Sosok di Balik Jendela

Rutinitas yang sama setiap pagi di hari yang entah keberapa ratus. Penat seolah kian menyergap. Ditambah huru-hara pagi ini menambah gejolak emosi yang kian berkecamuk. Bukan permasalahan besar sebenarnya, bahkan mungkin 5 dari 7 ibu di muka bumi pernah mengalaminya. Namun kesabaran seolah dicabut dari hati ini. Luapan kata-kata tak berguna yang justru keluar membanjiri, alih-alih beristighar.
Yah.. setan pagi ini telah sukses mengambil alih kesabaran ini. Mungkin, dia saat ini menari gembira menertawai kami. Dan penyesalan, selalu terjadi kemudian. Menyesal karena mengantarkannya ke sekolah bukan dengan senyuman atau ucapan manis.

Maafkan ibu, ya Nak.

Maafkan ibu karena seolah lupa suatu masa di saat ibu menjadi engkau. Karena menghadapimu yang istimewa, semua ilmu seringkali luput, dan ibu harus remedial lagi, dan lagi.

Nak, engkau banyak memberi dan mengajari, sedangkan ibu yang terlalu banyak menuntut dan tidak mau mengerti. Ibu yang selalu ingin memberikan yang terbaik, yang sempurna untukmu, namun ternyata hasilnya seringkali berbeda. Karena sempurna itu tidak mungkin ada. Bahkan seringkali kita harus berdamai dengan keadaan dan kemampuan.

Nak, dibandingkan para ibu di luar sana, kemampuan ibu dalam merawatmu hanya biasa saja. Seringkali ibu merasa jatuh bangun dan bersedih karena ibu tidak bisa memanfaatkan waktu yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Ibu merasa sangat jauh dari garis yang telah ibu tetapkan dulu dalam mengasuhmu. Semua impian ibu terhadapmu.. semua waktu yang ingin ibu curahkan untukmu.. bahkan seluruh ilmu yang ibu pelajari dulu seolah memang tidak cukup dalam mengasuhmu. Waktu 24 jam itu serasa hilang dalam sekali kerjapan mata. Ataukah itu karena ibu kurang berusaha?

Nak, ibu harus menata 24 jam itu dan menyisihkan lebih dari separuhnya untukmu. Entah kenapa ratusan rencana dan angan-angan yang dulu ibu bawa saat melahirkanmu mulai memudar satu demi satu. Ibu rasa.. memang ibu kurang berusaha lebih keras untuk mendidikmu.

Maafkan ibu, Nak. Atas banyak waktu sia-sia yang terbuang. Waktu yang seharusnya kita isi bersama, untuk bercengkrama, bahkan sekedar bercerita sebelum memejamkan mata.

Maafkan ibu, Nak. Ibu sungguh jauh dari kata sempurna. Namun ibu in syaa allaah akan berusaha yang terbaik sekuat tenaga.

Baarakallaahu fiik..

Iklan

Main Apa dan Dengan Siapa?

Bismillaah..

Saya muncul lagi, bukan membawa kabar gembira, justru membawa kisah yang menurut saya patut untuk membuat kita mengurut dada. Ya, setidaknya saya. Karena mungkin bagi sebagian orang tua, hal ini dianggap biasa atau bahkan dilupakan begitu saja.

Syok. Terhenyak. Semua perasaan berkecamuk di dalam hati. Mulut kelu hendak berkata. Hanya kedua pasang mata yang mengawasi kegiatan anak-anak itu.

Empat anak lelaki, sedang asyik bermain dengan seorang anak perempuan. Keempatnya masih balita. Entah kenapa tiba-tiba keriuhan itu berhenti. Saya pun yang berada di lantai dua ikut penasaran. Ada rasa penasaran juga, apakah kedua putri saya yang awalnya bermain di ruang tengah ikut bergabung dalam keriuhan itu.

Pemandangan berikutnya membuat saya menganga. Perasaan yang sulit terdefinisikan. Antara marah, kecewa, kesal, takut dan khawatir menjadi satu. Apa pasal? Tiba-tiba si anak perempuan menurunkan celananya dan berjongkok. Pipis di tengah jalan, dan… ditonton oleh keempat anak laki-laki yang ikut berjongkok di depan gadis kecil tadi. Keempatnya ribut berkomentar, kenapa kemaluan gadis kecil itu begitu, dst.. dst.. Setelah selesai, dengan santainya gadis kecil tadi menaikkan lagi celananya dan kembali bermain.

