Ibu Kepo: Anak-anak Masa Kini

untitled

beberapa minggu ini si sulung Ashima (3,5 tahun) selalu dikunjungi teman-temannya setiap pagi. berhubung dia belum bersekolah, hanya ada dua orang temannya yang selalu rajin menyambangi dia di rumah. sebut saja nama mereka Aisha dan Bella. sebelumnya teman Ashima hanya satu, Nini. tapi kami sebagai orang tua tidak terlalu suka Ashima berteman dengan Nini.

Nini ini rumahnya berdekatan dengan kami. tapi Nini punya dua kakak laki-laki yang “kurang terawasi” oleh kedua orang tuanya. mereka bekerja, dan menitipkan ketiga anaknya kepada neneknya. neneknya yang punya banyak cucu, saya rasa sangat kewalahan mengurusi cucu-cucunya. akhirnya, Nini dan kedua abangnya seperti anak ayam kehilangan induk, nyaris tanpa bimbingan. banyak hal memprihatinkan yang kami temui sehingga pertemanan mereka dengan Ashima amat sangat kami batasi.

ashima masih sangat mudah terpengaruh, sehingga kami rasa penting bagi kami untuk selalu memperhatikan setiap teman yang dia miliki. saya pun selalu “meng-kepo-i” dan menjadi penguntit dalam setiap permainan yang mereka mainkan. hehe.. sampai-sampai tetangga bertanya heran, “apakah ashima bermain di luar?” Ya, tentu saja. Dia main di luar rumah tetapi selalu dalam pengawasan saya. bukan persoalan kasus penculikan yang kini marak. juga bukan semata kasus child abuse alias kekerasan/pelecehan seksual pada anak yang siap merusak kesenangan setiap anak. tapi lebih kepada seperti apa “pergaulan” yang ada pada anak jaman sekarang.

kami tinggal di kota kecil, tapi cerita ini cukup membuat hati miris. ketika dua orang anak SD laki-laki dan perempuan berbincang di dekat rumah kami. rumah kami ini memang berada di antara dua SD negeri. setiap hari jalanan depan rumah kami selalu ramai oleh anak-anak berseragam merah-putih. si anak laki-laki ini berkata kepada temannya, “Yuk, begituan lagi. Nanti tak kasih uang.” Haduh! pingsan saya mendengarnya. mereka tidak tahu bahwa ada dua telinga yang mendengar perbincangan mereka. di kota kecil saja ternyata arus pornografi sudah tidak terbendung lagi. tidak heran, di kota-kota besar kasus yang terjadi pada anak-anak lebih parah lagi. entah karena tontonan televisi yang semakin meracuni anak-anak, atau badai arus teknologi yang tak kuasa dibendung oleh orang tua.

ashima selalu saya beri batas setiap apa yang dia tonton. kartun-kartun tak memiliki unsur pendidikan atau sekedar minim muatan moral, iklan-iklan yang konsumtif bahkan kebebasan pergaulan kini juga mengancam anak-anak. seperti sebuah iklan coklat yang diperankan oleh anak-anak, di dalamnya terdapat adegan seorang anak laki-laki tidur di pangkuan seorang anak perempuan memakai rok. terlepas dalam iklan tersebut mereka bersaudara dan bukan berteman, kira-kira pesan apa yang dapat anak-anak ambil selain enaknya coklat yang mereka makan? tentu saja, bersentuhan dan bersandar seperti itu pada teman mereka bukanlah suatu masalah. jika anak kita polos, bagaimana dengan teman mereka? lawan jenis mereka? masih poloskah? cukup yakinkah kita?

itu sebabnya saya selalu “memegang erat” Ashima. jika dahulu mungkin kita mandi bersama di sungai dengan anak laki-laki tidak ada yang berpikiran sampai ke “sana”. i’m not sure about them now. jadi saya akan selalu menjadi seseorang yang bermain layang-layang. memegang senarnya erat-erat agar tidak putus dibawa angin. sesekali bolehlah direnggangkan talinya agar dia sedikit merasakan kebebasan saat aman, namun sesekali perlu ditarik talinya apabila angin bertiup kencang agar tidak terbawa pergi. their said, every mom has their own battle. so, this is my battle as a mom.

Iklan

4 pemikiran pada “Ibu Kepo: Anak-anak Masa Kini

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s