gado-gado femina

Ini adalah tulisan saya yang dimuat di rubrik gado-gado Femina tahun 2013.

Bukan Guru Biasa
Mengajar di sebuah Taman Kanak-kanak memang bukan menjadi impian utamaku. Waktu memilih kuliah di Fakultas Psikologi, impianku adalah menjadi seorang psikolog yang memiliki sebuah biro konsultasi psikologi. Namun kenyataan bahwa aku harus segera mandiri mendamparkanku ke sebuah sekolah kecil di tengah kota Pelajar itu.
Jangan ditanya berapa banyak gaji yang kudapatkan dari pekerjaan tersebut. Sebagai seorang mahasiswa yang baru menyelesaikan skripsi, nominal 280 ribu saat itu hanya cukup untuk membiayai transport dari rumah hingga sekolah selama satu bulan. Namun cukuplah untuk sekedar mengurangi beban kedua orangtuaku.
Perilaku murid-muridku sangat beragam. Banyak peristiwa lucu dan menguras kesabaran yang terjadi di sekolah kami. Maklum saja karena usia mereka masih sangat kecil sehingga kemandirian mereka pun masih minim.
Suatu hari datang murid baru bernama Radit dan Aris. Mereka adalah sepasang kakak beradik. Radit seorang anak yang ekspresif, sedikit pemberontak dan independen. Sedangkan Aris adalah anak yang pemalu, agak pendiam dan cenderung bergantung kepada kakaknya. Tidak sulit mendekati Aris karena ini pertama kalinya dia bersekolah. Sedangkan Radit yang merupakan murid pindahan masih terkenang akan teman-temannya di sekolahnya yang dulu.
Aris tanpa Radit masih bisa ditanggulangi. Tapi Radit tanpa Aris adalah suatu masalah besar. Suatu hari Aris jatuh sakit sehingga Radit berangkat sekolah sendirian. Sejak pelajaran dimulai dia sudah terlihat gelisah. Tiba-tiba di tengah pelajaran Radit menghambur keluar kelas. Dia terus berlari keluar gerbang sekolah tanpa menghiraukan panggilanku.
Sekolah kami berada di gang kecil di tepi jalan utama kota. Sejak awal aku diterima di sekolah ini, kepala sekolah sudah berpesan padaku agar tidak ada seorang anak pun yang keluar halaman sekolah tanpa ijin maupun pengawasan dari guru. Namun kali ini kelengahanku menyebabkan Radit lari ke tepi jalan raya. Aku mengejarnya dan mendapati dia sedang memeluk tiang listrik. Membujuk anak ini sungguh tidak mudah. Dia terus menangis dan berkata ingin pulang. Dan sungguh sebuah kecerobohan besar karena aku tidak memiliki nomor HP ibunya!
Aku terlihat seperti penculik yang gagal membujuk seorang anak kecil. Sampai ada salah seorang murid TK B yang menyusul kami dan bertanya kenapa Radit menangis. Aku mengatakan padanya bahwa Radit ingin pulang ke tempat ibunya. Dia kemudian berlari dan berkata dengan manisnya, “Aku punya ide, Bu Guru!”
Tiba-tiba semua murid keluar dan mulai memanggil Radit , “Radit , Radit … ayo kita masuk ke sekolah!” Ada juga yang berkata, “Radit, Radit … ayo kita main yang tadi.” Orang-orang mulai memperhatikan tingkah kami. Seorang guru muda, segerombolan anak-anak TK dan seorang anak lainnya yang menangis keras sambil memeluk tiang listrik. Sungguh bukan suatu pemandangan yang biasa untuk dilihat.
Setelah acara “negosiasi” berlangsung kurang lebih satu jam, Radit segera terbujuk oleh ajakan teman-temannya. Sungguh suatu pemandangan yang manis melihat anak-anak ini berjalan beriringan sambil berangkulan. Namun di satu sisi ada perasaan kecewa pada diri sendiri karena aku ternyata belum mampu menangani kasus kerewelan anak seorang diri. Aku memang lulusan S1 Psikologi, namun kemampuanku menyelesaikan kasus-kasus anak seperti rebutan mainan, olok-olokan serta tidak mau berpisah dari orang tua masih jauh dari guru-guru lain yang hanya lulusan SMA.
Pernah suatu ketika murid lainnya yang bernama Hani merengek meminta sesuatu padaku. Dia adalah murid yang memiliki rumah paling jauh. Otomatis sampai sekolah kondisinya cukup lelah. Hani adalah anak yang ceria dan supel. Tapi Hani juga merupakan anak yang sulit. Sulit dalam arti keras kepala, semua yang diinginkannya harus didapatkan. Dia rela menangis berjam-jam hingga keinginannya dituruti. Ibunya adalah seorang pengusaha yang cukup sibuk sehingga tidak punya banyak waktu untuk memperhatikan anak-anaknya.
Frustasi adalah saat Hani menangis, mengamuk kemudian… ngompol! Aku yang waktu itu masih single dan merupakan anak bungsu terpaksa harus berurusan dengan pipis seorang anak kecil. Duh, sama sekali di luar bayangan kalau ternyata seorang guru TK harus siap menghadapi hal-hal semacam ini. Belum lagi ditambah Diah yang belum bisa cebok sendiri saat BAB sehingga aku pula yang harus mencebokinya. Haha… guru TK itu memang luar biasa! Seharusnya guru TK mendapat sertifikasi juga seperti guru SD, SMP dan SMA.
Tentu saja dalam bayanganku dulu, seorang guru TK akan menghadapi murid-murid yang duduk rapi dalam kelas seperti aku dulu waktu masih TK. Mereka akan mendengarkan dengan seksama apa yang diajarkan dan menuruti apa yang dikatakan oleh gurunya. Dalam bayanganku semua orangtua akan ikut mempersiapkan kemandirian anak-anaknya sebelum masuk TK untuk bisa melakukan segala aktifitas pribadinya sendiri. But I’m wrong. Sebagian besar orangtua cenderung menggantungkan perkembangan pendidikan anak-anaknya kepada sekolah. Mereka ingin mendapatkan hasil terbaik tanpa mau repot-repot terlibat dalam prosesnya. Padahal pendidikan akan berhasil dengan optimal apabila pihak sekolah dan orangtua bersinergi. Bagaimanapun orangtua adalah sosok yang paling banyak mendampingi anak.
Awalnya menjadi guru TK adalah sebuah beban berat bagiku. Namun saat melihat anak-anak didikku mendengarkan apa yang kuajarkan dan berhasil menyelesaikan tugas yang kuberikan, segala beban yang sebelumnya ada mulai terasa bertambah ringan. Terlebih lagi saat mereka berpamitan pulang sambil tersenyum mereka berkata, “Besok kita main seperti tadi ya, Bu Guru!” Oh… betapa aku sangat terharu. Ternyata aku sangat berarti bagi mereka. Saat ini pun aku sangat merindukan kalian, murid-muridku. Meski kini aku bukan lagi seorang guru, namun kenangan itu telah menjadi sebuah pelajaran berharga dalam mendidik anak-anakku.

Iklan