Virus Itu Bernama SELINGKUH

love

Selingkuh. Mereka bilang itu adalah sebuah selingan “indah” dalam kehidupan berumah tangga. Pengusir kebosanan. Penghilang kejenuhan. Selingkuh ibarat garam dalam masakan.

Selingkuh. Tidak mengenal apa itu gender. Pria maupun wanita, keduanya memiliki potensi untuk selingkuh. Cantik atau tidak, ganteng atau tidak, semua bisa memiliki dualisme hati secara ilegal.

Selingkuh. Tidak mengenal kepemilikan materi. Kaya maupun miskin, yang bos besar maupun karyawan biasa, yang pejabat tinggi maupun pegawai rendahan, semua adalah klien potensial dari virus yang bernama: selingkuh.

Virus ini menyebar seperti jamur. Sporadis. Sekilas kita mungkin akan merasa jijik menghadapi mereka yang terjangkit virus ini. Namun saat kita mendengar dalih-dalih yang mereka kemukakan. Oh.. entah kemana akal sehat itu hilang. Entah kemana rasa marah itu terbang. Entah kapan rasa pemakluman itu hinggap tanpa mengetuk pintu. Virus ini pun bisa berpindah perlahan. Jika kita banyak duduk akrab dengan mereka yang terjangkit virus ini, rasa bersalah sedikit demi sedikit terkikis hilang. Tidak apa lah, kan hanya sms-an saja. Tidak apa lah, kan hanya sekedar mengumbar rasa. Tidak apa lah, yang penting kan masih cinta dengan pasangan halal kita. Tidak apa lah, salah dia sendiri tidak menaruh sejuta perhatian dan keromantisan sehingga kita mencari pelarian.

Tahun lalu, saya mendengar kabar bahwa tingkat perceraian sebuah profesi terhormat di daerah kami meningkat. Tidak lama kemudian saya mendapati bahwa ternyata, mayoritas perceraian dilatar belakangi oleh kasus perselingkuhan. Tidak hanya itu, mereka yang sudah bisa dikatakan berumur ini ternyata membentuk sebuah geng secara alamiah. Namanya geng ganjen. Bagaimana tidak, mereka saling memuji dan mengumbar janji mesra plus khayalan tingkat tinggi melalui sms dan pertemuan rahasia. Inilah alasan mengapa saya berkata bahwa virus selingkuh itu sporadis dan bisa menular. Karena terbiasa dengan permakluman atas perbuatan tersebut, jika ada satu dua tiga kesalahan atau ketidakbenaran perilaku pasangan kita, di sanalah virus ini akan bersemayam dengan perlahan. Bagaimana caranya? Melalui teman-teman yang menggoda kita untuk melakukannya. Melalui mata yang tidak dijaga. Melalui hati yang mudah bergetar hanya dengan secuil perhatian dan sapaan, “bagaimana kabarmu hari ini? Aku berharap kita bisa bertemu kembali.” Melalui hati yang rapuh, mendengar pujian “kamu cantik sekali.” atau “kamu sungguh mengerti aku”, luluh lantaklah sebuah pertahanan. Itulah akibat cinta yang tidak dipupuk dan dipelihara. Pernahkah Anda mendengar sebuah perumpamaan, rumput tetangga lebih hijau? Bila cinta, tahi kucing pun seperti coklat? Itu sungguh tepat menggambarkan fenomena perselingkuhan ini.