Belum cukup sampai di situ, beberapa saat kemudian, ada anak perempuan melintas kelompok balita tersebut. Tiba-tiba, salah seorang anak laki-laki di antara mereka menghampirinya, merangkul dan mencium pipinya. Luruh rontok rasa hati saya. Sedih luar biasa, sekaligus mengucap syukur. Kesedihan karena anak-anak sekecil itu dilepas bermain tanpa pengawasan orang dewasa sama sekali. Sedih karena satu dua orang teman yang tidak baik mungkin ada di antara mereka yang masih lugu terpaksa jadi tahu. Sedih karena sedikit sekali orang tua di sekitar kami yang mengajarkan tentang aurat kepada anak. Dan bersyukur, karena kedua putri saya tidak melihat kejadian yang baru saja saya lihat.

Wahai orang tua, ajarkanlah adab dan akhlak kepada anak-anak kita. Ajarkanlah menutup aurat sejak dini dan menjaganya dengan baik sehingga mereka menjadi orang-orang yang mulia.

Memprihatinkan. Sungguh. Saat berbondong-bondong para orang tua bekerja keras membanting tulang untuk memberikan pendidikan yang layak kepada anak-anak mereka, tapi hal itu jadi bumerang. Kesibukan kita, menyita sepersekian waktu kita bersama anak-anak. Pendidikan layak yang kita maksudkan, ternyata hanya sampai pada ilmu pengetahuan akademis atau life skill-nya. Tapi di mana kita meluangkan waktu untuk mendidik adab dan akhlak mereka? Apakah kita mengharapkan lembaga pendidikan yang hanya bertemu sekian jam mengajarkan adab dan akhlak pada anak-anak kita? Sementara muatan pelajara lain sudah begitu padatnya.

Baru saat ada kejadian di antara anak-anak kita, para orang tua ribut meminta pertanggung jawaban lembaga pendidikan dan menganggap mereka lalai. Padahal mendidik adalah tugas dan tanggung jawab orang tua. Kelak, di hari akhir kita akan ditanya tentang amanah kita, salah satunya tentang pendidikan anak. Apakah kita sudah melaksanakan tugas mendidik anak dengan maksimal? Ataukah kita lalai dan bersantai, menganggap tanggung jawab kita kepada anak-anak hanya sekedar mencukupi kebutuhan lahiriahnya saja dan mengabaikan kebutuhan ruhaninya pun ruhiyahnya? Mengisi hati anak-anak kita dengan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan membimbing mereka untuk memiliki adab dan akhlak yang mulia.

Karena, kalaupun ada anak yang durhaka, orang tua pun bisa durhaka. Mengabaikan pendidikan adab, akhlak dan agama anak-anak kita sehingga menjadi sebab tidak berbaktinya mereka kepada kita, merupakan salah satu sebab kedurhakaan orang tua kepada anak. Karena kedurhakaan anak berlatar belakang lalainya paa orang tua dalam mendidik, di samping semua itu merupakan takdir Allah Ta’ala. Semoga anak-anak kita menjadi anak shalih yang akan menjadi ladang pahala yang terus mengalir saat kita sudah tiada lagi di dunia ini.

Virus Itu Bernama SELINGKUH

love

Selingkuh. Mereka bilang itu adalah sebuah selingan “indah” dalam kehidupan berumah tangga. Pengusir kebosanan. Penghilang kejenuhan. Selingkuh ibarat garam dalam masakan.

Selingkuh. Tidak mengenal apa itu gender. Pria maupun wanita, keduanya memiliki potensi untuk selingkuh. Cantik atau tidak, ganteng atau tidak, semua bisa memiliki dualisme hati secara ilegal.

Selingkuh. Tidak mengenal kepemilikan materi. Kaya maupun miskin, yang bos besar maupun karyawan biasa, yang pejabat tinggi maupun pegawai rendahan, semua adalah klien potensial dari virus yang bernama: selingkuh. Baca lebih lanjut

DIY Toys: Moslem Paper Doll

Setelah sekian lama blog ini mangkrak, alhamdulillaah owner kembali dengan sedikit oleh-oleh untuk sahabat semua. Sebenarnya saya sedang dilanda kemalasan luar biasa untuk menulis. Padahal banyak hal yang ingin saya tulis. Tapi, dengan sekuat tenaga saya mencoba untuk melawan kemalasan ini. Jadi mohon maaf, jika post kali ini sangat padat dan ringkas (menurut saya).
Baca lebih lanjut

Boneka dan Rumah Boneka dari Flannel

image

Melatih puasa si kecil memang membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang cukup besar. Tidak jarang orang tua yang mati gaya saat Ramadhan dan memilih menyuguhkan gadget agar anak kuat berpuasa dan tidak terlalu berat beraktifitas. Nah, berhubung saya sudah menjalankan episode no gadget cukup lama, jadi saya pun setiap harinya selalu mengarang indah agar si kecil tidak merasa berat berpuasa. Baca lebih lanjut