Dear, Me..

Menjadi seorang sarjana yang “hanya” duduk berdiam di rumah yang nyaman ditemani celoteh ramai anak-anak adalah impian yang setengah terkabul. Mengapa setengah? karena mimpi asli saya dahulu adalah bekerja dari rumah sesuai latar belakang pendidikan yang saya miliki. Saat ini, bekerja dari rumah sudah saya lakoni, hanya saja tidak seideal yang saya cita-citakan dulu. Terlebih apa yang dicita-citakan orang tua.

Baca lebih lanjut

Iklan

Sosok di Balik Jendela

Rutinitas yang sama setiap pagi di hari yang entah keberapa ratus. Penat seolah kian menyergap. Ditambah huru-hara pagi ini menambah gejolak emosi yang kian berkecamuk. Bukan permasalahan besar sebenarnya, bahkan mungkin 5 dari 7 ibu di muka bumi pernah mengalaminya. Namun kesabaran seolah dicabut dari hati ini. Luapan kata-kata tak berguna yang justru keluar membanjiri, alih-alih beristighar.
Yah.. setan pagi ini telah sukses mengambil alih kesabaran ini. Mungkin, dia saat ini menari gembira menertawai kami. Dan penyesalan, selalu terjadi kemudian. Menyesal karena mengantarkannya ke sekolah bukan dengan senyuman atau ucapan manis.

Maafkan ibu, ya Nak.

Maafkan ibu karena seolah lupa suatu masa di saat ibu menjadi engkau. Karena menghadapimu yang istimewa, semua ilmu seringkali luput, dan ibu harus remedial lagi, dan lagi.

Nak, engkau banyak memberi dan mengajari, sedangkan ibu yang terlalu banyak menuntut dan tidak mau mengerti. Ibu yang selalu ingin memberikan yang terbaik, yang sempurna untukmu, namun ternyata hasilnya seringkali berbeda. Karena sempurna itu tidak mungkin ada. Bahkan seringkali kita harus berdamai dengan keadaan dan kemampuan.

Nak, dibandingkan para ibu di luar sana, kemampuan ibu dalam merawatmu hanya biasa saja. Seringkali ibu merasa jatuh bangun dan bersedih karena ibu tidak bisa memanfaatkan waktu yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Ibu merasa sangat jauh dari garis yang telah ibu tetapkan dulu dalam mengasuhmu. Semua impian ibu terhadapmu.. semua waktu yang ingin ibu curahkan untukmu.. bahkan seluruh ilmu yang ibu pelajari dulu seolah memang tidak cukup dalam mengasuhmu. Waktu 24 jam itu serasa hilang dalam sekali kerjapan mata. Ataukah itu karena ibu kurang berusaha?

Nak, ibu harus menata 24 jam itu dan menyisihkan lebih dari separuhnya untukmu. Entah kenapa ratusan rencana dan angan-angan yang dulu ibu bawa saat melahirkanmu mulai memudar satu demi satu. Ibu rasa.. memang ibu kurang berusaha lebih keras untuk mendidikmu.

Maafkan ibu, Nak. Atas banyak waktu sia-sia yang terbuang. Waktu yang seharusnya kita isi bersama, untuk bercengkrama, bahkan sekedar bercerita sebelum memejamkan mata.

Maafkan ibu, Nak. Ibu sungguh jauh dari kata sempurna. Namun ibu in syaa allaah akan berusaha yang terbaik sekuat tenaga.

Baarakallaahu fiik..

Virus Itu Bernama SELINGKUH

love

Selingkuh. Mereka bilang itu adalah sebuah selingan “indah” dalam kehidupan berumah tangga. Pengusir kebosanan. Penghilang kejenuhan. Selingkuh ibarat garam dalam masakan.

Selingkuh. Tidak mengenal apa itu gender. Pria maupun wanita, keduanya memiliki potensi untuk selingkuh. Cantik atau tidak, ganteng atau tidak, semua bisa memiliki dualisme hati secara ilegal.

Selingkuh. Tidak mengenal kepemilikan materi. Kaya maupun miskin, yang bos besar maupun karyawan biasa, yang pejabat tinggi maupun pegawai rendahan, semua adalah klien potensial dari virus yang bernama: selingkuh. Baca lebih lanjut

Kontrak? Why not!

image

Meneruskan kisah seputar kontrak rumah. Setelah bertahun lalu saya adalah salah seorang pelakunya, dan mungkin akan saya lakoni kembali, ternyata ada banyak hal positif menjadi seorang kontraktor. Serius, ini bukan menghibur diri sendiri, apalagi menghibur para sahabat 1langitbiru *big smile. Serius, memang sebuah sisi yang kita pandang negatif tidak jarang memiliki sisi positif pula.

Baca lebih lanjut

Cintamu Versus Cintaku

image

Menatapmu lurus
menelisik gurat-gurat halus di balik jemari tanganmu
menyipit mata akan kerut-kerut jelas di teduh wajahmu

entah berapa masa aku lewatkan darinya
hingga jika tak menengok tak kuasa kubuka mata

Terlalu silau aku akan dirimu
yang berdiri tegak bagai ratu
kokoh tak bergeming seolah memiliki kuasa
hingga terkesima aku menghembus padamu

lagi… aku yang selalu congkak mengabaikanmu
karena kupikir engkau ada selalu
saat aku berhembus keras mempertahankan asaku
dan mencoba menggoyahkanmu…

ibu…
bilangan waktu itu tak akan kembali bukan?
masa ketika engkau lincah mengiringi langkahku
yang tinggal hanya kuyu
membuatku kehilangan suatu sudut itu
karena aku berharap engkau selalu di sisi
tak peduli bahwa ternyata tangan, mulut, kaki dan hati ini selalu melukai

Apakah mungkin anginku terlalu keras berhembus?
hingga ranting-rantingmu berderit kencang
tapi aku masih saja berhembus
mengabaikan daun-daunmu yang berguguran satu per satu

maaf…

maaf…

dan terima kasih…

cintaku tak hanya sepanjang badan

karena cintamu pun tak hanya sepenggalah

Bmy, 12 Januari 2015

Kami hanya kelompok kurang kasih sayang

image

Beberapa waktu berselang, bahkan mungkin kini tema ini masih ramai dibicarakan. Mulai dari media sosial yang ramai mendukung bahkan mengkampanyekan, bahkan rumor beredar bahwa lembaga internasional pun turut serta mengucurkan dana bagi kelompok ini. Merasa sebagai minoritas, didiskriminasikan, diremehkan, dipandang sebelah mata, dihinakan, dicaci maki.. bersatulah mereka membangun kekuatan demi eksistensi dan harga diri.

Baca lebih lanjut