Kami hanya kelompok kurang kasih sayang

image

Beberapa waktu berselang, bahkan mungkin kini tema ini masih ramai dibicarakan. Mulai dari media sosial yang ramai mendukung bahkan mengkampanyekan, bahkan rumor beredar bahwa lembaga internasional pun turut serta mengucurkan dana bagi kelompok ini. Merasa sebagai minoritas, didiskriminasikan, diremehkan, dipandang sebelah mata, dihinakan, dicaci maki.. bersatulah mereka membangun kekuatan demi eksistensi dan harga diri.

Tidak mau dipandang remeh. Enggan dianggap menyimpang. Sejatinya mereka adalah orang-orang kurang kasih sayang yang bertemu di saat yang sama dan merasa memiliki kebutuhan yang sama. Entah atas dasar trauma, kesepian atau sekedar “kecemplung”, mereka semakin kokoh saat bersama hingga membangun komunitas yang mereka anggap “cinta”.

Mereka merasa terlahir sebagai pecinta sesama, yang lazim disebut disorientasi seksual. Tidak.. tidak.. mereka tidak sudi dicap memiliki orientasi seksual yang salah. Mereka sadar, mereka memang terlahir sebagai seorang “gay” atau “lesbian”. Itu genetik. Titik. Dasarnya? Ada penelitian tentang itu yang dilakukan pada sekian ratus responden. Bahkan WHO sendiri tidak menganggap elgibiti (LGBT sensored) sebagai mental disorder. Kenapa? Karena tidak timbul mental stressed dalam diri mereka.

Mereka enjoy, mereka fun, mereka menerima diri mereka sendiri sebagai seorang elgibiti. Karena itu takdir. Itu genetis. Itu bukan pilihan mereka. Mereka juga tidak ingin terlahir menyukai sesama jenis. Bahkan mereka menjadi elgibiti pun tidak mengejar orientasi seksual, murni cinta semata, karena merasa dihargai dan disayangi. Mereka “hanya” mendapatkan itu dari sesamanya. Mereka “hanya” merasa nyaman dan menjadi diri mereka sendiri saat berada di dalam kelompoknya. Di luar itu mereka harus memakai topeng, berpura-pura, memalsukan diri untuk mencintai lawan jenisnya, demi sebuah “pengakuan masyarakat”. Mengapa mereka butuh pengakuan jika merasa mereka tidak berada di jalan yang keliru? Mengapa mereka takut mengakui jati dirinya jika mereka merasa dilahirkan dengan gen seorang elgibiti? Mengapa di antara mereka banyak yang merasa sedih, tertekan, kecewa, bingung bahkan ingin bertaubat, ya?

Aduhai.. jikalau mereka terlahir sebagai elgibiti, tentunya kaum Sodom tidak akan ditimpa laknat karena perbuatan mereka. Ah.. tapi mereka juga tidak akan percaya dengan kisah itu. Bukankah negeri-negeri maju saat ini adalah mereka yang sangat terbuka dengan elgibiti. Jikalau elgibiti menyebabkan kemunduran dan tidak disukai Allah tentu negara-negara tersebut akan mengalami kemunduran. Sayangnya, tolok ukur kecintaan Allah bukan hanya terletak pada kejayaan suatu negeri. Tengok saja negeri Haramain, bukankah negeri itu makmur nan kaya, dengan tingkat kriminalitas paling rendah di antara negara lainnya, di mana kita tinggalkan harta benda di jalan pun niscaya tidak ada yang berani mengambilnya. Mereka mengakui bahwa elgibiti adalah sesuatu yang sangat dibenci Allah. Apa bedanya kemakmuran mereka dibanding negara kaya nan bebas itu? Bedanya tentu saja, negara-negara itu hidup bebas tanpa aturan. Merasa hidup hanya sekali, tidak boleh disia-siakan. Raih kebahagiaan, lepaskan segala keinginan karena hidup tidak akan terulang kembali. Selama tidak menyakiti sesama, tentulah akan masuk surga. Karena itu hormatilah elgibiti, mereka tak boleh disakiti apalagi didiskriminasi. Lalu, bagaimana elgibiti masih berteriak-teriak ingin HAM mereka dipayungi? Dan dengan gagah tangan-tangan berkuasa menopang mereka dengan kokoh.

Bicara diskriminasi, bukan hanya mereka yang mengalami. Sebagaimana surat terbuka yang sudah menjadi viral, para muslimah berjilbab lebar dan bercadar pun menjadi bulan-bulanan jauh lebih mengerikan daripada yang mereka alami. Telah nyata pula diskriminasi kaum muslimin minoritas di berbagai negeri. Bahkan Rohignya, kewarganegaraan pun tak punya. Itu karena mereka mempertahankan prinsip, yang jika dilepas sama saja melepas tiket masuk menuju surga. Apa pantas, elgibiti ini merasa sakit hati terhadap pandangan masyarakat negeri ini hingga meminta diakui? Atas andil siapa kasus paedophilia merajalela? Mereka yang dengan orientasi seksual normal? Bisa jadi.. tapi mereka yang berorientasi seksual lintas gender, tidak mungkin dong, kalau mereka mau melakukan lewat “jalur belakang” (sorry to say). Wajarlah kiranya elgibiti menjadi sorotan dan sulit diterima.

Kurang kasih sayang dan penerimaan? Bisa jadi. Mayoritas keluarga dan sahabat mungkin akan mundur teratur dengan pengakuan bahwa seseorang adalah elgibiti. Wajar saja jika rasa terkejut mendominasi, bingung hendak menanggapi apa, rasa hati seolah tak percaya, hingga berharap semua hanya mimpi semata. Akhirnya, mereka melarikan diri dan semakin mendekat ke orang-orang yang menerima mereka, yang mereka bisa bersikap terbuka apa adanya. Who? Siapa lagi jika bukan sesama mereka. Atau setidaknya yang sevisi dengan mereka.
Mereka yang tidak lagi percaya diri untuk dicintai dan kembali. Merasa berbeda, dan dikucilkan. Padahal banyak orang-orang di sekitar mereka yang peduli, hingga mencucurkan air mata berharap mereka menyadari bahwa mereka salah jalan. Mungkin pula tidak sedikit yang menjauh karena elgibiti bak jamur yang berkembangbiak secara sporadis dan masif (mengutip kata-kata musim pemilu).

Elgibiti itu “menular”. Korban awalnya mungkin merasa aneh bahkan jijik. Namun elgibiti bisa menjadi candu jika dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Tidak heran mereka yang berorientasi seksual normal bisa menjadi elgibiti karena lingkungan. Elgibiti, bila diklaim ada atas nama genetik, mungkin cuma 1% saja, sedang 99% lainnya terjadi karena pengaruh psikososial. Selalu bergaul dengan kaum gemulai akan membawa perilaku yang serupa. Traumatis karena cinta atau pelecehan, bahkan kekerasan rumah tangga juga bisa menjadi pemicu. Kebencian yang terpendam di bawah sadar kepada seseorang yang berlainan gender, hingga obsesi kepada idola bisa menjadi pemicu elgibiti.

Jangan serakah menyandarkan semua kepada faktor genetis, karena genetis sulit diubah, sedangkan banyak elgibiti yang bisa kembali ke jalan yang benar.
Sudah seharusnya kita sadarkan mereka, kembalikan mereka ke jalan yang seharusnya. Bukannya semakin memerosokkan mereka dengan memayungi mereka atas nama HAM.

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s