begini rasanya terjangkit flu singapura

Pas di usianya yang pertama, si bungsu Syaamila mendadak terserang demam cukup tinggi. Suhu tubuhnya antara 38-38,5 derajat celcius. Semua berawal saat kami mengantar kakaknya pergi ke arena bermain di sebuah swalayan. Yah, pelajaran besar bagi kami untuk tidak lagi mengajak anak-anak bermain di sana. Dua hari Syaamila demam tanpa gelaja lain. Hari kedua, muncul bintil-bintil kecil mirip cacar di paha Syaamila. Awalnya kami pikir dia alergi telur. Tapi melihat suhu tubuhnya yang tinggi membuat kami ragu. Biasanya anak-anak tidak pernah demam saat alergi.
Sehari setelah Syaamila demam, saya pun ikut mengalami demam. Badan menggigil, kepala pusing, persendian ngilu, badan terasa remuk redam. Akhirnya kami berdua periksa ke dokter dengan diantar oleh suami. Dokter berkata bahwa Syaamila terjangkit cacar air. Kaget juga saya, pasalnya kakaknya belum pernah terkena cacar air. Harus ekstra proteksi, nih! Batin saya saat itu. Sedangkan saya sendiri tekanan darah anjlok 85/60. Wow! Saya belum pernah mengalami tekanan darah serendah itu. Pantas badan rasanya tak karu-karuan.Syaamila diresepkan antibiotik dan multivitamin. Awalnya saya sangsi, virus kok dikasih antibiotik? Tapi berdasar analisa dokter, Syaamila juga mengalami infeksi sekunder, jadi butuh antibiotik. Well, okay..Saya sendiri hanya diresepkan beberapa multivitamin dan tambah darah. Oleh dokter, kami diberi pesan agar memperbanyak cairan dan asupan buah. Hehe.. Saya akui, ibu-ibu sibuk dengan dua anak kecil plus kerjaan rumah seringkali membuat lalai untuk minum, bahkan makan saja terkadang cuma dua kali sehari, padahal masih menyusui (jangan ditiru ya!).
Di luar dugaan, sehari setelah berobat Syaamila menjadi rewel luar biasa. Menolak makan, minum bahkan ASI. Yang dimau cuma air putih saja. Setiap kali makan, dia menangis. Selidik punya selidik, ternyata banyak sariawan di mulutnya. Galau berat rasanya saat Syaamila menolak ASI. Segala sesuatu membuat dia marah, bahkan sama sekali tidak mau lepas dari gendongan. Dalam gendongan pun dia menangis terus menerus karena ingin minum ASI tapi tidak mulutnya sakit. Akhirnya dengan badan yang semakin tak karu-karuan, ASI pun diperas, tapi tetap saja dia menolak. Sedih.. sekali.. Di kaki dan lengan mulai muncul bintil-bintil merah seperti cacar. Demamnya pun berangsur hilang.Bersamaan dengan hilangnya demam Syaamila, saya justru mulai terinfeksi virus tersebut. Awalnya heran, sudah pernah kena cacar air tapi kok kena lagi? Berarti imunitas saya benar-benar sedang luar biasa buruk. Oke, mungkin faktor kelelahan, bersinggungan terus-menerus dengan penderita, plus kurangnya penjagaan gizi menjadi faktor-faktor begitu mudahnya saya terinfeksi lagi.
Gejala awalnya, setelah hilang demam, saya mulai merasa kaki sakit saat berjalan. Ternyata ada bintil air seperti terkena lepuhan air panas di kaki. Awalnya hanya satu, kemudian timbul pula di telapak tangan. Lama-lama bertambah banyak. Untuk berjalan sangatlah sakit, karena terasa panas dan seperti berjalan di atas jarum. Bisa dibayangkan bukan? Dengan keadaan seperti itu Syaamila pun belum pulih benar dan terus menempel pada saya. Tergolek berdua di atas tempat tidur, saya hanya bisa menatapnya saat Syaamila menangis dan mengamuk karena masih juga tidak bisa minum ASI. Saat itu benar-benar, I feel that I’m the worst mom in the world..