Mereka berselingkuh memang dengan berjuta alasan. Namun mayoritas dalih yang mereka kemukakan adalah kurangnya perhatian dari pasangan. Ketidakpuasan yang tidak pernah dikomunikasikan kepada pasangan juga dapat memicu bom waktu yang siap meledak kapan saja. Barangkali Anda pernah mendengar, women are from venus, men are from mars. Wanita adalah makhluk dengan keinginan simpel namun memiliki pemikiran yang rumit. Mereka hampir selalu mengedepankan perasaan dalam kehidupan kesehariannya. Sedangkan pria adalah makhluk yang hampir selalu mengedepankan logika. Wanita selalu ingin dimengerti terutama oleh pasangannya. Jangan heran jika banyak di antara mereka yang merasa tersakiti dan menjadi korban karena mereka menganggap pasangannya seperti dukun. Wanita berharap pria “seharusnya” tahu apa yang diinginkan oleh istrinya tanpa harus diungkapkan. Sedangkan pria adalah makhluk logis, sulit menambahkan kalimat “meraba-raba perasaan istri” dalam kamus mereka. Tidak heran, saat sang wanita menangis-nangis terluka karena merasa diabaikan, sang pria cuek datar tidak mengerti, mengapa sang istri menjadi cengeng seperti ini? Akhirnya mispersepsi dan miskomunikasi mulai berkembang dalam hubungan mereka. Kemudian tampilah orang ketiga atau keempat yang terlihat lebih perhatian, lebih pengertian, lebih penyayang, lebih segala-galanya akan mulai menggoyahkan hubungan yang kurang sehat ini. Dan, godaan selingkuh pun tak terhindarkan.

Lebih rumit lagi jika terjadi CLBK. Cinta Lama Balik Kembali. Tatkala pasangan dirasa sudah tidak pengertian dan hubungan terasa mulai membosankan, hadirnya sosok masa lalu memang dapat menjadi godaan. Bagaimana tidak? Dulu kita bertemu dengannya dalam keadaan yang sangat indah. Setidaknya begitulah menurut kita. Kita masih melihatnya sebagai sosok yang dulu terlihat begitu mengagumkan. Sekarang, saat dia kembali, kita masih menatapnya sebagai dirinya yang dulu. Sama sekali belum berubah. Sementara pasangan yang sudah hidup bersama kita memiliki perubahan yang begitu signifikan. Bosan. Ya, pasangan kita terlihat begitu membosankan dibandingkan dengan dirinya yang tidak bisa kita miliki. Mata dan hati pun mulai melirik lagi dirinya. Mengikuti perkembangan kesehariannya melalui sosial media. Mengomentari statusnya dan menyukai setiap kiriman yang dia pajang di sana. Ah, kenapa tidak coba mengiriminya pesan? Kami masing-masing sudah menikah, apa salahnya bertanya kabar? Toh, ini hanya untuk menjalin silaturahim saja. Desakan demi desakan gencar menggempur iman kita.

Sebuah pesan pun meluncur. “apa kabar?” Pesan yang sungguh singkat namun menimbulkan tarikan dasyat baginya untuk membalas. Saat balasan diterima, jemari mulai berani mengirimkan ungkapan perasaan. “Kamu tidak berubah, ya. Masih seperti dulu. Coba kalau aku dulu berani mengungkapkan isi hatiku, mungkin kita bisa bersama. Padahal saat itu aku sudah berniat hendak melamar kamu.” Lihat kan, betapa halusnya virus ini bekerja. Selingkuh fisik memang belum tentu terjadi, tapi selingkuh hati sudah menjangkiti. Dalam pandangan kita, si dia masih terlihat begitu sempurna. Jauh, sungguh jauh berbeda dari pasangan kita yang mulai terlihat kekurangannya di sana-sini.

Saat kebosanan memuncak, amarah yang tak tersalurkan, sungguh seperti sebuah oase tatkala ada tangan terulur menawarkan simpati. “Kamu tidak apa-apa?”, “saya sangat memahami perasaanmu.” Sungguh kata-kata yang ingin didengarkan oleh setiap orang yang tengah dirundung masalah. Semakin intens curhat ke dia, percikan rasa pun mulai tumbuh perlahan. Sedikit demi sedikit dan samar, timbul perasaan bahwa ternyata si dia lebih baik dari pasangan halal kita. Bagaimana jika perasaan seperti ini tersambut? Kita pasti tahu jawabannya Alasan klasik lain dari sebuah perselingkuhan adalah: dia sudah tidak menarik lagi.

