Saat si Kecil Terserang Muntaber

Sedikit cerita sambil melepas lelah. Semoga ada manfaat yang bisa dipetik. Hikmah dari peristiwa ini adalah: betapa lebih menyenangkan melihat kerewelan anak saat sehat daripada melihat kerewelan atau kediamannya saat dia sakit. Miss you, mba Ashima sayang.. Get well soon.. Syafakillaahu laa ba’sa thahurun insyaallah.. Sudah beberapa hari ini putri sulung kami terkena muntaber.

Awalnya dia hanya muntah-muntah hebat, beberapa jam setelah itu dia juga mengalami diare. Diarenya sudah berwujud air tanpa ampas dalam jumlah yang sangat banyak. Tak berapa lama badannya mengalami demam. Mulanya saya tak begitu khawatir karena pengalaman sebelumnya saat dia diare kami hanya memberinya perasan air kunyit dan madu-minyak habbatussauda’ 2 kapsul (kapsul dibuka). Saya pikir Ashima hanya mengalami diare biasa atau disentri. Setelah durasi BAB tidak berhenti dan terus bertambah, disertai muntah-muntah yang juga bertambah, akhirnya kami membawanya ke dokter umum karena dokter spesialis anak hanya praktek di hari tertentu saja. Maklumlah.. kami tinggal di sebuah kota kecil.

Akhirnya setelah diperiksa, Ashima mendapat beberapa obat, yaitu L-zinc untuk memelihara pencernaannya, dan anti mual Vesperum domperidone. Kami juga berinisiatif menambahkan L-bio 1x sehari dengan persetujuan dokter. Namun beberapa hari setelahnya ashima malah demam dan mengeluh sakit tenggorokan. Nafsu makan dan minum berkurang drastis. Dia terlihat lemas dan tidak ada satu pun makanan yang masuk ke lambungnya karena setiap kali makan langsung dimuntahkan. Akhirnya setelah kembali ke dokter yang sama, beliau menambah antibiotika Fasiprim karena Ashima juga terserang radang tenggorokan. Oralit merk Ramolit dengan rasa jeruk juga dibekalkan kepada kami karena Ashima sudah memasuki dehidrasi tahap sedang. Jika tidak ada perbaikan nafsu makan, Ashima diharuskan rawat inap.

Membayangkan Ashima harus rawat inap benar-benar membuat khawatir. Dulu di usia 2 tahun, Ashima pernah dirawat inap karena kejang demam. Saat itu suhu tubuhnya tinggi karena radang tenggorokan, dan tidak ada asupan makanan-minuman yang masuk karena dia selalu menolak. Ternyata dehidrasi membuatnya kejang sehingga harus diopname di rumah sakit. Padahal saat itu saya sedang mengandung Syaamila. Selama di rumah sakit Ashima tidak bisa diam sehingga sering mengalami pendarahan pada selang infusnya. Trauma pada opname pertama membuat kami memilih untuk merawat jalan Ashima saat ini. Bingung juga kalau harus membawa sang adik yang baru berusia 11 bulan menginap di rumah sakit.

Untuk menghindari syok, saya mengamati jika ada tanda-tanda dehidrasi pada Ashima yang menyebabkan harus dilarikan ke IGD. Berdasarkan hasil baca-baca, penderita muntaber harus dilarikan ke IGD apabila:

1. Penderita sering tertidur atau terus mengantuk

2. Lemas

3. Tidak ada asupan makanan+minuman yang masuk sama sekali

4. Jika kulit dicubit akan lama kembali (tekanan turgor)

5. Mulai berhalusinasi/berimajinasi untuk anak-anak

6. Mata terlihat cekung

7. Ubun-ubun anak teraba cekung

Ashima susah sekali makan dan minum. Setiap jam makan tiba, berbagai cara saya lakukan dari mengajak main, menggendong sambil makan, jalan-jalan atau membuatkannya berbagai menu masakan menarik, tapi tetap saja saya tidak mampu membujuknya makan meski sedikit. Akhirnya terpaksa saat dia bertambah lemas kami melarikannya ke IGD. Dokter memperbolehkan Ashima rawat jalan dengan catatan: oralit (sudah diganti merk oleh dokter dengan rasa yang “bisa diterima” anak alias tidak menyebabkan bertambah mual) harus mau dia minum dan makan meski sedikit-sedikit. Jika tidak mau kedua-duanya, terpaksa Ashima harus rawat inap. Alhamdulillah, lega rasanya.

Ashima pun kami beri penjelasan bahwa dia harus mau minum dan makan. Karena air putih (satu-satunya yang mau diminum Ashima saat sakit) tidak cukup mengganti cairan yang hilang. Untuk sembuh Ashima harus: minum obat + makan + minum. Alhamdulillah, meski masih menolak makan berat karena trauma muntah dan mualnya, Ashima sudah mau minum oralit lagi (sebelumnya dia menolak oralit karena menyebabkan muntah) setelah ganti merk. Tapi untuk BAK dia masih trauma karena takut mencret lagi.

Berikut daftar makanan yang kami berikan saat Ashima muntaber dan tidak menyebabkan mual:

1. Kentang rebus

2. Ubi cilembu

3. Pocari sweat (jangan diminum berdekatan dengan jadwal minum obat)

4. Air kelapa hijau (jangan berdekatan dengan saat minum obat)

5. Air teh hangat

6. Air tajin

7. Air kacang hijau tanpa santan

8. Bubur nasi tanpa santan

9. Puding

10. Pisang (sangat bagus untuk diare karena mengandung pektin dan baik untuk memelihara usus, tapi khusus Ashima tidak dilanjutkan karena dia muntah setelah memakannya)

Makanan yang tidak kami berikan saat Ashima diare:

1. Kacang tanah

2. Susu dan produk olahannya

3. Jeruk hangat

4. Buah dan jus buah selain pisang

5. Sayur-sayuran tinggi serat

6. Cokelat

Untuk masa pemulihan sebaiknya si kecil tetap diberikan makanan yang halus dulu karena lambung cenderung kosong serta untuk melatih kembali kinerja usus pasca diare.

Iklan

4 pemikiran pada “Saat si Kecil Terserang Muntaber

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s