Melepas Belenggu Media Sosial

11015930_780596452031523_1204070376_n

Pada dasarnya saya adalah ibu-ibu yang hobi nulis. Sebelum blog booming, saya sudah belajar cara membuat blog privat kepada teman. Ya.. meski judulnya sangat personal se-personal isinya, namun melalui blog itulah saya menjalin silaturrahiim dengan sahabat-sahabat serta saudara saya, termasuk yang saat itu berada di luar negeri. Selain blog, email juga menjadi salah satu “kendaraan” untuk hangout maya bersama teman-teman. Tapi sepertinya teknologi tidak puas jika kita hanya stagnan di email dan blog. Email dan blog dirasa kurang interaktif, jadi saat itu mulai bermunculan media sosial semacam Friendster. Sudah lama sekali saya tidak login sampai saya lupa seperti apa tampilan situs sosial media tersebut. Saat kuliah, jalinan pertemanan saya di Friendster hanya meliputi mereka yang saya kenal personal yaitu teman SMU dan kuliah. Fitur-fiturnya saat itu pun terbatas. Mungkin saat ini pihak Friendster sudah banyak berbenah di sana-sini.

Friendster

Seiring waktu, pada awal Facebook booming, saya tidak terlalu antusias menyambutnya. Sampai suatu saat, saya diinvite teman SMU saya untuk menggunakan Facebook, baru saya mulai menggunakannya. Ternyata saat itu Facebook jauh lebih atraktif dibandingkan Friendster dan saya pun semakin “terjerumus” di sana seperti anak kecil yang sibuk mengeksplorasi mainan barunya. Saya sibuk berstatus, mengomentari status teman, membuat catatan dan berganti-ganti foto profil (meskipun itu hasil comot dari google.com). Senang rasanya kalau ada teman yang mengomentari status bahkan sampai menulis pesan via inbox. Saya yang saat itu tinggal di kota baru setelah menikah, tanpa teman, seolah kehilangan komunitas. Facebook sudah mewarnai hari-hari saya, menghibur kesepian saat suami sedang sibuk mencari nafkah. Sampai suatu saat beberapa teman memilih deactive akun mereka di media sosial satu ini. Mereka yang pada dasarnya sangat menghargai waktu dan tidak suka disibukkan dengan sesuatu yang kurang bermanfaat merasa bahwa Facebook sudah membelenggu aktivitas mereka di dunia nyata. Saya tidak mau mengakui, namun saya merasa itu benar adanya. Saya salut, sungguh hebat mereka yang sanggup berpisah dengan Facebook.

11006154_780497708708064_328665444_n

Halaman login Facebook

Sebelum memiliki akun di Facebook, saat pertama membuka browser, yang pertama saya tuju adalah mencari referensi atau membaca situs-situs berita. Tapi saat ini, begitu internet menyala, yang dibuka pertama kali pasti halaman Facebook. Entah pesona apa yang ada di sana, atau insting wanita saya begitu kuat bekerja sehingga selalu ingin tahu, apa kiranya yang ditulis teman-teman saya hari ini. Hasilnya? Bukan referensi yang didapat, atau semakin update dengan berita, tapi justru saya semakin update dengan isi hati kawan-kawan saya di Facebook. Apa yang dirasakan teman-teman saya bukannya tidak penting, namun bagaimana jika yang termaktub di sana sebagian besar hanya berisi status yang kurang bermanfaat seperti merasa kesal dengan seseorang, atau mengeluhkan beberapa hal yang tidak memuaskan dalam hidupnya? Bukannya suntikan energi yang didapat, namun justru mood menjadi kurang bersemangat.

Teman yang mengupdate status menarik juga bisa membuat runyam karena alih-alih menulis status, namun justru membuat saya penasaran ingin mengetahui jalan cerita peristiwa yang dialami. Dan itu bagi saya, jelas membuang-buang waktu luang saya yang sungguh sangat terbatas. Ibu rumah tangga seperti saya memiliki begitu banyak urusan domestik yang harus segera dituntaskan sebelum anak-anak terbangun dan melakukan intervensi. Namun untuk memutuskan “bercerai” dengan Facebook pun saya tidak bisa karena dari sana saya belajar menulis, dan mendapatkan info lomba yang seringkali tidak ada di luar. Memutuskan pertemanan semua orang sehingga saya tidak terganggu dengan status-status yang berseliweran di beranda? Tidak, itu bukan solusi. Oke, alasannya sebenarnya karena saya masih sangat butuh menjaga persahabatan dengan teman-teman. Saya sangat sibuk menghabiskan hari-hari dengan anak-anak sehingga berbincang sesaat dengan teman itu merupakan salah satu bentuk me-time bagi saya. Belum lagi saya memiliki bisnis online yang 90% orderan berasal dari Facebook. Itu salah satu sisi positif Facebook bagi saya, menginsprasi untuk membangun bisnis online.

