Wanita Tanpa Rahim – bagian 1

Empat tahun sudah penantian ini, haru biru itu akhirnya datang dalam kehidupan kami kembali. Bak semerbak harum yang menyeruak di tengah hari-hari yang rasanya sudah begitu sempurna. Namun, siapa yang menolak kehadiran makhluk mungil yang memang sudah lama dinanti untuk kembali menghiasi kehidupan kami?

Setelah memutuskan untuk pasrah, lagi-lagi hadiah itu memang tiba tepat pada waktunya. Akhirnya kehamilan ketiga itu hadir. Tidak ada kesulitan yang berarti dalam kehamilan kali ini. Bahkan bisa dibilang relatif lebih mudah dan nyaman dibandingkan dua kehamilan sebelumnya. Saya bisa beraktivitas penuh tanpa hambatan, bahkan masih bisa mengajar di awal kehamilan sampai akhirnya suami menyuruh untuk istirahat. Saya bahkan masih mengerjakan puluhan orderan jahitan hingga H-2 kelahiran si kecil. Demikian juga dengan baking dan cooking, semua masih bisa saya lakukan dengan nyaman.

Pun tidak ada yang aneh dengan kehamilan ini kecuali penampilan perut yang menurut saya dan suami terlihat lebih besar dan menonjol dibandingkan dua kehamilan sebelumnya. Menjelang bulan ke 7 posisi janin masih sungsang dan terlilit tali pusat. Dokter menyuruh saya untuk lebih banyak melakukan posisi sujud untuk memutar letak janin. Benar saja, bulan ke 8 posisi janin sudah memutar ke bawah. Namun qadarullaah, saat masuk bulan ke 9 si kecil kembali lagi sungsang dan terlilit tali pusat. Berita kurang bagusnya lagi, posisi si kecil selain sungsang juga menengadah. Ditambah lagi BBJ yang sudah di atas 3 kg.

Tidak akan pernah saya sangka saat di ruang periksa, dokter berkata kalau untuk lahir normal akan sangat beresiko dengan kondisi tersebut. Beliau berkata kepada kami untuk segera memutuskan kapan akan melakukan operasi SC. Lemas lunglai rasanya mendengar perkataan beliau. Padahal dua minggu sebelumnya beliau bilang masih ada harapan untuk lahir pervaginam. Harapan untuk segera hamil yang keempat setelah kehamilan ketiga ini menjadi kabur. Mampukah saya segera hamil dengan resiko dua tahun setelah melakukan caesar? Sementara usia sudah tak lagi muda.

Kami berdua keluar dari ruang periksa dengan hati tak menentu. Cemas akan biaya, jelas. Apalagi di masa pandemi seperti ini, jelas usaha mengalami penurunan. Cemas akan dampak pasca SC, pastinya. Dengan dua buah hati yang masih tergantung pada saya di kesehariannya membuat saya merasa ragu dan gelisah. Bisakah saya tetap tangguh seperti selama ini tanpa bantuan siapapun? Saya sungguh tidak suka merepotkan orang-orang terdekat, termasuk suami. Meminta tangguh pun kami lakukan untuk memutuskan tanggal yang tepat, karena sebelumnya kami memang berencana untuk menjemput kedua orang tua saya dari luar kota yang sangat ingin menunggu proses persalinan dari dekat. Maklum saja, ini adalah cucu terkecil yang sudah 7 tahun baru hadir setelah kelahiran putri kedua kami.

Awalnya karena sangat ingin melahirkan dengan normal, kami mencari second opinion ke dsog lain. Namun hasil observasi dan diagnosis dari dsog tersebut yang tidak meyakinkan membuat suami meyakinkan saya untuk tetap melahirkan secara SC. Beliau berkata, “Adek operasi bukan karena penyakit, tapi demi melahirkan bayi. Jadi jangan terlalu cemas.” Begitu selalu hiburnya saat melihat saya mulai stres. Melihat dan menimbang resiko yang harus saya pertaruhkan, akhirnya dengan sangat berat hati saya setuju untuk operasi pada tanggal cantik: tanggal 10, bulan 10, tahun 2020.

