Bahasa Ibu yang Terasing

IMG_20160429_184317

Saya terlahir di sebuah kota kecil di daerah propinsi Jawa Tengah, dimana unggah-ungguh dan tata krama masih menjadi sebuah hal yang dijunjung tinggi. Masa kecil saya diisi dengan bermain dengan teman-teman, apalagi kalau bukan memainkan berbagai permainan tradisional. Congklak, gundu [kata kami: nekeran], petak umpet [delikan], gobak sodor, kasti, dan seabrek permainan lain yang pastinya tidak banyak anak kecil jaman sekarang yang masih mewarisi permainan ini dari orang tuanya.

Satu hal yang sebandel-bandelnya anak-anak seusia kami waktu itu tidak melunturkan rasa hormat dan segan kami kepada orang tua maupun yang lebih tua. Kepada mereka, kami menggunakan bahasa halus yang disebut bahasa krama inggil. Yah.. begitulah saya dulu berbahasa kepada kedua orangtua saya. Memakai kata, inggih, dalem, panjenengan, sare, dan sebagainya. Namun seiring waktu dan pergaulan, kebiasaan itu semakin tergerus, entah sejak kapan sayapun tidak lagi memakai bahasa itu kepada kedua orang tua. Saya ketularan memakai bahasa jawa ngoko kepada orangtua. Hanya kepada kedua orangtua saja, karena kepada orang yang lebih tua selain kedua orangtua, saya masih memakai bahasa krama inggil. 

Sampai menikah, saya bertemu dengan suami yang berasal dari ngapak area, nggak nyambung rasanya memakai bahasa halus tersebut di daerah beliau. Waktu itu saya memang langsung diboyong mengikuti beliau. Bahasa kula, dalem, inggih berubah menjadi rika dan ko. Awal mula terasa aneh dan geli, tapi makin ke sini semakin terbiasa. Suami pun di awal pernikahan kami lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia saat berinteraksi. Mungkin karena kecanggungan akibat perbedaan bahasa ibu, meski tidak begitu ekstrim. Bahkan kepada mertua pun saya masih menggunakan bahasa Indonesia [begitu pula sebaliknya].

Saat berpindah domisili dan tempat kajian sunnah, kami mengenal beberapa ustadz yang anak-anaknya maa syaa allaah.. begitu santun dan berakhlak mulia. Apakah ini karena dipengaruhi oleh penggunaan bahasa keseharian keluarga mereka yang menggunakan bahasa krama inggil? Bahasa memang sangat berpengaruh dalam pola asuh. Setidaknya akan mempengaruhi intonasi kita saat berinteraksi dengan anak. Kami menemukan sosok-sosok yang begitu mengagumkan dan bisa kami jadikan contoh nyata dalam pengasuhan anak-anak kami. Ya kesabaran beliau juga istrinya kepada anak-anaknya, kelemahlembutannya, juga penerapan pola pendidikan yang sesuai sunnah sungguh bukan hanya memikat hati kami namun juga siapapun yang mengenal beliau.

Tidak ada kata kasar, bentakan, bahkan untuk kejadian yang menguras kesabaran pun akan diikuti dengan respon yang rileks dan bijaksana. Tidak heran, anak-anak beliau menjadi anak-anak yang santun, anak-anak yang sangat jarang ditemui dengan kelembutan dan penggunaan bahasa halusnya yang sempurna. Kami yang dewasa merasa malu dan kalah dengan anak-anak ini. Kalah dari sisi kesabaran, kesantunan plus pola pendidikan yang masih morat-marit. Tidak perlu jauh beliau belajar menempuh pendidikan tinggi [meski saya dengar beliau juga adalah lulusan perguruan tinggi negeri ternama sebelum menempun pendidikan di Jami’ah Madinah], beliau dengan baik bisa menerapkan hadits sunnah dalam pendidikan anak juga ma’had yang beliau ampu.

Rasa ingin meniru yang tinggi, membuat saya dan suami menyimpulkan bahwa benar ternyata bahasa sangat mempengaruhi intonasi. Mereka yang tahu bagaimana bahasa krama inggil pasti akan merasa aneh saat membayangkan bagaimana orang berbahasa krama yang marah dengan bernada tinggi. Sangat tidak cocok. Itu pula yang menyebabkan suami bertekad meminta saya mengajari bahasa ini kepada anak-anak kami. Kenapa saya? Karena suami tidak bisa. Penggunaan bahasa Indonesia lebih banyak mendominasi pengasuhan beliau dari kecil hingga dewasa, bisa pun hanya bahasa ngoko. Terlambat tidak mengapa bukan, daripada tidak sama sekali? Mungkin saat ini si sulung tertawa-tawa karena merasa aneh dan sulit menirukannya, tapi tidak menutup kemungkinan ke depannya dia akan menjadi lebih canggih dari kami. Bahkan si bungsu pun sempat ngambek karena ibunya ini menggunakan bahasa krama yang mungkin baginya seperti mendengar orang berbahasa Inggris.

Nas’alullaah assalamah wal ‘afiyah

 

Iklan

3 pemikiran pada “Bahasa Ibu yang Terasing

  1. Dewi, apa kabar? Betul juga wi, bahasa ternyata mempengaruhi intonasi ya. Jadi kangen bahasa jawa. Kami di rumah banyak menggunakan bahasa indonesia, dalam pergaulan banyak pengaruh bahasa sunda dan betawi. Rasa bahasanya memang beda. Kalau bahasa jawa terasa halus, bahasa sunda dan betawi mengakrabkan dua orang yang bicara. Nah ini yang kadang membuat khawatir karena bisa menghilangkan sekat beda generasi dan kurangnya hormat pada orang yang lebih tua

    • Alhamdulillaah baik, Muti.. Muti apa kabar?
      Nah iya, betul banget. Itu juga yang menyebabkan kami akhirnya memutuskan untuk mengajarkan bahasa krama inggil ke anak-anak meski masih diselingi bahasa Indonesia sebagai terjemahannya.

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s