mengapa anak mogok makan?

Bingung, sedih, capek. Tiga kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan seorang ibu ketika anaknya sedang melancarkan Gerakan Tutup Mulut alias GTM. Sudah berbagai cara dicoba, tapi si kecil tetap saja mogok makan.
Sebenarnya tidak sedikit anak yang melewati fase sulit makan. Bunda tidak perlu sedih dan merasa sendirian. Bunda juga sebaiknya tidak memarahi anak ketika dia sedang GTM. Ingatlah bahwa usia batita adalah masa-masa anak belajar makan dan mengenali berbagai rasa makanan. Bunda perlu mencari tahu apa penyebab dari perilaku GTM anak. Berikut ini adalah beberapa penyebab GTM pada anak:

Tidak menyukai rasa masakan
Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa sebaiknya makanan untuk anak di bawah 1 tahun tidak diberikan gula dan garam karena kebutuhan tubuhnya terhadap dua zat tersebut masih sangat sedikit. Sebaiknya kenalkan rasa manis dari rasa alami makanan seperti buah-buahan. Ada beberapa anak yang melakukan GTM karena sudah mengenal rasa manis dari gula dan rasa gurih dari garam. Apabila anak sudah terbiasa memakan makanan yang diberi bumbu gula dan garam tentu dia akan menolak makanan yang kadar manis atau gurihnya tidak sesuai dengan lidahnya karena rasanya cenderung hambar bagi lidah si kecil. Gula dan garam bisa mulai diberikan dalam porsi secukupnya ketika anak telah berusia 1 tahun.

Mengalami gangguan fungsi pencernaan
Tanda dan gejala anak mengalami gangguan fungsi pencernaan menurut pakar alergi anak, dr. Widodo Judarwanto Sp. A adalah perut kembung, sering cegukan, sering buang angin, sering muntah atau seperti hendak muntah bila disuapi makanan. Mudah timbul muntah bila menangis, berteriak, tertawa, berlari atau marah. Sering nyeri perut sesaat yang bersifat hilang timbul. Sulit buang air besar seperti bila buang air besar mengejan, tidak setiap hari buang air besar, atau sebaliknya buang air besar lebih dari 2 kali/perhari. Kotoran tinja anak juga berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras, bulat seperti kotoran kambing atau cair disertai bentuk seperti biji cabai, pernah ada riwayat berak darah.
Anak yang memiliki gangguan fungsi pencernaan juga biasanya mengalami gangguan tidur malam. Gangguan tersebut terutama berupa rewel, kolik, tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur bolak balik dari ujung ke ujung lain tempat tidur, lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau.
Gangguan fungsi saluran cerna biasanya disertai kulit yang sensitif. Sering timbul bintik-bintik kemerahan seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat, kulit berwarna putih seperti panu di area wajah, pipi, sekitar mulut, pantat dan lain sebagainya. 

Tidak enak badan atau sakit
Sakit juga bisa menyebabkan anak malas makan bahkan mogok makan. Badan yang tidak nyaman, flu, demam dan sakit tenggorokan menjadi penyebab paling sering anak tidak mau makan di kala sakit. Saat anak sedang sakit, Bunda tidak perlu memaksanya untuk makan banyak. Berilah anak makan sedikit demi sedikit namun sering ditambah asupan cairan yang cukup. Memaksa anak makan banyak di saat sakit terkadang malah bisa memicunya muntah bahkan stres.

Trauma sendok
Jangan salah, sendok juga bisa menjadi penyebab anak mogok makan. Para ibu seringkali tidak sabar saat menghadapi anak yang menghabiskan waktu lama dan berjam-jam ketika makan. Tidak jarang mereka menjejali anak dengan makanan ketika mulut si anak masih sibuk mengunyah. Harapannya agar anak mau mengunyah dengan cepat dan makanan segera habis. Pengalaman yang seperti ini bisa membuat anak mengasosiasikan sendok dengan acara makan yang tidak menyenangkan. Nah, jika anak terlanjur mengalami trauma sendok, cobalah menyuapi anak dengan tangan. Pastikan tangan kita bersih ketika menyuapi anak. Perlahan-lahan,kenalkan kembali si kecil dengan sendok. Berikan sendok-sendok yang lucu untuk menarik perhatiannya. Apabila si kecil ingin makan sendiri, pastikan tangannya dicuci bersih dan cobalah untuk bersabar jika acara makannya membuat lantai rumah berantakan.

