Wanita Tanpa Rahim -bagian 2

Maaf Pak, sepertinya kita harus melakukan operasi ulang.

Antara sadar dan tidak, saya mencerna perkataan dokter yang terasa diucapkan dengan berat sekaligus terburu-buru. Belum juga sakit ini hilang, bayangan pisau bedah yang menari-nari di pelupuk mata menciutkan nyali. Kenapa harus operasi ulang? Hanya itu yang menggelayut di pikiran.

“Bu, dari hasil observasi, ibu mengalami pendarahan yang mengindikasikan ada sesuatu yang tidak beres di dalam sana. Tensi drop dan denyut nadi ibu juga melemah.” Seolah menjawab rasa terkejut, dokter obgyn menjelaskan dengan hati-hati. Saya menoleh ke arah suami, memastikan keadaannya. Tepatnya melihatnya dalam kondisi panik dan cemas.

Para perawat bergegas mengganti baju saya dengan baju operasi. Begitu bergegasnya sampai menyenggol selang infus yang menimbulkan sensasi nyeri. Dokter pun harus menenangkan para perawat, “pelan-pelan, kasihan mbaknya.” Begitu kata beliau. Entah apa yang terjadi sebenarnya, saya pun masih belum begitu memahami. Rasanya hanya ingin menolak tindakan, namun saya sadar kalau sikap saya itu bisa sangat beresiko.

Dua perawat bergegas menggelandang bed saya ke ruang operasi, meninggalkan suami yang masih membereskan benda-benda berharga kami di ruangan observasi.

“Mbak, puteranya sudah berapa?” Sambil memegang kertas, seorang perawat wanita yang saya kenali sebagai asisten dokter di ruang operasi bertanya dengan hati-hati.

“Tiga ini, Mbak.” Jawab saya penasaran. Kenapa bertanya begitu, demikian isi hati saya.

“Mbak kan puteranya sudah tiga, ya. Misalnya.. tapi semoga saja tidak terjadi. Jika dalam tindakan nanti terpaksa rahimnya harus diangkat bagaimana?” Pertanyaan yang sangat, sangat tidak terduga dilontarkannya bagaikan palu godam yang menghantam otak untuk segera mencerna dan hati untuk bisa menerima.

Bagaimana? Bagaimana saya bisa hidup tanpa rahim? Bukankah itu berarti angan-angan untuk memiliki bayi dua tahun lagi harus musnah? Berat sekali ya Allah, keputusan yang harus saya ambil kali ini. Haruskah saya egois mempertahankan rahim ini, dengan resiko sewaktu-waktu nyawa ini melayang? Lalu bagaimana dengan si kecil yang baru saja lahir mengecap hawa dunia ini? Bisa saja keegoisan saya menyebabkannya kehilangan ibu.

Lemah, saya meminta perawat memanggil suami. Beberapa saat kemudian suami saya tiba dan perawat pun menanyakan pertanyaan yang sama. Nanar, saya melihat raut wajah suami. Entah apa yang ada di pikirannya. Kecewakah? Takutkah? Cemaskah? Akhirnya cita-cita hampir terenggut meski belum juga operasi dilaksakan.

Tanpa saya duga, suami dengan mantap berkata, “lakukan saja yang terbaik.” Mengapa seolah hati ini yang tidak terima? Bolehkah, sekali ini saya bersikap egois? Sekali.. saja. Andai tubuh ini bisa diajak berlari, saya ingin pergi dari ruangan ini.

Bergegas perawat tersebut menyodorkan form persetujuan tindakan kepada suami untuk minta ditandatangani. Dan.. saya pun hanya bisa pasrah sembari menata hati. Berharap.. berharap hal itu tidak terjadi. Bukankah Allah Ta’ala Maha berkuasa?

Seorang perawat lain menghampiri dan dengan sigap menyuntikkan cairan ke kaki saya. Mereka masih sibuk berbicara dan menelepon dokter anastesi dan dokter utama yang akan mengoperasi saya. Untuk kali ini, dokter kandungan saya hanya akan menjadi asisten karena dokter ini lebih mumpuni dalam hal penyakit kandungan dibanding beliau. Lalu saya digelandang masuk ke ruang tindakan dan mereka memindahkan saya ke bed operasi yang sempit. Karena kesulitan, saya pun berusaha pindah sendiri, namun dilarang keras.

Ya Allah, tolonglah berikan yang terbaik, selamatkanlah rahimku. Aku masih ingin menimang buah hati sekali lagi.

Sepertinya saya tertidur cukup lama. Badan terasa sangat dingin dan membeku. Suara-suara hiruk pikuk masih terasa jauh dari telinga. Perlahan terlihat bayangan suami saat membuka mata. Di sebelah kanan terlihat dua orang perawat memegang tangan saya dan sepertinya sedang berusaha memasang selang infus.

