Gaduh Pendidikan Ala Emak

image

Sudah lama bersosial media, saya banyak menyimak kegalauan para orang tua tentang pendidikan anak-anak mereka. Ada yang bingung di usia berapa anak-anak mereka harus mulai bersekolah. Ada pula yang mencerca pola pendidikan di tanah air yang dinilai tidak ramah dengan psikologis anak. Akhirnya, homeschooling yang dulunya tidak banyak yang menggandrungi, kini mulai tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Seminar-seminar positive parenting pun semakin banyak penggemarnya dan marak di berbagai kota.

Berbagai artikel turut pula menghiasi media tentang pro kontra pendidikan kita yang semakin menambah kegalauan para orang tua. Bahkan akhir-akhir ini muncul berita tentang seorang anak enam tahun yang masuk rumah sakit jiwa karena depresi belajar. Tapi sangatlah jarang anak kecil menjalani rawat inap karena depresi belajar, umumnya psikiater akan selalu melibatkan orang tua dalam terapinya. Memang ada, namun hanya kasus-kasus tertentu saja.

Sebenarnya apa sih, kita, para orang tua, yang membuat benak kita galau? Tiba-tiba sejenak pikiran saya melayang pada saat sidang skripsi. Waktu itu tema skripsi saya tentang hubungan persepsi diri terhadap kemampuan para lansia untuk meraih masa tua yang bahagia, atau istilah kerennya successfull aging. Jangan ditanya ya, sebagian besar isi dan teori saya sudah lupa. Hehe.. maklumlah, sudah lima tahun berlalu hampir tak pernah meregenerasi ilmu yang di dapat. Tapi saya ingat dengan jelas saat salah satu dosen penguji saya membabat habis angka-angka statistik yang saya peroleh. Beliau dengan tajamnya mencerca landasan teori yang saya bawakan. Beliau menyindir tajam, bagaimana bisa penelitian yang dilakukan di Indonesia, khususnya di Jogja, bisa digeneralisir dengan teori-teori dari Barat?

Patut diketahui, saya saat itu pontang-panting mencari buku referensi yang semuanya berbahasa Inggris. Bahkan jurnal-jurnal pun semuanya saya unduh dari website luar termasuk APA (Asosiasi Psikolog Amerika). Sangat sedikit penelitian dari dalam negeri mengenai topik skripsi saya saat itu. Bahkan kebanyakan peneliti di tanah air yang cukup menyerempet tema saya pun memboyong teori dari Barat. Jadi, apakah salah saya seorang? Dan, menurut bapak dosen memang saya salah. Benar, beberapa teori dari Barat bisa digunakan. Tapi dalam ranah Psikologi, setiap individu adalah unik. Keunikan tersebut sangat dipengaruhi oleh sifat bawaan serta paparan lingkungan. Lingkungan di sini meliputi keluarga, teman dan masyarakat. Adat serta kebudayaan juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan dan sikap individu. Bagaimana bisa saya membawa semua teori Barat yang saya temui tanpa melihat dan menimbang perbedaan nilai dan karakteristik antara lansia di Indonesia dan di Barat? Hmm… tertohok saya mendengarnya setelah sebelumnya sempat dengan kepercayaan diri tinggi menunjukkan buku referensi yang sengaja saya bawa di hadapan beliau. Alhamdulillah, meski demikian beliau sangat menghargai upaya saya dan berkata bahwa di luar konteks tersebut skripsi saya patut mendapatkan nilai bagus. Hehe..

