jadilah lampu, bukannya lilin

Untitled

suatu malam  saya bercerita kepada suami tentang teman-teman yang sangat bersemangat menuntut ilmu. tidak tanggung-tanggung, banyak di antara mereka yang melanjutkan pendidikan pasca sarjana hingga keluar negeri. saya berkata, bahwa di antara mereka, lulusan sarjana seperti saya yang memilih berkarir di dalam rumah adalah “sesuatu”.

sesuatu di sini bermakna sungguh sangat biasa. selama ini saat mengamati pembicaraan para wanita “rumahan” yang meneguhkan diri menjadi seorang “ratu rumah tangga”, ternyata banyak pihak yang menyayangkan pilihan seperti kami. kenapa oh kenapa, wanita-wanita seperti kami, dengan latar belakang pendidikan yang cukup tinggi memilih “bersembunyi” di dalam rumah? tidakkah kami sayang akan ilmu yang sudah kami dapat di bangku kuliah? tidakkah kami ingin menjadi orang yang memberikan manfaat untuk masyarakat? tidakkah kami ingin menjadi wanita yang bisa berkontribusi terhadap ekonomi rumah tangga? tidakkah kami ingin menjadi seorang wanita yang bisa mengaktualisasikan dirinya? jawaban kami tentu saja, ya kami ingin. dan tidak jarang godaan itu menyapa. hai… keluarlah dari rumahmu. lihatlah, banyak hal yang bisa kamu lakukan di sini. bantulah suamimu yang kesusahan mencari nafkah agar ekonomi kalian lebih mapan. coba lihat, saat ini teman-teman wanitamu gemilang dalam karirnya. tidakkah kamu iri? bagaimana mungkin sarjana dari universitas ternama hanya berdiam diri di rumah dan mengasuh anak?

hai kawan, godaan itu rajin menyapa setidaknya setiap saya rajin membuka lembar-lembar sosial media atau bertegur sapa dengan teman lama. seperti suatu malam, saat saya bercerita pada suami tentang kesuksesan kawan-kawan semasa sekolah dan kuliah. jujur saja, saat itu hanya sekedar celoteh ringan yang saya ungkapkan. bukannya mengadu pada beliau bahwa saya kok tidak se-gemilang teman-teman saya? hmm… stay at home is my commitment. itu bukanlah janji saya pada suami, bukan pula semata perintah suami untuk memasung potensi yang saya miliki. saya temukan banyak wanita yang berkomitmen seperti saya merasa bahagia dengan pilihan ini. seperti halnya para wanita yang puas dengan puncak karir yang mereka raih dalam dunia kerja mereka, kami pun bahagia menjadi seorang “manager” dalam rumah kami. kami tidak merasa ilmu yang kami raih menjadi sia-sia dengan berada di rumah. rumah ini adalah taman-taman kebahagiaan. dia adalah tempat kami menata kehidupan, menjadi asisten terbaik yang mampu menjaga amanah suami: hartanya dan anak-anaknya.

suami saya bekata bahwa mendidik dan merawat anak-anak dalam keseharian bukanlah pekerjaan ringan. beberapa kawan pun mengakui bahwa pekerjaan mereka di kantor jauh lebih ringan daripada seharian mengurus hiruk pikuk anak-anaknya saat libur tiba. jangan tanya pula, berapa banyak wanita yang merasa sedikit depresi saat pertama resign dari pekerjaannya untuk menjadi “24 hour mom”. ritme kerja kami memang berbeda. menjadi manusia multitasking sudah merupakan kebiasaan bukan sekedar kebutuhan. tidaklah mengherankan sampai terbit sebuah quote seperti ini:

mom-quotes

credit by pictxel.com

dan sekali lagi suami saya mengingatkan akan penggalan sebuah hadits dalam Shahih Muslim yang menjadi favorit kami berdua. ihrish ‘alaa ma yanfa’uka wasta’in billaah wa laa ta’jiz (bersemangatlah terhadap apa-apa yang bermanfaat bagimu. mintalah pertolongan pada Allah dan janganlah bersikap lemah). beliau berkata bahwa hadits tersebut mengisyaratkan kita untuk melakukan segala sesuatu yang bermanfaat, dan yang utama adalah mengerjakan sesuatu yang paling bermanfaat untuk diri sendiri. jangan sampai ingin memberikan manfaat untuk lingkungan namun justru mengorbankan diri sendiri. ibarat sebuah lilin, yang mendatangkan manfaat dengan memberikan cahaya pada sekitarnya namun dirinya harus terbakar habis. alangkah baiknya jika kita seperti lampu, yang menerangi sekitar dengan menggunakan energi listrik, tidak akan habis meski menyala berkali-kali. bermanfaat bagi diri sendiri yang paling utama adalah dalam masalah akhirat. jangan sampai manfaat yang ingin kita raih justru berseberangan dengan perintah agama. suami mengisahkan seorang ibu yang memiliki usaha yang sudah didelegasikannya kepada seorang pegawai karena hamil. kehamilan ini sudah sangat dinanti setelah melalui serangkaian keguguran. usianya pun tak lagi muda sehingga memiliki anak kembali akan membawa resiko bagi dirinya dan janinnya. setelah melahirkan, dia berencana memecat karyawannya itu dan mengelola sendiri usahanya. lalu sang anak yang sudah lama dinanti itu? dia titipkan ke seorang pengasuh. padahal selisih keuntungan antara mendelegasikan usahanya kepada seorang karyawan dengan dikelola sendiri tidaklah banyak. suami pun mengisahkannya dengan penuh sesal. namun, kembali lagi bahwa setiap wanita memiliki pilihannya masing-masing bukan? jadi para wanita yang memilih berkarya di rumah. percaya dirilah! rumah bukan tempat untuk memasung kreativitasmu. rumah bukanlah tempat untuk memenjarakan ilmu yang engkau miliki. ide dan aktualisasi diri itu akan muncul di mana saja, termasuk di setiap sudut rumahmu. betapa banyak wanita yang mampu menjadikan anaknya seorang penghafal al-qur’an dari rumahnya? berapa banyak pengusaha wanita yang memiliki usaha besar hanya berbekal internet dari sudut kamarnya? berapa banyak wanita yang mampu menjadi penulis besar hanya dengan tinggal di rumah? berapa banyak wanita yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak berprestasi di sekolah dengan ilmu yang dimilikinya, dengan waktu yang dihabiskannya untuk mengajarkan anaknya dari A sampai Z? jadi jika ada yang berkata ilmumu akan sia-sia, itu salah besar. ilmu itu akan bermanfaat, jika bukan olehmu maka untuk anak-anakmu. dan itu, baru perkara dunia saja.. so, what a beautiful palace, isn’t it?

so say thanks to your husband who keep you in this beautiful palace

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s