tanyaku padamu


Panah-panah tajam yang kau lesatkan
Seolah kita tak pernah menghirup udara yang sama
Entah sudah berapa banyak celaan
Mengikut di tengah cameo-cameo itu
Bukankah dulu engkau bilang “tunggu”?
Saat hendak kutaruh jari di atas sosok-sosok itu
Engkau merayu berkata “duduk saja membisu”
“Jangan kau turut jiwa-jiwa yang palsu
penikmat mimbar kehormatan tak kenal waktu”
Lihat dirimu sendiri!
Tak malu engkau merangkak di antara ambisi
Malah engkau puja-puji
Amnesiakah engkau?
Duduk saja sendiri dan nikmati
Lenggangku tak patut kau panggil kembali

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s