Aduhai, lupa kiranya masa awal menikah. Seolah si dia adalah wanita tercantik dan pria tertampan di muka bumi. Segala yang ada padanya adalah keindahan. Tidak bosan kita memandangnya sepanjang hari. Keberadaannya membuat hidup kita begitu berwarna. Namun, waktu yang berlalu seolah memudarkan pesonanya. Tubuhnya sudah mulai kuyu, wajahnya tak lagi bersinar seperti dulu, kulitnya pun mulai berkeriput di sana sini. Mereka yang masih merasa cantik gagah terawat, merasa gamamg akan kenyataan. Apalagi saat ada sosok lain yang begitu berkilau mendekat dan menebar jala pesonanya, gempa bumi melanda hati. Hasrat manusiawi yang selalu merasa kagum akan keindahan pun menyala kembali, malah semakin berkobar. Mereka lupa bahwa pesona itu hanya sesaat. Ibarat main game, kita dibuat penasaran untuk menuntaskan level demi level permainan. Namun saat kita sudah memenangkan semuanya dan berada di puncak, mendadak semua terasa begitu membosankan. Karena apa? Tidak ada lagi sesuatu yang bisa dicapai. Akhirnya, timbul penasaran untuk beralih ke game lain yang terlihat lebih menarik. Begitu pula dengan suatu hubungan yang didasari oleh kerupawanan, suatu saat akan timbul kebosanan kemudian perselingkuhan dan berakhir dengan munculnya seorang player. Player yang selalu berpetualang dari hati satu ke hati lainnya demi menemukan sebuah kepuasan yang tidak akan pernah dia dapatkan, kecuali dia berhenti dan menetap pada satu tempat. Miris, semiris-mirisnya.

Agaknya, perselingkuhan saat ini memang sudah menjadi tema yang jamak dalam masyarakat kita. Coba Anda survei, apakah dalam desa Anda terdapat pelaku selingkuh meski hanya seorang. Selingkuh di sini bukan hanya bermakna seksualitas, namun lebih kepada dualisme suatu hubungan. Menduakan suatu hubungan legal dengan hubungan lain yang ilegal. Itu sungguh tindakan yang tidak terpuji dalam masyarakat dan agama kita, tapi kenyataannya banyak yang melakukannya. Bukankah setan begitu dasyat menggoda? Bukankah kita pun sadar bahwa seindah apapun suatu hubungan, jika dimulai dengan sesuatu yang salah, pasti tidak akan menjadi benar pada akhirnya?

Bagimu yang masih berhubungan dengan seseorang selain pasangan halalmu, lekaslah pulangkan kembali hatimu. Kebahagiaan tidak akan menghampirimu dengan menabrak sesuatu yang dilarang agama lagi menyakiti hati orang lain. Bagimu yang mencoba menambal jiwa yang terluka, atau berusaha mengisi luka hati seseorang dengan jeratan pesonamu, maka sadarlah. Dia sudah memiliki tambatan, apalah guna engkau mengisi gelas yang sudah menjadi milik orang lain? Bukankah sejatinya dirimu adalah sebuah replacement? Jangan mengcoba mengetuk pintu hati yang sudah tertutup. Jangan melompati pagar rumah orang lain. Hamparan rumput hijau nan indah itu hanya ada dalam khayalanmu. Di sana juga ada beberapa lubang yang menjerumuskan, hanya saja lubang itu tertutup dengan rimbunnya rumput dan dedaunan. Jangan turunkan harga dirimu dengan melakukan sesuatu yang dipandang hina yaitu merusak rumah tangga orang lain. Mari kita genggam ajaran agama agar senantiasa merasa malu saat mencoba masuk dalam suatu hubungan terlarang.

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s