Tepat pada tanggal 9 malam, kami berdua pun bersiap ke RS untuk melakukan operasi SC pada keesokan harinya. Namun kejadian yang tak terduga datang. Malam itu, si sulung demam tinggi yang memaksa kami harus membawanya ke dokter spesialis anak. Seolah dia mengerti ibunya akan berjuang menghadapi ambang hidup dan mati. Bukannya lebay, tapi SC adalah operasi besar yang tidak menutup kemungkinan kalau saya bisa tidak bangun lagi setelahnya. Akhirnya setelah obat si kakak sudah di tangan, tega atau tidak, terpaksa kami tinggalkan anak-anak bersama kakek dan neneknya. Penuh sesak saya berpamitan pada anak-anak juga bapak dan ibu. Tak akan pernah pula saya lupakan pelukan erat dan air mata kedua orang tua saya malam itu. Penuh kesedihan, ibu berkata, “seharusnya kamu malam ini bisa ditunggu oleh banyak orang, namun karena pandemi ini membuatmu hanya bisa ditemani oleh suamimu.” Sekuat tenaga saya menahan diri untuk tidak menangis. Sungguh, di usia setua ini, kasih sayang bapak dan ibu masih penuh saya rasakan adalah merupakan anugerah besar. Juga rasa malu karena lagi-lagi harus menjadi beban alih-alih membahagiakan.

Malam yang sangat menyiksa pun tiba. Kateter yang dipasang membuat saya tidak bisa tidur sama sekali. Selain pemasangannya yang menimbulkan rasa sakit, kontraksi pun selalu datang setiap kali BAK. Berkali-kali saya memencet bel untuk memanggil perawat karena merasa kateter bocor. Tapi ternyata itu hanya perasaan saya saja. Meski akhirnya kebocoran itu terjadi juga meski hanya sedikit. Alhamdulillaah, kateter tidak perlu dipasang ulang (padahal harapan saya kateter justru dilepas). Saya sangat berharap pagi segera datang dan operasi segera berlalu. Belum lagi proses pasang infus yang membuat saya semakin tidak nyaman. Entah kenapa perawat tidak bisa menemukan nadi dengan cepat sehingga saya harus mengalami “penusukan” berkali-kali. Sungguh sakit yang berdarah. Di saat seperti itu, saya teringat dengan dua persalinan normal sebelumnya, yang meskipun menyakitkan namun tidak menyisakan trauma seperti ini, yang bahkan sebelum prosesinya selesai.

Tepat pukul 05.00 WIB saya dibantu suami berganti baju operasi. Tidak sabar rasanya untuk segera menyelesaikan prosesi yang sangat menyiksa ini. Dua orang perawat menjemput saya dari ruang rawat inap untuk segera menuju ruang operasi.

Operasi yang dijanjikan pukul 5.30 WIB ternyata molor dari dugaan. Dsog saya baru tiba pada pukul 6.00 WIB. Oh iya, sebelumnya saya sempat request agar seluruh nakes yang terlibat dalam operasi bergender perempuan. Sebagaimana diketahui, saat operasi tentu kita hanya akan memakai baju operasi yang sangat tipis. Rasanya saya tidak punya muka kalau ada nakes laki-laki yang terlibat dalam operasi. Alhamdulillaah RS tempat saya bersalin ini memiliki form perjanjian pra tindakan yang bisa memungkinkan kita untuk memilih option tersebut.

Ruangan yang dingin menyambut saya yang memakai baju minimalis. Sengaja saya memakai kaos kaki untuk menghalau rasa dingin. Namun buat apa juga, karena toh kaki akan mengalami mati rasa setelah dibius. Selain itu, atribut dari luar pun ternyata tidak diperkenankan untuk dibawa masuk ke dalam ruangan. Mungkin karena semua yang masuk ke ruang operasi harus steril.

Para crew pun mulai bersiap setelah saya dipindahkan ke ranjang operasi yang ukurannya hanya cukup untuk menaruh tubuh 1 orang. Dokter anastesi meminta saya untuk duduk dan mulai menyuntikkan jarum ke bagian tulang belakang. Rasa kebas mulai menjalar. Ternyata suntikan ini tidak semenyeramkan yang saya baca di forum-forum kehamilan. Lebih menyakitkan berkali-kali dipasang kateter daripada disuntik epidural. Ranjang operasi yang kecil hanya pas untuk berbaring memaksa saya untuk menurut tanpa perlawanan (meski hati kecil saya memberontak dan ingin lari dari ruangan ini). Perawat pun mulai memasang tirai pembatas yang menutupi area perut. Kedua tangan saya “dipasung” agar tidak reflek menyentuh perut saat operasi sedang berlangsung. Akhirnya dsog saya datang juga dengan menampilkan senyum ceria sambil menyapa ramah. Entah apa yang terjadi di bawah sana, rasanya terlalu seram untuk membayangkan. Saya berusaha mengabaikan dan fokus merekam suasana ruang operasi, berharap tidak akan kembali lagi ke sini. Suara denting alat-alat bedah berseling dengan dendangan yang disenandungkan oleh sang obgyn. Saya sama sekali tidak merasakan apapun, hanya ruangan yang dingin serasa membekukan kedua tangan dan tubuh bagian atas. Sementara itu mereka terus melakukan tanya jawab seperti sesi wawancara di antara mereka, mungkin untuk menghilangkan ketegangan saya.

