A Perfect Woman Become A Perfect Mom?

IMG_20150923_074147.jpg

Menjadi wanita itu rumit dengan segala standardisasinya. Saat masih gadis dulu saya merancang kehidupan pernikahan ideal saya dari A-Z. Merancang seperti apa calon suami saya, pernikahan saya, kehidupan pasca menikah, juga bagaimana saya akan memanageri “negeri kecil” saya. Saya merencanakan pendidikan calon anak-anak saya kelak dari hal simpel sampai visi misi pengasuhan mereka. Tapi, hanya sepersekian persen yang ternyata mampu saya lakukan.

Menjadi wanita dan ibu, serupa namun tak sama. Sebagai wanita saya memiliki value yang ingin saya raih. Seperti rumah yang nyaman, bersih, menentramkan, jauh dari teriakan-teriakan dan suara ribut yang tak perlu. Memberikan pelayanan yang terbaik kepada suami dan anak-anak, namun tanpa mengabaikan me time, itu juga salah satu gambaran ideal pernikahan saya. Mampu meng-handle segala urusan domestik, namun juga mampu berkarya, itu juga mimpi indah yang dulu pernah saya rancang.

Dan saya pernah begitu.

Harus sama persis segalanya sesuai apa yang saya rencanakan.

Namun ternyata itu cukup menyiksa. Karena saya bukan wonderwoman, juga bukan supermom. Saya hanyalah ordinary woman dan mom. Itu saja.

Saya belajar bahwa memaksakan segala sesuatu harus sesuai idealisme itu memang memuaskan, tapi menyiksa jiwa. Seperti, engkau, seorang ibu baru, yang memiliki anak kecil yang sedang toilet training namun engkau ingin lantai rumahmu tetap bersih tanpa terkena ompol sama sekali, sedangkan anakmu tidak engkau pakaikan diaper. Engkau mungkin memang bisa, namun ada fase berat dan lelah yang harus engkau lalui. Ada fase kejenuhan yang mungkin melandamu. Jika engkau ingin rumahmu bersih dengan anak-anak kecil yang menebarkan “ranjau” di sana-sini, maka engkau harus menyapu dan mengepel rumahmu setiap saat, atau engkau perlu menggaji asisten rumah tangga. Jika semua ingin engkau kerjakan sendiri dengan idealismemu yang ingin rumahmu kinclong, mungkin engkau tidak akan pernah bisa me time. Bisa, jika idealisme itu engkau turunkan.

Tidak setiap wanita yang sempurna akan menjadi ibu yang sempurna.

Tidak setiap ibu yang sempurna, akan menjadi istri yang sempurna.

Akan selalu ada cacat di sana-sini. Karena itu kita butuh pemakluman dari mereka para suami, terutama pemakluman dari diri kita sendiri. Kalau bukan kita yang menyayangi diri sendiri, lantas siapa lagi?

We are not superwoman, not supermom.

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s