Kembali pada fenomena saat ini, saya sendiri yang saat ini belum memiliki anak usia sekolah masih santai-santai saja. Ashima masih berusia menjelang empat tahun. Memang, waktu itu kegalauan sempat menyergap juga saat para orang tua beramai-ramai memposting pelajaran-pelajaran yang diajarkan di PAUD dan TK. Teringat saat saya masih TK dulu, bisa menghapal huruf A-Z sudah bisa disebut pintar. Kelas 1 SD kami baru belajar menulis sekaligus membaca. Tapi melihat tuntutan anak-anak jaman sekarang, sepertinya kalau masih mengikuti pola tempo dulu sudah tentu dibilang jadul binti kudet. Ah, tapi saya termasuk ibu yang tidak mau dipaksa oleh kondisi. Saya memang tidak memasukkan Ashima ke sekolah formal hingga saat ini. Tapi bukan berarti saya menganut teori yang menyatakan bahwa anak usia balita tidak boleh diajarkan calistung dan membaca huruf hijaiyyah. Ashima sendiri sudah saya ajarkan untuk menghafal identitas seperti nama lengkapnya, usia, nama ayah dan ibunya, nama adiknya, nama kakek-neneknya serta alamat tempat tinggalnya. Begitu sudah bisa berbicara satu dua patah kata saya mengajarkannya menghafal Al-fatihah. Usia dua tahun saya membelikannya berbagai macam buku bahkan selain membacakannya, saya juga mengajarkannya huruf-huruf alfabet. Usia tiga tahun saya mengenalkannya pada Iqra’. Hingga saat ini saya sudah mengajarkannya Al-Fatihah, An-Naas, Al-Falaq, Al-Ikhlash dan Ayat Kursi. Doa-doa juga terus saya ajarkan mulai doa hendak tidur, bangun tidur, mau makan, setelah makan, masuk kamar mandi, keluar kamar mandi, doa jika lupa membaca basmallah sebelum makan, memakai baju, keluar rumah, doa untuk orang tua, doa untuk diri sendiri dan doa saat hujan. Kosakata bahasa Arab pun saya ajarkan meski baru anggota tubuh dan hal-hal sederhana di sekitarnya. Semua itu tidak saya targetkan. Karena toh hingga saat ini saya belum mengajarkannya untuk benar-benar membaca. Saya masih mengikuti apa yang dia suka, mengajarkan semuanya dengan cara yang dia mau. Belajar itu menyenangkan dan merupakan kebutuhan. Itu saja yang ingin saya tekankan pada anak-anak. Hidup membutuhkan ilmu, bahkan sedari kecil anak-anak juga perlu ilmu. Bukan untuk sekedar gaya-gayaan dan berbangga di hadapan orang lain. Namun agar semakin dini mereka belajar, semakin banyak ilmu yang mereka serap, semakin panjang waktu mereka untuk meraup sebanyak mungkin ilmu. Tentu saja tanpa paksaan. Tentu saja diiringi dengan hal-hal yang menyenangkan dan memacu semangat mereka.

Saya sengaja belum memasukkannya ke sekolah karena memang interaksi sosial dengan teman sebaya bisa didapatkannya di rumah. Sedangkan sekolah di sekitar rumah kami masih “calistung oriented”. Saya bukan penganut teori “tidak boleh mengajarkan calistung sebelum usia tujuh tahun” tapi saya bukan pula orang tua yang dengan ekstrim membebankan berbagai ilmu tanpa melihat kesenangan mereka di usia dini. Saya dulu pernah menjadi guru TK dan tahu benar betapa bosannya anak-anak duduk terpekur di kelas meski dengan aneka kegiatan berbeda-beda. Saya dulu belajar bagaimana mengajarkan anak-anak yang tanpa minat belajar menjadi penuh semangat belajar karena mendapat target dari sekolah. Bagi saya, ilmu dunia bisa dikejar, tapi mengajarkan anak mencintai ilmu agama termasuk mampu membaca Al-Qur’an sejak dini adalah target pribadi sebagai orang tua. Mendidik anak-anak menjadi pribadi yang cerdas bukan hal yang sulit, tapi mendidik anak-anak menjadi pribadi berakhlak mulia dan mandiri adalah hal yang membutuhkan upaya yang lebih besar. Oleh karena itu, mari kita kenali karakter anak kita dalam memulai pengajaran agar mendapatkan hasil yang maksimal. Setiap anak adalah unik, satu teori tidak bisa kita generalisasi kepada seluruh anak di muka bumi ini. Begitu pula dengan segudang teori parenting yang kini mengemuka, hendaklah kita teliti terlebih dahulu apakah teori tersebut cocok untuk anak kita atau justru sebaliknya. Jangan lupa untuk berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan dalam mendidik anak-anak kita menjadi anak yang shalih. Sejauh apa pun kita berusaha keras, namun tanpa pertolongan Allah niscaya kita tidak akan berhasil mendidik anak-anak kita.

Iklan

5 pemikiran pada “Gaduh Pendidikan Ala Emak

    • Terima kasih sarannya mba rini. Untuk semua materi yang saya berikan atas dasar permintaan anak. Dan insyaallah tidak berat sama sekali karena tidak seperti sekolah. Semua menggunakan alat dan dengan metode bermain. Bahkan anal saya lebih banyak bermain outdoor lho, di samping dia juga belajar. So many ways to learn, isn’t it? Salam kenal ^^

  1. Selama anak menikmati apa yang diajarkan, dan kita juga tidak terkesan memaksa. Masa-masa belajar mereka akan menyenangkan… Seperti itu juga yang saya terapkan ke anak-anak. Nice sharing mbak. Main ke blogku yuk

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s