Dia Bilang Mereka Mata-mata!

photogrid_1454938129829.jpg

Susah-susah gampang mendekati wanita satu ini. Tatapan penuh selidik dan memancarkan kecurigaan cukup membuatku ciut nyali untuk memulai pembicaraan dengannya. Merangkai kata demi kata, menyusun kalimat demi kalimat seolah meluncur dalam benak ini. Bagaimana caranya memulai pembicaraan dengannya, ya?

Akhirnya nekat saja aku duduk di sampingnya sambil mengenalkan namaku. Dengan nada seramah mungkin aku mulai SKSD (sok kenal sok dekat), menanyakan namanya.

Awalnya dia bungkam seribu bahasa, tak menjawab sapaanku. Namun aku tak berputus asa. Melihatnya yang seperti kebingungan mengamati sekitar, aku pun mengikuti arah pandangan matanya. Hingga tiba-tiba dia membuka kata, “Aku tidak percaya dengan semua orang yang ada di sini.” Sepotong kalimat yang semakin mengundang rasa penasaranku. Luar biasa, aku sudah menemukannya!

“Kamu lihat pria itu?” tanyanya sambil menunjuk seorang pria dengan pakaian serba biru. Aku mengangguk penuh ketertarikan. “Dia itu seorang mata-mata.” Aku pun memasang raut wajah penasaran dan penuh antusias. “Mata-mata dari mana? Mau memata-matai siapa, Bu?” Tanyaku semakin menggebu. Dia pun diam sejenak, memandangku penuh selidik. Rupanya aku masih belum sepenuhnya dipercayainya. Baiklah..

“Kamu mata-mata, bukan?” Aku menjawab dengan gelengan kepala penuh keyakinan. “Bukan.” Dia pun melanjutkan perkataannya. “Kamu lihat dia, dia dan dia?” Telunjuknya mengarah ke beberapa orang yang berlalu lalang di dekat kami. “Mereka semua mata-mata.” Lanjutnya. “Mereka mau menangkap aku. Karena itu aku harus berhati-hati. Aku mempunyai misi.” Saat kutanya misi apa, dia terdiam tak ingin menjawab. “Apa kamu mata-mata?” Tanyanya lagi seolah memastikan. Aku menggeleng. “Misiku rahasia, aku tidak boleh mengatakan pada siapapun. Aku harus berpura-pura tidak tahu agar mereka tidak bisa menangkapku.” Dan pembicaraan kami pun berakhir.

Peristiwa menarik serupa lainnya terjadi saat aku masih duduk di bangku SMA. Aku naik bus antarkota, kemudian ada seorang kakek-kakek yang tiba-tiba duduk di sampingku. Beliau mengajak berbincang dan menceritakan berbagai hal seru. Karena ceritanya sangat menarik, dan demi kesopanan, aku pun menanggapi dengan antusias. Sampai kemudian tiba saatnya beliau turun. Setelah turun, kernet bus menghampiriku sambil bertanya, “Tadi seru ya mbak, ngobrolnya?” Aku menjawab, “Iya, Pak.” Kernet Bus mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut setengah mati, “Mbak tahu nggak, bapak itu sebenarnya orang gila.” Hahhh????!!! Seluruh penumpang menatapku dengan wajah yang sulit terdefinisikan, sementara sang kernet menatapku dengan raut wajah kasihan.

Pertemuan dengan “wanita agen” itu adalah sepenggal peristiwa yang selalu kuingat saat mengikuti kuliah Psikologi Klinis di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta. Meski beberapa tahun sudah berlalu, namun pengalaman menemukan pasien Skizofrenia dan berinteraksi langsung dengan mereka membuatku merasa bersyukur memiliki mental yang sehat. Sementara kakek yang kutemui di bus waktu itu menyadarkan bahwa ternyata daya imajinasi dapat luar biasa mempengaruhi kehidupan nyata mereka. Bisa dikatakan, mereka hidup dalam dunia khayalan yang diciptakannya sendiri. Dunia khayalan yang terbentuk akibat pengalaman traumatis tak tertanggungkan sehingga harus melindungi dirinya dengan Ego Defense Mechanism atau mekanisme pertahanan diri. Menciptakan dunia yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Kami menyebut mereka dengan ODGJ atau Orang Dengan Gangguan Jiwa. Luar biasa mengetahui bahwa apa yang kami pelajari dari literatur soal waham kebesaran dan delusi ternyata benar-benar ada. Tidak jarang aku merasa geli saat berbincang dengan mereka, namun tidak bisa dihindarkan bahwa rasa kasihan lebih mendominasi perasaanku. Mengingat makna kehidupan yang hilang dari mereka, juga tentang perasaan keluarga yang mereka tinggalkan. Belum lagi ejekan dan penolakan lingkungan yang mereka terima. Oleh karena itu, sungguh bersyukur masih ada lembaga yang menampung dan merehabilitasi mereka seperti yang dilakukan Rumah Sakit Jiwa. Dan sudah sepantasnya masyakarat peduli dengan keberadaan mereka, bukan malah mencaci maki mereka. Apalagi membiarkan ODGJ berkeliaran di luar tanpa busana.

 

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakan oleh Liza Fathia dan Si Tunis

 

”Giveaway”

Iklan

8 pemikiran pada “Dia Bilang Mereka Mata-mata!

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s