Belum Lama

IMG_20171224_092113

Sudahkah?
Sudahkah?
Sudahkah?

Sudahkah menjadi orang tua shalih/shalihah sebelum menuntut mereka menjadi shalih/shalihah?

Sudahkah memberikan mereka hak berupa pendidikan yang utuh sebelum menuntut mereka menjalankan kewajiban terhadap kita?

Sudahkah memberikan mereka suri teladan yang baik sebelum menuntut mereka berakhlak mulia?

Apa..
Apa yang sudah dilakukan untuk mereka selama ini?
Pendidikan seperti apa?
Bimbingan seperti apa?
Apakah pendampingan yang utuh dan menyeluruh?
Atau membiarkan mereka mengelana sendiri, mencoba ini dan itu?
Dalam keadaan mereka masih begitu hijau dalam melihat dunia
Dengan pandangan mereka yang masih abu-abu terhadap kebenaran dan kebatilan
Dengan keingintahuan mereka yang tinggi
Rasa penasaran mereka yang begitu akut
Dan keinginan imitasi mereka yang begitu menggelora

Dengan apa?
Sudahkah mereka dibekali?
Sebanyak apa?
Selama apa?

Rasanya baru selama ini.
Dan itu masih begitu sebentar
Begitu singkat
Untuk melepas mereka ke sebuah belantara yang bernama:

Rimba dunia

Karena

Seberapa banyak yang engkau beri

Itulah yang engkau terima

** PWT 02012019

Iklan

Menahan Arus Jaman

IMG_20180630_102330.jpgDuh, jadi keder membayangkan masa depan anak.
Saya jadi takut mau melepas anak sendirian ke sekolah.
Belum lama kasus serupa juga terjadi di daerah kami, lho.

Gemas, geram, marah luar biasa tentu berkecamuk dalam hati saat mendengar mencuatnya kasus pelecehan dan perkosaan anak. Belum lekang dari ingatan saat dulu pernah heboh kasus Yuyun. Baca lebih lanjut

A Perfect Woman Become A Perfect Mom?

IMG_20150923_074147.jpg

Menjadi wanita itu rumit dengan segala standardisasinya. Saat masih gadis dulu saya merancang kehidupan pernikahan ideal saya dari A-Z. Merancang seperti apa calon suami saya, pernikahan saya, kehidupan pasca menikah, juga bagaimana saya akan memanageri “negeri kecil” saya. Saya merencanakan pendidikan calon anak-anak saya kelak dari hal simpel sampai visi misi pengasuhan mereka. Tapi, hanya sepersekian persen yang ternyata mampu saya lakukan. Baca lebih lanjut

Me and My Bag

Sekian lama absen, hingga rasanya blog ini jika diibaratkan kolam air mungkin sudah berwarna hijau karena begitu banyaknya lumut yang tumbuh. Bukan karena bosan menulis. Menulis bagi saya ibarat self healing dari berbagai masalah yang mendera. Masalah apa saja? Kan cuma di rumah? Namanya hidup pastilah ada masalah, mati saja ada masalah apalagi hidup?

Setelah kami pindah ke kota ini, menempati rumah (kontrakan) yang alhamdulillaah terasa nyaman, saya langsung mewujudkan keinginan saya untuk membeli mesin jahit. Kali ini mesin jahit betulan ya, yang portabel tentunya. Terus terang, skill saya “nol besar” untuk masalah jahit menjahit. Saya pernah belajar mengoperasikan mesin jahit Singer hitam milik ibu, tapi hasilnya saya cuma mampu menyamakan putaran tangan dan genjotan pedal kaki tanpa mampu menjahit satu langkah pun. Saya menyerah.

Mungkin pembaca ingat kalau dulu saya pernah posting tas daur ulang dari celana jeans? Nah.. itu pakai jahit tangan. Saya sudah sejak lama mupeng berat ingin membuat pernak pernik dengan mesin jahit. Kenapa bukan baju? Entahlah, membayangkan menggunting kain meteran, menjahit kain yang panjang-panjang begitu membuat rasa malas mendadak menggerayangi pikiran. Saya ingin menjahit sesuatu yang simpel dan cepat.

Akhirnya… Mesin jahit saya tiba. Berbelanja di Shopee dengan uang sisa belanja yang saya kumpulkan sendiri karena suami belum sepenuhnya merestui, saya membeli Messina seri Paris. Alhamdulillaah.. setelah sekian lama ngidam, akhirnya saya punya mesin jahit juga. Yeay!

Berawal dari iseng karena tas saya robek, saya nekat mencoba merombak celana panjang kakak saya menjadi sebuah tote bag sederhana. Saya posting foto tote bag tersebut di status whatsapp dan tanpa disangka ada yang menanyakan harganya! Ah, saya harus bangga atau tertawa malu, ya? Secara itu tas recycle dari celana bekas.

Dengan tertawa malu saya tunjukkan hasil karya itu ke suami. Ternyata beliau mengapresiasi karya saya dan tiba-tiba keinginan berkreasi kembali muncul. Kali ini saya tahu apa yang akan saya buat. Yup, saya akan membuat pouch sederhana.

Akhirnya, beginilah…

Blog ini terbengkalai karena saya sibuk (sungguh, ini bukan sok sibuk) mengerjakan beberapa orderan dari teman, saudara bahkan teman dunia maya. Suami yang semula ragu saya akan istiqamah di dunia “perjahitan” akhirnya mulai mendukung. Dengan catatan: tidak melalaikan tugas utama. Semoga saja saya bisa konsisten tanpa melalaikan tugas utama saya sebagai istri dan ibu. Lihat kan, menulis saja sekarang rasanya sudah begitu berantakan.

Dear, Me..

