Pentingkah Doktrin Sejak Dini?

pic

Si sulung kami, sudah menginjak usia empat tahun lebih. Tipikal anak-anak kami bukanlah anak rumahan yang bisa duduk tenang bermain di dalam rumah. Kedua putri kami sudah senang menjelajah dan bereksplorasi dengan dunia luar (rumah) sejak bayi. Meski mengikuti mereka membutuhnya energi lebih dan cukup menyita waktu, tampak benar aura kegembiraan dan keceriaan saat mereka bermain di luar rumah. Membiarkan mereka bermain pasir, tanah, dedaunan, air dan menghirup segarnya udara menimbulkan kebahagiaan tersendiri. Memang, hal itu membuat saya harus melepaskan urusan domestik yang biasanya bisa dikerjakan bersamaan dengan mengasuh anak. Tapi tak apalah, toh eksplorasi mereka dengan dunia luar sebanding dengan berbagai kreatifitas yang mereka dapatkan secara alami.

image

Berkreasi dengan pasir

Awalnya, saya membuat rangkaian kegiatan untuk si sulung. Namun, dia anak yang cenderung think out of the box bahkan bisa dibilang anti mainstream. Saya harus berpikir keras membuat kegiatan yang membuatnya tidak bosan. Kegiatan model crafting dia tak begitu suka, justru yang menikmati proses membuat prakarya adalah ibunya. Lalu kesukaannya apa? Kegiatan klasik semacam menulis, menggunting, menggambar dan menghitung dengan.. buku. Yup, dia sangat menikmati diajak menghitung dengan media gambar di buku. Selain itu, kesukaannya yang lain adalah: berlarian di luar rumah atau bermain air.

Aktivitas di luar rumah, seringkali membuat saya khawatir karena jalanan sekitar rumah kami sangat ramai dengan kendaraan bermotor (meski bukan jalan raya). Tidak jarang, banyak orang tidak dikenal lewat dan menyapa anak-anak. Sedangkan saya masih harus sibuk mengawasi adiknya yang masih berusia 21 bulan, yang sedang gemar-gemarnya memanjat dan berlarian. Kondisi inilah yang memaksa saya harus membuat si sulung bisa diandalkan untuk lebih mandiri. Apalagi jika ada teman mainnya yang datang ke rumah, bisa-bisa dia akan ikut lari mengikuti temannya kalau tidak diberikan peringatan sejak dini.

Anak-anak di sekitar kami biasa dilepaskan oleh orang tua mereka. Kadang saya mungkin dianggap lebay alias berlebihan dalam mengasuh anak-anak. Tapi saya yang sering menyaksikan, bagaimana anak-anak sekecil itu berlarian di jalan depan rumah yang ramai lalu lalang sepeda motor justru merasa ngeri sendiri. Akhirnya, saya terpaksa harus memberi aturan sedini mungkin kepada anak-anak.

Apakah aturan itu selalu sama dengan doktrin? Apakah sepenting itu memberikan aturan kepada anak-anak usia pra sekolah? Apakah itu tidak akan mengekang kreatifitas dan kebebasan mereka? Ya, terkadang aturan bisa menjadi doktrin bagi anak. Tapi sepanjang itu dianggap penting dan baik untuk pendidikan mereka, saya memilih mendoktrin anak-anak. Karena anak usia pra sekolah belum bisa secara jelas membedakan mana yang baik atau buruk untuk mereka. Bahkan lebih ekstrim lagi, mereka masih memiliki rasa penasaran yang tinggi sehingga sering melakukan coba-coba yang tidak jarang berujung bahaya. Bukan sengaja, tapi mereka hanya penasaran. Atau mungkin tidak tahu. Benarkah? Benar, terutama jika orang tua takut memberikan aturan kepada mereka.

