Wahai Ibu, Masih “Waraskah” Dirimu?

Pentingkah orang-orang tahu, seberapa banyak engkau bergadang sepanjang malam?

Untuk merapikan rumah yang berantakan seolah tiada henti.
Untuk merawat si kecil tatkala sakit melanda.

Untuk menenangkan bayi yang hampir selalu menangis dan terjaga.

Perlukah orang-orang tahu, kalau engkau bangun di pagi hari seperti mayat hidup? Tak bertenaga, sejenak ingin lagi melingkar di atas tempat tidur yang empuk.

Ah, rasanya baru sejenak engkau merebahkan diri, namun ternyata hari sudah beranjak pagi.

Bergegas berbelanja, memasak, menyiapkan keperluan pasangan jiwamu atau memandikan anak-anak, setelah beribadah dan “sedikit” merapikan diri. Begitu terus silih berganti sepanjang hari, setiap pagi.

Jika ada sedikit waktu, mungkin engkau lebih memilih membereskan pekerjaan rumahmu daripada duduk sekedar melepas penat. Bagimu, rumah rapi mungkin lebih berharga daripada waktu istirahatmu. Yah, entah mengapa si buah hati begitu kreatif dan seolah tak pernah lelah menjelajah isi rumah ini.

Lelah dan penat. Terkadang kita membutuhkan semacam vitamin penambah semangat, atau suntikan pertemanan yang membuatmu merasa “waras” dan “tidak sendiri”. Sungguh, puluhan artikel yang sangat menginspirasi.

Kadang terbersit tanya, mengapa artikel-artikel itu sangat menggugah jiwa kewanitaan kita? Menyadarkan kita betapa tugas dan pekerjaan kita sebegitu banyaknya, seolah tiada pernah henti, seolah hidup kita begitu lelah dan membosankan hingga kita butuh artikel “agar tetap waras” dalam nenapaki kehidupan bersama anak-anak kita.

Merasa lelah dan bosan sesekali itu suatu kewajaran.

Merasa marah dan frustasi untuk sesaat adalah suatu hal yang lumrah terjadi.

Bahkan mungkin ibu-ibu kita dulu lebih lelah, lebih penat, lebih frustasi dari kita. Seberapa yakinkah kita kalau kita dulu lebih “manis” daripada anak-anak kita sekarang?

Tapi ibu-ibu kita bisa tetap diam dalam sabar dan kemarahannya. Tidak ada waktu bagi mereka mengeluhkan betapa “kreatifnya” kita kepada teman. Apakah kalau jaman dulu ada Facebook mereka akan memilih menulis status tentang anak-anaknya daripada sibuk dengan pekerjaan mereka? Entahlah.

Setidaknya, mereka sangat tangguh dalam pandangan saya. Setidaknya saat ini, saat enggan masak, kita bisa membeli makanan jadi. Saat malas menyetrika, sudah ada laundry. Sudah ada berbagai alat modern untuk memudahkan segala tugas kita di rumah.

Kita jauh lebih baik keadaannya.

Allah Ta’ala sudah sangat memudahkan kita.

Bahkan Dia memberikan kita pasangan yang sangat pengertian.

Jadi, untuk membuat waras, cukup kita banyak mengingat bahwa:

Semua ini ada imbalan pahala yang luar biasa.

Semua ini akan ada titik akhirnya. Anak-anak akan dewasa dan kehidupan kita akan kembali sepi seperti semula.

Jika pasangan kita tidak menuntut ini dan itu, mengapa kita memaksakan diri menjadi sempurna? Ingatlah, keinginan menjadi sempurna, ekspektasi yang terlalu tinggi dibanding kemampuan, itulah sumber “ketidakwarasan”.

Lelah? Berhentilah.

Bosan? Istirahatlah.

Dan tidak ada sebaik-baik istirahat selain dzikrullaah dan merebahkan diri sejenak.

Iklan

4 pemikiran pada “Wahai Ibu, Masih “Waraskah” Dirimu?

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s