Nikmat sakit itu dilengkapi dengan munculnya sariawan begitu banyak di tenggorokan, langit-langit mulut dan di bibir yang membuat saya menyimpulkan bahwa Syaamila bukan menularkan cacar tapi flu singapura alias hand mouth foot desease atau penyakit kaki tangan mulut (KTM). Ini ujian luar biasa, karena saya sangat jarang menderita sariawan. Dengan sariawan begitu banyak, mulut terasa hancur. Hehe.. Tidak bisa minum, tidak bisa makan. Saat itulah saya mengerti, mengapa Ashima dan Syaamila memilih mogok makan saat sariawan banyak. Saya, manusia dewasa yang tetap saja tidak sanggup memaksa diri menderita demi kesembuhan. Memilih untuk mogok makan juga (hihi.. Sekali lagi jangan ditiru). Segala daya upaya dilakukan untuk menyembuhkan para sariawan itu. Minum kandistatin (for Syaamila, its work!), fg troches (tablet hisap untuk radang tenggorokan dan sariawan), minum vitamin dosis tinggi Caldece, berkumur dengan Abothyl dan air garam, tapi mereka bandel juga. Akhirnya suami saya mengantar ke dokter karena melihat saya berurai air mata tak berdaya karena mulut yang luar biasa sakit. Oleh dokter saya diberi asam mefenamat untuk meringankan nyeri. Tapi tetap saja saya belum bisa makan.
Setelah maag kambuh, baru saya mencari-cari menu yang bisa dimakan dengan sakit yang minim. Bubur nasi, pisang, air kacang hijau dan semua yang memiliki sedikit tekstur tidak bisa masuk. Akhirnya mencoba kepingan biskuit bayi Marie dilarutkan dengan air dingin bisa diterima oleh mulut saya. Ini menu andalan saya dan Syaamila untuk beberapa hari ke depan. Bosan dengan bubur Marie, mencoba makan mie instan. Ternyata enak! Hehe.. Bahagia sekali, permukaan mie yang licin betul-betul membantu untuk melewati luka sariawan tanpa menggores. Itu mengingatkan saya kenapa hanya mie yang mau dimakan Ashima saat radang tenggorokan. Tapi tentu saja, mie instan itu tetap saya masak dengan bumbu sendiri bukan dengan bumbu aslinya.
Begitulah, Syaamila sembuh total dari penyakit KTM selama enam hari. Bintil-bintilnya mengering persis seperti cacar. Sedangkan saya sampai saat ini masih dalam proses penyembuhan (sudah hampir dua minggu). Sebenarnya proses penularan ke orang dewasa sangat jarang kecuali karena daya tahan tubuh yang jelek. KTM biasa menjangkit anak usia 2 minggu hingga 5 tahun. Tapi kenyataannya ada pula orang dewasa yang terjangkit seperti saya dan kakak ketiga saya yang juga pernah mengalami hal yang sama. Penularan biasanya melalui air liur (batuk, bersin, ngobrol), feses dan urine serta cairan yang pecah dari bintil. Bisa dimengerti mengapa saya sebagai ibu bisa dengan mudah tertular virus ini. Alhamdulillah Ashima dan suami saya tidak tertular karena mereka dijauhkan dari sumber penyakit dan selalu mencuci tangan dengan sabun antiseptik. Jauhkan pula benda-benda yang bersinggungan dengan penderita dari anggota keluarga yang lain sebagai langkah pencegahan. Perbanyak asupan buah, madu serta cairan untuk mempercepat proses pemulihan dan menjaga daya tahan tubuh untuk anggota keluarga yang tidak terjangkit. Berdasar info dari orang-orang terdekat, rupanya KTM ini sedang mewabah di kota kami dan kota sebelah. Tentu hal ini tidak bisa dianggap sepele karena penularan virus ini bisa melalui udara.
Tidak bisa memeluk dan mencium si kakak tentu saja membuat saya sangat sedih, tapi tetap saya tabahkan diri “mengusir” kakak agar tidak mendekati saya maupun adiknya. Soalnya kalau si kakak sakit, rewelnya melebihi si adik. Hehe.. Saat sakit itu pula betapa berterima kasih saya kepada suami yang bersusah payah menjaga si sulung hingga membawanya pergi ke kantor selama dua hari karena saya sama sekali tidak bisa beraktivitas. Juga kepada kedua mertua saya yang menjaga si bungsu saat dia rewel agar saya bisa beristirahat. Sungguh bersyukur memiliki keluarga pengertian dan penuh perhatian. Jazaakumullaahu khairan..

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s