Kuncinya, berikan aturan jika benar-benar perlu. Tekankan secara terus-menerus sehingga aturan tersebut lambat laun akan menjadi perilaku keseharian mereka. Jika tidak penting, tidak perlu berikan aturan dan berikan mereka kelonggaran. Bagi saya, batasan itu penting untuk memastikan keselamatan mereka. Memberikan mereka aturan yang penting-penting saja dan tidak terlalu banyak juga tidak akan membuat mereka sampai terkekang bukan? Jika itu menyangkut kesenangan, usia pra sekolah sudah bisa diajak bernegosiasi, lho. Bahkan, argumentasi mereka bisa sangat menakjubkan (dan cukup membuat pusing kepala ^^).

Ada beberapa aturan yang sangat kami tekankan kepada anak-anak. Tidak boleh pergi ke luar rumah tanpa seijin orang tua. Bukan melatih anak menjadi penakut, namun maraknya kasus kejahatan kepada anak membuat kami lebih melakukan prevensi kepada anak-anak demi keselamatan mereka. Menginjak usianya yang ke-4, saya mengajaknya memakai kerudung saat keluar rumah, karena itu saya pilihkan bahan yang nyaman untuk dipakai anak-anak. Bahkan saya rela mengikuti ke mana anak saya pergi bermain dengan temannya, sehingga saya bisa selalu mengawasi apa yang mereka mainkan, dengan siapa dia bermain, ke mana dia bermain, atau siapa orang dewasa yang ada saat dia bermain.

Tidak boleh menerima pemberian orang asing, tidak mau diajak orang asing, dan underwear rule sudah saya ajarkan sejak dini kepada si sulung. Mengajarkan batasan aurat sejak kecil sangat penting. Selain bisa mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak, juga mengajarkan mereka norma kesopanan dan kesusilaan. Cara duduk yang sopan, selalu memakai celana panjang dan kerudung juga merupakan salah satu cara mengajarkan penjagaan diri kepada anak-anak. Mengajarkan kepada mereka untuk lebih banyak bermain dengan rekan sesama jenis, dan klasifikasi gender laki-laki dan perempuan.

Aturan lain yang sering memicu kontroversi adalah: jangan dekat-dekat orang merokok. Seringnya saya menjauhkan mereka dari orang yang merokok membuat si sulung penasaran, kenapa sih, harus menghindari orang merokok? Tidak jarang saya harus menahan ekspresi harap-harap cemas saat si kecil berteriak keras-keras melarang adik atau temannya, “Ke sini! Jangan dekat-dekat sama rokok, itu beracun!” dan dilakukan di dekat si perokok. Reaksinya? Ada yang tersenyum geli, tersenyum kecut, terdiam, hingga cuek saja.

Itulah beberapa penggalan aturan dan doktrin esensial yang kami terapkan dalam pendidikan anak-anak. Jadi, apa saja aturan para sahabat dalam mendidik anak? Share, yuk!

Iklan

6 pemikiran pada “Pentingkah Doktrin Sejak Dini?

  1. sama mba. doktrin untuk toddler yang aku lakukan bukan buat mengekang kreativitasnya, tapi sebagai bentuk tanggung jawab agar si kecil nggak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya sendiri dan/atau orang lain. dia juga bisa belajar untuk mandiri.

    salam kenal ; )

    • Betul mba, toddler meski sudah cenderung mandiri tapi masih sangat butuh adanya pengawasan dari orang dewasa dan tidak jarang aruran yang jelas, terutama yang bisa menyerempet bahaya ^^

  2. Menurut saya, aturan juga perlu Mak. Aturan saya saat bermain, boleh main apa saja, asal tidak berbahaya dan dikembalikan lagi ke tempatnya. Aturan yang mau saya terapkan lagi, makan duduk di kursi dan tidak boleh nonton TV. Tapi ya namanya anak-anak, harus sering diingatkan :)

  3. ah, aturan ngelarang anak spy ga keluar tanpa izin mnrtku mah lumrah mba… kitakan ga mau ya anak2 itu diculik ato tertabrak.. akupun bgitu…tp biasanya aku tekanin ke babysitternya… Karena akukan ama suami kerja dan kita biasa pulang malam . Sejauh ini babysitter ankku bisa diandelin dan dipercaya. yg pasti, aku jg ngelarang anakku utk jajan snack2 seperti chiki gitu, dan permen.. makanya ampe skr fylly ga suka ama permen :D

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s