Hi, dentist! (kunjungan pertama Ashima)

Susah-susah senang tinggal di kota kecil seperti Bumiayu. Dibilang kampung bukan, disebut kota juga tanggung. Hehe.. Maklumlah, Bumiayu dikenal sebagai kota transit. Bumiayu merupakan kota kecil dengan harga properti yang super gila. Sebuah rumah sederhana di tepi jalan bisa terjual dengan nominal 1 milyar, hanya bisa dijumpai di sini. Ya, meski kota kecil namun Bumiayu memiliki juragan-juragan yang super kaya.

Sayangnya, para dokter dari Bumiayu memilih mengabdi di luar kota, dan dokter spesialis pun jarang dijumpai. Kalau ingin ke dokter spesialis anak, hanya dijumpai di hari selasa hingga jum’at. Berhubung mereka praktek di sore hari, jangan tanya antrian yang harus dihadapi. Sekali masuk terkadang hingga tiga pasien sekaligus kalau sedang ramai. Karena itu, kami lebih memilih membawa anak-anak periksa ke luar kota dengan menempuh perjalanan sekitar 1 jam. Tentu saja kalau sakitnya tidak membutuhkan penanganan cepat. Termasuk Ashima yang kali ini mengalami sakit gigi.

Ashima selalu rajin sikat gigi, lho. Yah.. meski lebih sering harus dengan paksaan karena anaknya malas sekali kalau disuruh menginjakkan kaki ke kamar mandi. Hehe..

Nah, berhubung dia suka sekali makan coklat dan permen, meski jumlahnya sudah sangat kami batasi, akhirnya bolonglah si gigi geraham atas. Awalnya dia suka sikat gigi sendiri dan saya biarkan saja daripada dia enggan sikat gigi. Tapi oh tapi, ternyata sikat giginya mungkin kurang bersih. Jadi selanjutnya saya selalu menyikat kembali giginya meski dia sudah sikat gigi sendiri. Saya tidak mau kecolongan lagi.

Saat sakit gigi kemarin, Ashima mogok makan nasi dan menangis-nangis. Katanya giginya sakit untuk mengunyah. Disuruh pindah mengunyah di sebelah kiri katanya, “nggak bisa, Bu.” Lho, tapi kok malah minta makan oreo softcake? Dan habis banyak? Aduh, ini ibunya tidak benar juga. Sakit gigi kok dibiarin makan softcake coklat. Yah, daripada dia mogok makan sama sekali? Lagipula dia sedang sangat picky eater. Biarlah dilonggarkan sedikit, pikir saya saat itu.
Sekitar dua hari saya menunggu, karena suami sedang sangat sibuk. Akhirnya sore hari kedua Ashima sakit gigi, kami bisa mengantarkannya ke klinik UMP. Alhamdulillah, begitu datang langsung diperiksa tanpa antri sama sekali. Mungkin karena cuaca sedang hujan. Daripada ke dokter gigi langganan suami yang harus antri sampai jam 10 malam.

Ashima memasuki ruang praktik dokter tanpa rasa takut sama sekali. Gagah berani dia duduk di kursi periksa berhadapan dengan alat-alat yang ibunya saja sering merasa ‘keder’. Semua pertanyaan dokter dijawabnya dengan lantang. Usia berapa? “Tiga setengah tahun.” Sekolah atau belum? “Belum.” Mana yang sakit? “Gigi kiri atas.” Rajin sikat gigi tidak? “Ya.” Suka makan permen, ya? “Coklat.”

Dalam hati saya merasa bangga dan merasa harus terus tersenyum saat dengan patuh Ashima mengikuti setiap instruksi dokter. Semula dokter minta Ashima saya pangku saja, tapi dengan berani dia menurut saat saya dudukkan di kursi sendirian. Tentu saja saya setia mendampingi di sebelahnya, karena meja tempat gelas kumur terlalu tinggi untuk Ashima.

Sekitar dua puluh menit gigi ashima diobati dan plak gigi depan dibersihkan. Dokter berkata bahwa gigi susu berlubang yang bengkak tidak boleh ditambal atau dicabut. Gigi susu tidak boleh dicabut karena akan merusak struktur gigi yang akan tumbuh.

Menurut dokter, secara teori gigi susu akan mulai tanggal di usia lima atau enam tahun. Anak yang giginya tanggal di usia lima tahun menandakan asupan kalsiumnya baik. Gigi susu akan tanggal secara berurutan mulai gigi bagian depan. Biarkan gigi susu tanggal secara alami, meski gigi anak ‘geripis’ kehitaman itu adalah hal yang wajar.

Gigi susu berlubang menjadi bengkak karena sirkulasi udara di dalamnya tidak lancar dan terkontaminasi sisa makanan yang menyelip di gigi. Solusinya, Ashima harus rajin membersihkan giginya yang berlubang agar tidak tersumbat kotoran. Berhubung Ashima susah sikat gigi, saya sering mengajaknya sikat gigi bersama. Setiap ganti sikat gigi saya juga membiarkannya memilih sendiri sikat dan pasta gigi baru yang dia suka.

Dokter berpesan pada kami untuk lebih memperhatikan gigi Ashima agar saat mulai ada lubang kecil harus langsung ditambal. Kalau sudah bengkak, gigi tidak bisa ditambal karena justru akan bertambah sakit. Memang kami terlalu khawatir kalau terlalu dini ke dokter gigi, dia akan trauma. Melihat betapa ngerinya peralatan tempur dokter gigi. Alhamdulillah, kekhawatiran kami sama sekali tidak terbukti. Apalagi mencari dokter gigi anak sangat sulit.

Syafakillah, Mba Ashima sayang… Semoga lekas sembuh, ya!

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s