Puasa Pertama Si Kecil

1236894_10151826478288886_1922131681_n

Ashima Ramadhan tahun ini tepat memasuki usia 4,5 tahun. Semula yang terpikirkan dalam benak saya hanyalah mengajaknya mengenal dan merasakan nuansa Ramadhan. Pertama kali saya menanyakan padanya, “mau ikut puasa Ramadhan besok?” Alhamdulillaah dengan antusias dia menyambut ajakan saya. Bahkan beberapa minggu sebelumnya dia selalu menanyakan, kapan kami akan berpuasa. Saya berharap, mengajarkannya puasa tidak akan menemui hambatan berarti. Selain itu, Ashima memang tipikal picky eater sehingga “mungkin” mudah bagi dia untuk tidak makan dan minum selama siang hari. Oh iya, selain itu dia juga susah sekali minum air putih. Tapi apakah memang akan semudah dan selancar itu?

Ramadhan pun tiba. Hari pertama membangunkannya sahur sangat mudah bahkan dia sangat bersemangat. Padahal sehari sebelumnya kami baru pulang dari Magelang, sampai di rumah pun sudah pukul 9 malam. Meski dia tidur pukul setengah satu dini hari, tapi dia langsung terbangun saat saya ingatkan sahur pukul 4 pagi. Tapi.. hambatan justru dimulai saat pukul 9 tiba. Saat dia bermain di rumah temannya, ternyata ibu temannya itu menyuguhkannya snack! Akhirnya, janji puasa hingga adzan dhuhur tinggalah wacana. Bukan salah siapa-siapa sebenarnya, toh Ashima juga baru latihan puasa. Tapi… kecewa juga rasanya saat seharusnya si kecil kuat berpuasa namun tergoda gara-gara suguhan di tempat lain. Dan hari kedua pun kejadian ini terulang lagi. Akhirnya saya melarangnya untuk main ke rumah temannya selama Ramadhan berlangsung. Saya menyuruhnya membawa temannya main ke rumah atau kalau temannya tidak mau ya main saja sendiri. Memang usianya saat ini sedang getol-getolnya membangun kontak sosial melalui peer group-nya. Namun saya selalu menekankan untuk jangan tergantung pada teman-temannya karena dia bisa berdiri sendiri. Saya juga membekalinya dengan aturan-aturan yang harus dia pegang teguh selama bermain dengan teman-temannya sebagai prinsip dasar pengasuhan kami. Semisal, dia bermain ke rumah temannya yang sudah berusia SD kelas 2 namun tidak berpuasa. Saat ditawarkan makan, saya mengajarinya untuk menolak dan mengatakan bahwa dia puasa. Awalnya memang dia memberontak dan berulang kali bertanya, “kenapa, Bu?” atau “tapi aku nggak mau begitu!” Namun saat saya menenangkannya dengan memeluk dan menjelaskan bahwa Allah Ta’ala sayang pada anak shalihah. Kalau mba Ashima mau jadi anak shalihah mba Ashima harus rajin shalat dan belajar berpuasa juga mengaji. Kalau Allah sayang, ayah dan ibu juga semakin sayang jadi mba Ashima insyaallaah bisa masuk surga. Saya memang banyak sekali menceritakan tentang siapa itu Allah Ta’ala, apa saja yang disukai Allah dan apa yang akan didapatkannya jika Allah menyayanginya. Alhamdulillaah, dia pun mudah menerimanya.

Soal godaan lapar dan haus, tentunya sudah lumrah bagi orang berpuasa, terlebih anak-anak. Bahkan, bagi Ashima semua sayuran mentah yang akan dimasak pun hampir dilahapnya. Hihi.. Jadi untuk mengalihkan rasa lapar dan hausnya, saya banyak memberikannya aktiftas indoor dan banyak menyuruhnya tidur agar tidak lemas. Saat sahur, saya selalu mengusahakan minimal dia makan sepiring nasi dan segelas susu, ditambah camilan serta air putih. Menjauhkan anak-anak dari aktifitas fisik memang terkadang sulit dilakukan karena ada di antara mereka yang memiliki tipe outdoor seperti anak-anak kami. Jadi butuh effort serta kreatifitas orang tua agar mereka tidak bosan di dalam rumah. Kalau saya biasanya selain mengajak mereka bermain balok, cheff-restaurant (karena mereka perempuan), juga bermain tenda-tendaan di dalam kamar (tidak jarang kami hanya menggunakan sebuah payung untuk mendirikan tenda, atau tali yang diikat ke sekeliling kamar kemudian diberi kain sebagai atap serta pintunya). Bermain seluncuran di dalam rumah juga cukup membuat mereka riang gembira (kami menggunakan tutup box container yang besar sebagai papan seluncur). Bermain plastisin juga salah satu ide yang tidak pernah bosan kami lakukan. Resep plastisin ini pernah saya tulis di blog lama saya catatankecil-sikecil yang sudah lama saya abaikan karena lupa password jadi saya pindah ke lain platform (jangan ditiru ya. Hehe..)

Mengiming-imingi hadiah jika si kecil tuntas berpuasa selama waktu yang ditargetkan juga sangat dianjurkan karena dapat mendongkrak motivasinya. Saya dan suami selain menjanjikan Ashima hadiah harian, juga menjanjikan Ashima doorprize di akhir bulan jika puasanya penuh 30 hari. Menu buka puasa dan sahur yang disukai si kecil juga akan membuatnya bersemangat sahur dan berpuasa. Bangunkan si kecil lebih dini untuk sahur agar dia bisa makan snack selain karbohidrat berupa nasi.

Menerangkan hikmah puasa bagi si kecil juga memiliki manfaat besar. Saat dia mengeluh lapar, saya mengingatkannya bahwa rasa itu tidak seberapa dibandingkan rasa lapar para pengungsi Rohignya dan berbagai saudaranya di belahan dunia lain yang sedang berperang. Hal itu insyaallah akan semakin memupuk rasa syukurnya dan menumbuhkan empati. Perkembangan positif lainnya yang tampak pada diri Ashima adalah pengendalian emosinya yang berubah secara signifikan. Selama berpuasa ini dia tidak mudah ngambek, tidak gampang marah dan lebih mudah diberi nasihat. Jauh berbeda dengan sebelum puasa yang meledak-ledak emosinya. Alhamdulillaahiladzi bini’matihi tathimmusshaalihaat… Baarakallaahu fiik, yaa bunayya. Semoga ayah dan ibu diberikan Allah Ta’ala kekuatan serta kesabaran berlimpah untuk membimbing kalian.

Iklan

2 pemikiran pada “Puasa Pertama Si Kecil

  1. Ponakanku juga puasa pertama tahun ini (yang full, bukan setengah hari). Kata kakaknya si ade jam 2 sudah manggil mamanya melulu. Tapi gak pernah ngeluh juga sih dia, apalagi sampe minta buka. Mudah2an anak2 ini kuat yah puasanya..

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s