Menahan Arus Jaman

IMG_20180630_102330.jpgDuh, jadi keder membayangkan masa depan anak.
Saya jadi takut mau melepas anak sendirian ke sekolah.
Belum lama kasus serupa juga terjadi di daerah kami, lho.

Gemas, geram, marah luar biasa tentu berkecamuk dalam hati saat mendengar mencuatnya kasus pelecehan dan perkosaan anak. Belum lekang dari ingatan saat dulu pernah heboh kasus Yuyun. Namun ternyata bukan hanya Yuyun, kasus serupa namun tak sama belakangan semakin banyak muncul. Hal ini tentu semakin menimbulkan keprihatinan para orang tua yang masih bermental sehat. Kenapa saya sebut bermental sehat? Karena di luar sana ternyata tidak sedikit orang tua yang sakit mental, sejatinya bertugas melindungi namun justru mencederai anak-anak mereka. Ada banyak pula orang tua yang tidak peduli, sekedar memberi sesuap nasi tanpa mengerti bahwa anak butuh didampingi.

Ada apa dengan negeri ini? Ada seorang ibu yang berkata, negeri ini darurat pelecehan seksual. Kalau saya berkata, negeri kita krisis pendidikan agama. Ya, agama adalah awal, tengah dan akhir sebuah kehidupan. Banyak orang tua yang begitu sibuknya mencari nafkah hingga melalaikan pendidikan agama si anak. Kalaupun diberikan bekal agama hanya sekedar bisa shalat dan mengaji. Jangan salahkan apabila mereka akhirnya tergilas oleh serangan bertubi-tubi dari luar yang begitu dasyatnya. Akhirnya urat malu semakin lama semakin putus satu per satu karena tidak ada benteng yang kuat. Agama memberikannya. Seseorang yang mempercayai bahwa akan ada kehidupan setelah kematian, bahwa segala amal perbuatannya di dunia akan ada ganjarannya, juga meyakini bahwa segala perilaku dan pikirannya selalu diawasi oleh Allah tentu akan menahan diri dari berbagai bentuk perbuatan buruk. Jangankan melakukan tindakan asusila, berdusta pun mereka akan berpikir ratusan kali untuk melakukannya.

Suri Teladan
Jika ada yang bertanya, anak saya sudah saya berikan pendidikan agama yang baik, selalu saya tanamkan moral dan akhlak yang luhur, namun mengapa masih bisa melakukan hal yang tidak terpuji? Jawabannya, sudahkah kita berikan mereka contoh kebaikan dalam keseharian kita? Rasulullah diutus sebagai suri teladan bagi umatnya dalam mengemban risalah ini. Dalam setiap dakwahnya, beliau selalu memberikan contoh kepada pengikutnya. Bukankah kita bisa melihat melalui sejarah, betapa beliau menjadi orang yang paling berpengaruh sepanjang masa? Dari segelintir pengikut hingga dijuluki orang gila, beliau mampu menarik ratusan ribu orang untuk membantunya menegakkan agama ini. Luar biasa bukan? Terlepas dari faktor bahwa semua memang sudah dikehendaki Allah Ta’ala, namun kharisma beliau memang sungguh luar biasa. Beliau selalu terdepan saat memberikan teladan. Kecermerlangan beliau dalam mencetak generasi mulia tertuang dalam tinta emas sejarah, menerbitkan sosok-sosok pemuda pilihan semacam Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Zaid bin Harits, Abdullah bin Umar Al Khaththab, juga Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.

Lantas bagaimana dengan kita sebagai orang tua? Sudahkah kita memberikan contoh terbaik untuk putra dan putri kita sebelum kita menuntut mereka melakukan ini dan itu? Saat kita miris melihat dandanan anak-anak kita yang serba terbuka, serba bebas, apakah diri kita pun sejatinya demikian di hadapan anak-anak kita? Kita kurang bisa menjaga pergaulan diri. Maka, bagaimana bisa kita harapkan anak-anak kita tidak akan menjiplaknya? Menuntut mereka berpakaian tertutup, tapi kita sendiri tidak menutup aurat. Mengharapkan mereka dihormati, namun justru memakaikan mereka baju yang seksi sedari kecil.

Bukankah malu itu sebagian dari iman? Bukankah malu itu bukan sesuatu yang terbentuk secara instan? Begitupun hijab. Pemakainya seharusnya menjadi sosok yang disegani sekaligus menjadi pelindung diri. Memakainya memang butuh kesiapan, namun juga harus disiapkan sejak dini. Jika tidak, akan terasa berat, karena setan akan selalu menggoda dari segala arah untuk mengoyak kehormatan. Mengajarkan anak untuk menutup aurat sama dengan mengajarkannya untuk menghormati dan menghargai dirinya sendiri, yang berarti menuntut orang lain untuk lebih menghormati dirinya. Bukankah seorang anak lelaki akan menjadi pemimpin dan suri teladan bagi keluarganya? Dan seorang anak wanita akan menjadi madrasah pertama bagi putra putrinya?

Jika bukan kita sebagai orang tua yang mengajarkan untuk menghargai dirinya sendiri, lantas siapa lagi?

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s