Ber-hidroponik: Solusi Berkebun di Lahan Sempit

image

Dulu… sekali, sewaktu masih duduk di bangku SD, saya memiliki taman kecil di depan rumah. Macam-macam isinya. Ada mawar, kaktus, lidah buaya, dan aneka bunga lain. Senang sekali. Semakin dewasa, kesibukan mengalahkan kesenangan yang satu ini. Setelah menikah, selain disibukkan urusan domestik, lahan pun hampir tak punya. Untuk bertanam menggunakan pot saya pun masih tak PD. Sampai saya bertemu dengan para pecinta hidroponik.

Melalui grup hidroponik “bebeha” itulah saya meyakinkan diri untuk memulai menanam sayuran untuk konsumsi sendiri. Mengingat, banyaknya tangan usil yang menambah zat ini itu di sana sini termasuk pada sayuran komersil agar awet dan menarik pembeli. Mengingat, saya yang sangat malas ke pasar. Mengingat, saya yang sering harus kecewa saat menunggu tukang sayur datang, eh.. ternyata kehabisan. Mengingat, sepertinya hidroponik itu tidak begitu sulit. Dan.. kenyataannya? Hidroponik itu tidak mudah. Tapi juga tidak sulit, jadi jangan berkecil hati bagi kita para pemula amatiran ini, ya.

Nah, langkah pertama yang kita butuhkan adalah menyiapkan alatnya, yaitu tempat menanam, media tanam, benih, tempat menyemal dan nutrisi. Saya sendiri saat awal bertanam hidroponik sudah menyemai biji paprika yang sudah sprout dan berdaun dua dengan media tanam tanah. Dari belasan biji yang tumbuh, hanya satu pohon saja yang hingga saat ini masih bertahan hidup. Penyebabnya karena saya terlalu buru-buru memindah tanaman ke sistem hidroponik. Padahal syarat pemindahan adalah harus sudah berdaun empat atau munculnya dua daun sejati.

Proses penyemaian hidroponik bisa menggunakan air atau langsung pada media tanam. Beberapa hidroponik-ers tidak menggunakan media tanam untuk penyemaian, khususnya untuk tanaman kangkung. Mereka merendam benih dalam wadah seperti bakul nasi plastik yang berlubang yang diletakkan di atas wadah berisi air sehingga benih terendam sebagian kecilnya.

image

Macam-macam benih

Saya sendiri awalnya menggunakan kapas basah, baru setelah itu berpindah ke rockwool. Rockwool adalah salah satu media tanam selain tanah. Rockwool dipotong dengan panjang 2 x 2 cm, kemudian dibuat lubang yang tidak terlalu dalam untuk menyemai benihnya. Rockwoll tersebut dicelupkan ke dalam air hingga basah. Benih pun siap disemai ke dalam rockwool.

image

Penyemaian dengan rockwool dan benih mulai sprout

Pengalaman saya selama ini selama menyemai benih ternyata ada beberapa di antara mereka yang gagal sprout hingga akhirnya tidak pernah tumbuh sebagai tanaman. Nah, untuk mengantisipasi ini, ada beberapa hidroponik-ers yang menggunakan cara ini untuk mengantisipasi kegagalan penyemaian: biji-biji yang hendak disemai tersebut direndam semalaman di dalam air untuk mempercepat sprout. Saya sendiri lebih memilih cara konvensional dalam penyemaian.

Ada banyak media tanam lain untuk hidroponik selain rockwool. Beberapa yang cukup dikenal di antaranya yaitu sekam bakar, cocopet yang terbuat dari sabut kelapa, spon, pasir, zeolit, hidrogel, bahkan dakron pun bisa digunakan. Hakekat media tanam sebenarnya adalah sebagai penopang tanaman untuk tanaman yang sudah berakar panjang. Akar tanaman dapat langsung dikenakan pada cairan nutrisi agar dapat memenuhi unsur hara sendiri. Namun untuk tanaman dengan akar yang belum panjang atau masih berupa tunas dibutuhkan media tanam yang mampu menyerap dan menyimpan cairan nutrisi selama akar belum bisa menjangkaunya. Pemakaian sumbu terkadang dibutuhkan selama proses penanaman, terutama untuk sistem wick untuk membantu mengangkat cairan nutrisi ke dalam media tanam.

image

Cara membuat wick sistem sederhana (credit by urbancikarang.com)

Sistem hidroponik sendiri memiliki berbagai cara, ada NTF, fertigasi dan wick. Bahkan saat ini banyak dikembangkan sistem penanaman aeroponik dan aquaponik. Untuk pemula seperti saya ini, sistem wick lebih disarankan karena hanya membutuhkan sedikit modal, bahkan bisa memanfaatkan barang-barang bekas di sekitar kita seperti botol bekas air mineral, plastik kemasan bekas bungkus minyak goreng, bahkan botol plastik bekas oli pun bisa digunakan. Masyaallaah, selain mengurangi limbah ternyata hidroponik juga menghasilkan produk sehat karena minim hama sehingga penggunaan pestisida pun bisa sama sekali dihilangkan.

image

Aplikasi penggunaan botol bekas dan sumbu flannel pada hidroponik sistem wick

Untuk sistem wick dibutuhkan bak penampung nutrisi khusus hidroponik. Nutrisi populer yang banyak digunakan oleh para hidroponik-ers adalah nutrisi khusus hidroponik yaitu AB mix.

image

Nutrisi AB mix (sumber: tokopedia.com)

Nutrisi ini berupa serbuk A dan B yang masing-masing dillarutkan ke dalam air dengan takaran tertentu sehingga menjadi larutan pekat. Kedua larutan ini kemudian dicampur dengan 1 liter air untuk menjadi nutrisi siap pakai. Rumus andalan saya untuk tanaman muda biasanya 3:3:1 atau 3 ml larutan A, 3 ml larutan B dengan 1 liter air.

image

Larutan siap pakai, larutan B dan larutan A

image

Cara membuat nutrisi hidroponik siap pakai ( credit by iraone-kebun.blogspot.com)

Untuk setiap tanaman biasanya ada standar kadar ppm nutrisi sendiri-sendiri. Terkadang penjual nutrisi memberikan tabel yang berisi ppm nutrisi yang dibutuhkan setiap tanaman untuk tumbuh subur. Ppm ini bisa diketahui dengan ph meter. Berhubung saya pemula dan masih trial and errror, saya tidak membeli alatnya. Entahlah nanti kalau saya ada rezeki lagi, siapa tahu saya dapat membuat kebun hidroponik komersil sendiri (bercita-cita boleh lah, daripada tidak punya impian sama sekali ^^). Untuk saat ini saya masih memegang prinsip ekonomi dalam hal ini, modal sekecil-kecilnya untuk hasil seoptimal mungkin.
Daan.. inilah saya, menunggu para sayuran saya tumbuh dan bisa mengenyangkan perut keluarga ^^

image

Menggunakan botol palstik bekas

image

Menggunakan bak tampungan

image

Panen kangkung perdana

image

Yummy.. oseng kangkung langsung ludes

Iklan

6 pemikiran pada “Ber-hidroponik: Solusi Berkebun di Lahan Sempit

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s