“Dingin, Mas.. sakit..” berulang kali hanya bisikan itu yang terlontar dari mulut saya kepada suami. Badan terasa membeku dan begitu lemah. Perut serasa seperti disayat-sayat. Entah bagaimana rasanya jika bius ini hilang perlahan, ternyata sakitnya begitu rupa sementara bius masih bekerja. Suami saya menerjemahkan kalimat saya kepada para perawat. Hingga mereka berulangkali membalurkan dan menggosok tangan dan kaki saya dengan minyak kayu putih. Namun dingin itu tak kunjung berkurang malah semakin bertambah. Badanpun menggigil hebat. Di saat seperti itu, sisi melankolis ini muncul. Ya Allah, tolong berikan kesempatan sekali lagi, sungguh.. amalku masih amat sangat sedikit. Lalu anak-anakku..

Perawat memerintahkan suami untuk meminumkan teh hangat kepada saya. Dengan susah payah saya minum hingga perlahan rasa hangat yang mengalir di kerongkongan memberikan rasa hangat pula ke tubuh yang pucat seperti mayat (-kata suami).

Hingga siang hari, para perawat silih berganti menyuntikkan berbagai cairan di tangan saya. Sementara sisa darah transfusi masih menggantung dengan indah di tangan kanan, di tangan kiri pun menggantung selang infus lainnya. Bergantian suntikan cairan demi cairan datang. Dari antinyeri hingga antibiotik yang kalau disuntikkan terasa ada sensasi sengatan luar biasa dan rasa panas yang seperti membakar tangan. Tangan saya pun sampai bengkak dan nyeri karena infus yang dipasang di selang bekas transfusi macet terus menerus. Ketakutan saat perawat memperbaiki aliran infus yang macet begitu sakit, membuat saya memilih membiarkan saja (-tidak boleh ditiru sama sekali ya). Subhanallaah.. semoga sakit ini menjadi penggugur dosa-dosaku.

“Nah, alhamdulillaah.. sudah agak merona ya, wajahnya. Sudah putih, wajah mbaknya tadi kelihatan pucat sekali. Sekarang sudah kelihatan memerah. Bagaimana, Mbak? Ada keluhan? Pusing?” Dokter obgyn saya berkelakar saat melakukan visit di ruang observasi.

“Alhamdulillaah nggak ada, Dok. Cuma perutnya terasa nyeri aja dan pandangan terasa masih belum fokus.”

“Ya, wajar aja. Nanti saya resepkan antinyeri yang banyak, ya. Terus kalau biusnya sudah hilang, belajar miring dan duduk pelan-pelan, oke? Ini sudah bisa diangkat kakinya?”

Nggih, Dok. Masih belum bisa diangkat tapi bisa digerakkan sedikit, Dok.” Memang kaki masih berat untuk diangkat seperti lumpuh, namun sayatan di perut mulai terasa sakitnya sejak kaki mulai bisa digerakkan sedikit.

“Oke, semoga cepat pulih ya.. nanti makan dan minum yang banyak.” Pesan beliau sebelum berlalu.

“Mas, bagaimana? Apa saja yang diangkat?” Segera saya berpaling pada suami dan mencecarnya dengan pertanyaan yang sedari sadar membuat hati ini penasaran.

“Rahimmu semua, myioma dan endometrium. Dokter masih menyisakan indung telur karena kamu masih muda. Karena kalau diambil, hormonalmu nanti akan terganggu. Singkatnya, kamu nggak akan haid lagi tapi juga nggak menopause. Indung telur masih memproduksi sel telur tapi rahimmu sudah diangkat.”

“Akan sangat berbahaya kalau nggak diangkat. Myomanya besar, sulit diprediksi apakah bisa mengecil sendiri. Endometrium juga sudah sampai pencernaan, kalau myom diangkat, tapi masih ada endometrium, nanti akan pendarahan lagi karena endometrium itu disenggol sedikit aja sudah pendarahan. Ini yang terbaik. Tadi kamu pucat sekali dan tensimu nge-drop terus, nadimu juga makin melemah. Aku takut, aku pikir sesaat, aku akan kehilangan kamu.” Mungkin mengerti apa yang saya rasakan di dalam sini. Sesak luar biasa. Sudah tidak sama lagi. Tidak akan ada lagi bayi mungil yang akan kulahirkan setelah ini. Ingin menangis tapi malu rasanya. Kurang apa Allah memberi nikmat dengan menyelamatkan nyawa ini satu kali lagi? Memberikan kesempatan untuk beribadah seumur hidup tanpa jeda. Memberikan kesempatan untuk beramal sebanyak-banyaknya. Memberikan kesempatan untuk mendidik anak-anak menjadi putri, istri dan ibu yang shalihah. Bisakah diri ini menggugat takdir-Nya? Sementara nikmat-Nya luar biasa banyak. Saya hanya harus menunggu, hikmah apa yang menanti di balik semua ini. Jikalaupun hikmah itu masih belum saya mengerti, saya hanya harus ikhlas, pasrah dan menerima dengan baik semua takdir Allah ini. Bahwa saya sudah tidak punya rahim lagi. Tapi saya tetaplah seorang istri, seorang ibu, dan seorang wanita. Walhamdulillaah ‘alaa kulli haal..

Iklan

3 pemikiran pada “Wanita Tanpa Rahim -bagian 2

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s