Membangun Komunikasi dengan Si Pra-sekolah

image

Memiliki anak usia pra sekolah sungguh sangat menyenangkan. Kita selalu disibukkan dengan tutur kata mereka yang mengalir seolah tiada hentinya. Usia 3-5 tahun seringkali disebut-sebut sebagai masa golden age. Serabut-serabut kecil otak mereka berkembang sangat pesat dan penuh rasa ingin tahu. Kesadaran akan eksistensi diri mulai timbul dan memunculkan sikap egosentris. Tidak jarang mereka menjadi sangat egois: semua milikku, aku harus mendapatkan yang aku mau, aku mau sekarang! Semua itu mungkin kalimat yang tidak asing di telinga kita. Tingkah mereka yang lucu tidak jarang berubah dari menggemaskan menjadi memusingkan. Kenapa sih, makhluk kecil bernama anak pra sekolah terkadang memiliki perilaku sulit?

Sebenarnya bukan karena mereka benar-benar berperilaku sulit, lho. Pada masa pra sekolah, anak mulai sangat sadar bahwa diri mereka ada dan berbeda dari orang lain. Mereka belajar mandiri dan mulai membangun sesuatu yang bernama “harga diri”. Bukan hanya remaja saja, anak pra sekolah pun membutuhkan pengakuan orang lain atas eksistensi mereka. Itulah sebabnya mereka cenderung memaksakan keinginannya dan tidak suka bila keinginan tersebut ditolak. Penolakan tidak jarang memunculkan perilaku negatif seperti tantrum, ngambek, atau emosi yang meledak-ledak. Tidak sedikit orang tua yang menyerah lalu mengorbankan kebutuhan mereka demi menuruti keinginan si kecil. Tidak sedikit pula orang tua yang bersikap dominan, memaksa si kecil menurut tanpa mendengarkannya sama sekali. Lalu bagaimana caranya kita memenangkan hati si kecil sehingga keinginannya dapat terjembatani tanpa harus mengorbankan kebutuhan orang tua?

1. Mengenalkan tentang Allah subhanahu wa ta’ala sedini mungkin. Anak-anak menyukai hadiah. Bercerita tentang Allah yang Maha Kaya dan memiliki surga sebagai hadiah bagi anak-anak shalih akan menjadi motivasi terbaik bagi si kecil untuk selalu bersikap baik. Ceritakan bahwa Allah sangat menyukai anak-anak yang baik dan memiliki akhlak yang mulia.

2. Membiasakan anak berakhlak baik. Tidak ada pendidikan terbaik selain teladan. Ajarkanlah pendidikan adab sejak dini. Selalu ulangi dan tegurlah si kecil apabila mereka lupa. Si kecil masih memiliki memori yang pendek, sehingga terkadang jam ini dia ingat, beberapa jam kemudian dia lupa. Jangan bosan untuk selalu mengingatkan apabila si kecil bersikap buruk sehingga lama kelamaan akhlak baik akan menghiasi dirinya.

3. Usahakan untuk selalu menyediakan waktu untuk si kecil. Anak usia pra sekolah sedang berada dalam perkembangan bahasa yang sangat pesat. Mereka ingin selalu bercerita dan bertanya tentang segala hal. Mereka juga suka mendengarkan, namun lebih suka lagi saat didengarkan. Celotehan mereka bagaikan gerbong kereta api yang sangat panjang, selalu berdecit setiap saat. Mereka tidak begitu perduli apakah orang tuanya sedang sibuk atau tidak, mereka selalu minta perhatian. Sediakan waktu untuk bercengkrama dengan mereka seperti saat menjelang tidur, mengantar ke sekolah atau saat makan bersama. Cobalah untuk selalu menjadi teman bercerita baginya, sehingga mereka akan merasa nyaman dengan keberadaan kita di sisinya. Saat mereka nyaman, mereka akan mencintai kita dan mendengarkan apa yang kita bicarakan.

4.  Sikap yang tepat saat berbicara pada si kecil. Seringkah kita meminta mereka melakukan sesuatu dengan berteriak? Mungkin saat itu kita sedang sibuk melakukan suatu pekerjaan, namun saat kita ingin si kecil melakukan apa yang kita kehendaki, pastikan terlebih dahulu untuk mendapatkan perhatiannya. Pastikan si kecil benar-benar memperhatikan saat kita berbicara. Berkomunikasi dengan berhadapan, melakukan kontak mata, berdiri sejajar dengan si kecil, serta berbicara dengan intonasi yang tepat sebaiknya harus kita lakukan untuk mendapatkan atensi mereka.

5. Biarkan si kecil mengetahui bahwa kita sungguh-sungguh mendengarkan mereka. Saat si kecil ingin bercerita, sebaiknya kita hentikan aktivitas kita sejenak jika memungkinkan untuk mendengarkan mereka. perhatian kita itu sungguh sangat berarti bagi mereka untuk membangun rasa percaya diri dan merasa dihargai. Bersabarlah saat mendengarkan dan usahakan kita menahan diri untuk tidak memotong cerita mereka hingga selesai. Tunjukkan antusias kita saat mendengarkan cerita mereka, dan ulangi kembali pokok cerita yang mereka sampaikan untuk menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh mendengarkan mereka.

6. Merespon tanpa merendahkan si kecil. Reaksi kita sangat penting saat berkomunikasi dengan si kecil. Saat si kecil melakukan kesalahan dan kita menanggapinya dengan penuh amarah, dia akan bersikap menolak, menjauh, atau justru memberontak. Mari kita bersabar sejenak untuk mendengarkan alasan mereka melakukannya, kemudian berikan mereka reaksi dan nasehat yang tepat sesuai kesalahan mereka. Jagalah perkataan kita agar jangan berlebihan sehingga menyakiti hati mereka.

7. Bersabar. Bukan suatu hal yang aneh, saat si kecil bertingkah memusingkan, para orang tua yang sudah disibukkan dengan berbagai pekerjaan merasa seolah kehilangan akal sehat. Amarah bisa memuncak dan meledak setiap saat. Namun sebaiknya kita tidak melakukan komunikasi dengan si kecil saat dalam puncak amarah. Saat marah kita sulit berpikir jernih dan cenderung memberikan reaksi negatif. Kita hendaknya menyingkir dan diam saat sedang marah untuk memberikan waktu menenangkan diri. Putuskan semuanya saat emosi sudah lebih tenang sehingga komunikasi akan tersampaikan dengan lebih baik.

Be a happy parents with happy kids!

Posted from WordPress for Android

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s