Bosan dengan menu makanan
Konsep penyajian makanan juga bisa memicu GTM. Jika kita disuguhi menu makanan yang sama setiap hari dengan penyajian yang sama pula, tentu kita menjadi bosan dan tidak berselera makan. Begitu pula dengan anak. Coba kenalkan berbagai macam makanan. Buatlah daftar menu yang bervariasi untuk si kecil selama satu minggu. Hiaslah dengan bentuk yang lucu sehingga anak akan tertarik memakannya. Namun jika Bunda wanita yang sibuk, tidak perlu membuat menu yang rumit, asalkan tetap menjaga variasi menu masakan. Bunda juga bisa merencanakan menu dengan si kecil atau membiarkannya memilih menu sendiri dari daftar menu mingguan yang telah Bunda siapkan.

Terlalu cepat mengenalkan makanan padat
Jika bayi Bunda terlihat enggan menyantap buburnya, jangan terburu-buru membuatkannya makanan padat. Bunda perlu memperhatikan kesiapan si kecil ketika menyajikan makanan padat. Tanda-tanda si kecil siap makan makanan padat:
1. Berat badan bayi sudah mencapai 2 kali berat lahir.
2. Bayi sudah bisa duduk dengan disangga yang memungkinkan ia untuk maju ketika ia ingin makan dan mundur apabila ia menolak.
3. Bayi sudah bisa mengontrol kepala dan lehernya, dan bisa menoleh ketika ia menolak makan.
4. Bayi sudah berhenti menunjukan extrusion reflex yaitu jika Bunda meletakan sendok pada mulutnya makanan yang ia masukkan keluar lagi dari mulutnya.
5. Bayi dapat memasukan sesuatu kemulutnya.
6. Terlihat tertarik dengan orang yang makan disekitarnya.
Bila si kecil belum siap makan makanan padat, coba turunkan tekstur makanannya setingkat lebih lembut.
Bosan dengan suasana makan
Jika anak sedikit makan ketika di rumah dan lahap makan ketika di luar rumah, mungkin si kecil bosan dengan suasana makan yang monoton. Sekali-kali rubahlah suasana ruang makan dengan mencoba atur acara makan menjadi lebih ceria, misalkan dengan membuat permainan-permainan kecil di sela-sela acara makan. Bunda juga bisa mengajak si kecil makan bersama anggota keluarga yang lain. Sesekali coba ajak si kecil makan bersama di luar rumah sebagai selingan. Namun jangan sampai menjadikan makan sambil jalan-jalan sebagai kebiasaan karena akan merepotkan Bunda sendiri di kemudian hari. Makan sambil berjalan-jalan menyebabkan si kecil tidak berkonsentrasi pada makanannya. Selain itu, makanan juga bisa terkena debu dan kotoran yang akan menyebabkan timbulnya penyakit pada anak. Membiasakan anak untuk makan di ruang makan sangat bagus untuk melatih kedisiplinannya.

Kenyang sebelum makan
Jangan biasakan anak makan snack, biscuit atau makanan kecil lainnya sebelum makanan utama. Minum susu sebelum makan juga akan mengenyangkan perut si kecil. Kosongkan lambung si kecil dari makanan atau minuman yang mengenyangkan 2 – 3 jam sebelum makan. Jika si kecil masih minum ASI, coba periksa apakah porsi minumnya berlebihan atau tidak. Porsi pemberian ASI yang terlalu banyak untuk anak di atas 6 bulan akan membuat lambung si kecil penuh sehingga malas makan. Aturlah jadwal pemberian ASI, susu formula maupun makanan selingan si kecil berjauhan dengan waktu makan utama agar anak merasa lapar.

Mengatasi anak yang mogok makan memang membuat pusing tujuh keliling. Namun dengan mengetahui faktor penyebabnya akan memudahkan Bunda untuk menanggulanginya secara tepat.

Iklan