Tidak berselang lama, si kecil diangkat dari rahim tempatnya berlindung selama 9 bulan. Suara tangis memekik nyaring memenuhi ruang operasi. Alhamdulillaah, putri ketiga kami lahir sempurna dengan berat 3,3 kg. Suami yang menanti di luar ruang operasi segera dipanggil untuk memberikan tahnik kepada putri kami.

Saat operasi, satu kenyataan harus saya terima. Dokter dengan excited mengabarkan bahwa ada miom besar dan endometrium luas yang tumbuh di rahim saya. Beliau takjub, dengan mion sebesar itu dan endometrium sama sekali tidak mempengaruhi kualitas hidup saya. Siklus menstruasi yang normal serta rasa sakit yang wajar saat tamu bulanan tiba, ditambah adanya kehamilan, siapa menyangka ada sesuatu abnormal di rahim saya? Sungguh suatu karunia besar, si kecil bisa tumbuh sehat di dalam sana dan tidak kalah saing dengan miom.

Saat itu tidak ada pikiran buruk yang melintas. Saya negosiasi, bagaimana jika miomnya sekalian diangkat juga. Namun dokter menolak. Resiko pendarahan hebat bisa terjadi jika mereka nekat melakukan pengambilan miom saat itu juga. Akhirnya untuk menghindari pendarahan, dokter hanya mengikat satu tuba falopii. Beliau menenangkan, saya masih bisa merencanakan kehamilan meski hanya dengan satu tuba falopii. Saya hanya bisa mengangguk pasrah. Apa saja, yang penting si kecil sudah lahir dengan selamat.

Selesai operasi, perawat mengantar saya ke ruang observasi. Di ruangan itu saya akan dipantau selama beberapa waktu hingga kondisi dirasa sudah stabil. Rasa kebas di tubuh bagian bawah menahan saya untuk bisa menggerakkan kaki meski hanya sekedar menggoyangkannya. Untuk sesaat, saya bisa merasakan empati yang besar kepada mereka para penyandang tuna daksa. Ada sedikit rasa frustasi menyeruak saat kita memiliki anggota tubuh namun tidak bisa menggerakkannya bahkan merasakan apapun terhadapnya. Belum lagi rasa panas dan nyeri perlahan mulai terasa. Siksaan kedua dimulai saat suntikan-suntikan anti nyeri diberikan setiap 4 jam sekali bergantian dengan obat anal. Suntikan diberikan melalui infus dan memberikan efek seperti sengatan lebah, panas dan terasa seperti terbakar. Untuk beberapa waktu ke depan, nyeri sayatan pada perut tidak akan saya rasakan. Sesaat saya bertanya dalam benak, apakah itu morfin? Hehe..

Selama di ruang observasi, suami dengan telaten merawat saya. Menyuapkan makanan dan minuman silih berganti. Sementara itu, perawat sudah menyuruh saya untuk belajar miring kanan dan kiri. Maka begitu kaki sudah mulai bisa diangkat, saya berusaha keras segera belajar miring ke kanan dan ke kiri. Saya ingin secepatnya bisa IMD dengan si kecil jadi rasa nyeri ini harus bisa dikalahkan.

Saat kaki sudah mulai bisa digerakkan, rasa nyeri pun mulai teras. Tapi alhamdulillaah nyeri itu tertutupi kebahagiaan saat akhirnya bisa jumpa lagi dengan si mungil dan bisa IMD. Terharu sekali, setelah 7 tahun berlalu, bisa memiliki bayi mungil lagi.

Tapi.. kebahagiaan itu ternyata tidak lama berlangsung. Memasuki waktu maghrib, dsog tiba-tiba memasuki bilik saya ditemani beberapa perawat. Sebelumnya suami memang terlihat keluar dengan tergesa-gesa menemui perawat. Tiba-tiba atmosfer terasa aneh. Dsog bertanya-tanya, apakah saya pusing? Apakah lemas? Apakah pandangan kabur? Beliau terus bertanya sambil memerintahkan kepada perawat, “guyur! Guyur cepat!” Ada apa ini? Sepertinya saya merasa baik-baik saja. Tapi kenapa mereka semua panik? Suami pun terlihat sangat cemas.

“Maaf Pak, sepertinya kita harus melakukan operasi ulang.”

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s