, ughh… sungguh membuat hidung tersiksa.
Namun segala kerumitan itu ternyata tidak pernah menyurutkan niat para pecinta durian untuk menikmatinya. Tengok saja, durian selalu diburu tanpa mengenal musim, bahkan di saat musimnya tiba akan terlihat onggokan kulit-kulit durian di tepi jalan. Para penjual durian tak pernah sepi dari pembeli, baik anak-anak atau orang dewasa. Kuliner-kuliner yang menawarkan aneka olahan durian pun selalu antusias diserbu masyarakat. Bukankah hal itu merupakan bukti bahwa durian benar-benar merupakan buah yang super? Super keras, super mahal, super bau dan super enaknya. Tentu saja, kata terakhir berlaku untuk mereka yang mencintai buah ini.
Aku sendiri memang seorang antifans buah durian meski tidak terlalu fanatik. Aku tidak suka aromanya yang menyengat, teksturnya yang lembek dan harganya yang mahal. Ya, akhirnya ketika dahulu aku mengejek kakak-kakakku yang rela membeli durian mahal-mahal, sekarang aku harus menerima kenyataan bersuamikan seorang pecinta durian. Bukan itu saja, mertuaku, saudara iparku bahkan anakku sendiri adalah seorang penggemar durian!
Pernah suatu ketika kami semua berada dalam suatu perjalanan menggunakan mobil. Ketika melihat sekelompok penjual durian, suamiku tiba-tiba berkata, “Eh, ada durian. Beli, yuk!” Tentu saja mereka tahu bahwa aku membenci buah ini. Suamiku pun tanpa kenal putus asa terus saja membujukku untuk mencicipi buah ini. “Coba makan, sedikiiittt… saja.” Katanya. Aku pun semakin menutup mulut rapat-rapat.
Sebenarnya aku tahu bahwa suamiku sangat ingin menikmati buah durian bersamaku. Makan durian sendiri tidak terasa senikmat dulu, katanya waktu itu kepadaku. Tapi aku lebih memilih mojok sambil makan buah sirsat daripada harus mencicipi si durian itu. Bukannya tidak mau menyenangkan suami, tapi selera kami memang berbeda. Dia membenci keju sedangkan aku menyukainya. Sama halnya aku membenci durian sedangkan dia tergila-gila padanya. Semua itu tidak pernah kami perdebatkan.
Sampai suatu hari ketika sedang hamil, aku sangat penasaran ingin mencoba bagaimana rasa si durian ini. Akhirnya aku meminta suamiku membeli durian. Berangkatlah suamiku dengan penuh semangat, berharap aku akan menjadi seorang penikmat durian sepertinya. Dan… aku pun menyentuh strukturnya yang lembek, membuatku bergidik sebelum mencicipinya. Dengan menutup hidung, aku merasakan sedikit buahnya. Lagi, dan kucicip lagi. “Ini tidak seburuk yang kubayangkan.” Komentarku membuatnya tersenyum lebar. “Tapi aku tidak mau memakannya lagi.” Komentar terakhir itu mencabut senyum itu dari wajahnya yang kemudian berganti tanda tanya.
“Aku tidak suka durian.” Hanya itu saja alasannya. Permen rasa durian, oke. Es krim rasa durian, enak. Tapi buah durian, itu tidak cocok di hatiku. Haha… Kupandang wajahnya yang seperti prajurit kalah perang, lesu. Akhirnya suamiku berkata, “ah, tidak apa-apa, yang penting Naura suka. Besok kalau dia sudah besar akan kuajak makan durian berdua.” Gantian aku yang tersenyum kecut, membayangkan mereka berdua makan durian sementara aku hanya melihatnya dari kejauhan. Kok rasanya nelangsa, ya?
Kupandang putriku yang baru berusia dua tahun itu. Berharap kelak dia akan berubah pikiran dan menjadi antifans durian sepertiku. Tapi pikiran itu kutepis jauh-jauh. Aku mungkin terlalu berlebihan. Aku tidak membenci teramat sangat, aku hanya tidak suka. Aku pun teringat pada keponakanku yang dulu sangat membenci durian, hingga orang-orang yang makan durian di dekatnya akan disuruh menyingkir. Tapi sekarang dia justru menjadi penggemar beratnya. Mungkin sebaiknya aku mengurangi sedikit kebencianku pada buah ini, karena aku tidak ingin berbalik ikut menggemarinya. Akhirnya, kuhormati Naura dan ayahnya yang mencintai durian sebagaimana mereka menghormatiku dengan cara tidak memakan durian di dekatku.

Iklan

2 pemikiran pada “Balada Antifans

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s