11012226_780498185374683_736319747_n

Salah satu bisnis online saya di Facebook

Akhirnya untuk meminimalisir waktu yang terbuang sia-sia di Facebook, saya memutuskan hanya akan membuka Facebook melalui browser bawaan HP. Membuka Facebook dari PC atau notebook akan membuat kita menelusuri status-status sampai ke bawah tanpa ada putusnya, berbeda dengan membuka melalui HP. Status-status yang saya baca selintas pun hanya halaman pertama pada browser Blackberry dan status-status teratas pada browser Android. Status yang menarik saya baca, selainnya saya abaikan. Saya mengurangi berkomentar kecuali pada status-status yang sangat ingin saya komentari agar notifikasi yang masuk tidak terlalu banyak. Sebisa mungkin begitu masuk Facebook selain sesekali menulis status, mengecek notifikasi atau inbox, saya langsung menuju grup-grup untuk update informasi terbaru atau berpromosi. Tapi grup pun bisa menyibukkan lho, jadi saya pun selektif memilih thread yang memiliki muatan informasi saja yang akan saya buka lebih lanjut. Yang paling penting, bergabunglah dengan grup-grup yang memberikan banyak informasi bermanfaat, bukan grup-grup curhatan tidak jelas khas emak-emak.

11023237_780497978708037_741448009_n

Beberapa grup yang saya ikuti di Facebook

Lalu bagaimana dengan Twitter? Berarti Twitter aman ya? Kan hanya berisi Tweet singkat aja, tidak begitu menarik kan? Dulu saya pikir juga begitu. Tapi bagi blogger pemula seperti saya yang juga suka ikut lomba-lomba menulis meski sangat jarang menang, Twitter justru lebih menggoda. Twitter banyak akun-akun dari brand ternama yang sering mengadakan lomba, kuis dan blogger yang mengadakan giveaway. Dan saya pernah menang kuis sekali berhadiah sebuah buku MPASI (meski sampai saat ini belum sampai juga bukunya), hanya dengan menulis tweet beberapa baris. Dan itu candu! Sungguh. Setelah itu saya masih berburu kuis-kuis yang berhadiah buku maupun uang tunai yang banyak bertebaran di twitter, meskin saya insyaf untuk saat ini. Selain itu tentu saja, saya lebih banyak menggunakan Twitter untuk update blog saja atau sebagai syarat lomba menulis yang harus mencantumkan link ke Twitter. Jadi kalau tidak ada kepentingan atau notifikasi masuk, saya jarang membuka Twitter. Pintarnya Facebook, apapun yang berhubungan dengan kita termasuk friendlist kita melakukan posting di grup yang kita ikuti, juga akan masuk ke notifikasi. Jadi otomatis saya masih lebih banyak membuka Facebook daripada Twitter. Seperti saat ini, saya hendak menyelesaikan draft tulisan saya, namun malah terjerumus menulis di blog. Jadi, apakah nge-Blog itu juga candu? Sometime, yes ^^

Lalu, apa tips sahabat 1LangitBiru untuk membuat berselancar di sosial media menjadi efektif? Maklum ya, akun sosial media lain saya tidak begitu aktif atau bahkan tidak punya.

Iklan

6 pemikiran pada “Melepas Belenggu Media Sosial

  1. Entahlah, dari 2008 sampai sekarang koq ya nggak bosen2 ya saya sama facebook hihiiii… candunya dek Mark ampuh banget :) Untungnya saya juga dapat rejeki banyak via fb, ya teman, ya jualan, jadi impas lah hehheheee…

  2. Aku mah baru mulai browsing itu malam mba… krn pagi udh pasti harus kerja, dan biasa aku pulang jam 8 malam keatas.. pokoknya 2 jam sampe di rumah itu biasanya browsing…kalo anak blm tidur, ya sambil main ama dia sesekali… tp keseringan jam segitu dia udh tidur sih, jd aku lbh konsen baca message ato notif2 yg masuk :D…Kalo utk blog sih, biasanya sabtu ato minggu saat cuti… kalo ga diatur gitu, ga bakal bisa buka medsos2 yg aku punya

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s