Menjadi seorang sarjana yang “hanya” duduk berdiam di rumah yang nyaman ditemani celoteh ramai anak-anak adalah impian yang setengah terkabul. Mengapa setengah? karena mimpi asli saya dahulu adalah bekerja dari rumah sesuai latar belakang pendidikan yang saya miliki. Saat ini, bekerja dari rumah sudah saya lakoni, hanya saja tidak seideal yang saya cita-citakan dulu. Terlebih apa yang dicita-citakan orang tua.

Baca lebih lanjut

Sosok di Balik Jendela

Rutinitas yang sama setiap pagi di hari yang entah keberapa ratus. Penat seolah kian menyergap. Ditambah huru-hara pagi ini menambah gejolak emosi yang kian berkecamuk. Bukan permasalahan besar sebenarnya, bahkan mungkin 5 dari 7 ibu di muka bumi pernah mengalaminya. Namun kesabaran seolah dicabut dari hati ini. Luapan kata-kata tak berguna yang justru keluar membanjiri, alih-alih beristighar.
Yah.. setan pagi ini telah sukses mengambil alih kesabaran ini. Mungkin, dia saat ini menari gembira menertawai kami. Dan penyesalan, selalu terjadi kemudian. Menyesal karena mengantarkannya ke sekolah bukan dengan senyuman atau ucapan manis.

Maafkan ibu, ya Nak.

Maafkan ibu karena seolah lupa suatu masa di saat ibu menjadi engkau. Karena menghadapimu yang istimewa, semua ilmu seringkali luput, dan ibu harus remedial lagi, dan lagi.

Nak, engkau banyak memberi dan mengajari, sedangkan ibu yang terlalu banyak menuntut dan tidak mau mengerti. Ibu yang selalu ingin memberikan yang terbaik, yang sempurna untukmu, namun ternyata hasilnya seringkali berbeda. Karena sempurna itu tidak mungkin ada. Bahkan seringkali kita harus berdamai dengan keadaan dan kemampuan.

Nak, dibandingkan para ibu di luar sana, kemampuan ibu dalam merawatmu hanya biasa saja. Seringkali ibu merasa jatuh bangun dan bersedih karena ibu tidak bisa memanfaatkan waktu yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Ibu merasa sangat jauh dari garis yang telah ibu tetapkan dulu dalam mengasuhmu. Semua impian ibu terhadapmu.. semua waktu yang ingin ibu curahkan untukmu.. bahkan seluruh ilmu yang ibu pelajari dulu seolah memang tidak cukup dalam mengasuhmu. Waktu 24 jam itu serasa hilang dalam sekali kerjapan mata. Ataukah itu karena ibu kurang berusaha?

Nak, ibu harus menata 24 jam itu dan menyisihkan lebih dari separuhnya untukmu. Entah kenapa ratusan rencana dan angan-angan yang dulu ibu bawa saat melahirkanmu mulai memudar satu demi satu. Ibu rasa.. memang ibu kurang berusaha lebih keras untuk mendidikmu.

Maafkan ibu, Nak. Atas banyak waktu sia-sia yang terbuang. Waktu yang seharusnya kita isi bersama, untuk bercengkrama, bahkan sekedar bercerita sebelum memejamkan mata.

Maafkan ibu, Nak. Ibu sungguh jauh dari kata sempurna. Namun ibu in syaa allaah akan berusaha yang terbaik sekuat tenaga.

Baarakallaahu fiik..

Main Apa dan Dengan Siapa?

Bismillaah..

Saya muncul lagi, bukan membawa kabar gembira, justru membawa kisah yang menurut saya patut untuk membuat kita mengurut dada. Ya, setidaknya saya. Karena mungkin bagi sebagian orang tua, hal ini dianggap biasa atau bahkan dilupakan begitu saja.

Syok. Terhenyak. Semua perasaan berkecamuk di dalam hati. Mulut kelu hendak berkata. Hanya kedua pasang mata yang mengawasi kegiatan anak-anak itu.

Empat anak lelaki, sedang asyik bermain dengan seorang anak perempuan. Keempatnya masih balita. Entah kenapa tiba-tiba keriuhan itu berhenti. Saya pun yang berada di lantai dua ikut penasaran. Ada rasa penasaran juga, apakah kedua putri saya yang awalnya bermain di ruang tengah ikut bergabung dalam keriuhan itu.

Pemandangan berikutnya membuat saya menganga. Perasaan yang sulit terdefinisikan. Antara marah, kecewa, kesal, takut dan khawatir menjadi satu. Apa pasal? Tiba-tiba si anak perempuan menurunkan celananya dan berjongkok. Pipis di tengah jalan, dan… ditonton oleh keempat anak laki-laki yang ikut berjongkok di depan gadis kecil tadi. Keempatnya ribut berkomentar, kenapa kemaluan gadis kecil itu begitu, dst.. dst.. Setelah selesai, dengan santainya gadis kecil tadi menaikkan lagi celananya dan kembali bermain.

Belum cukup sampai di situ, beberapa saat kemudian, ada anak perempuan melintas kelompok balita tersebut. Tiba-tiba, salah seorang anak laki-laki di antara mereka menghampirinya, merangkul dan mencium pipinya. Luruh rontok rasa hati saya. Sedih luar biasa, sekaligus mengucap syukur. Kesedihan karena anak-anak sekecil itu dilepas bermain tanpa pengawasan orang dewasa sama sekali. Sedih karena satu dua orang teman yang tidak baik mungkin ada di antara mereka yang masih lugu terpaksa jadi tahu. Sedih karena sedikit sekali orang tua di sekitar kami yang mengajarkan tentang aurat kepada anak. Dan bersyukur, karena kedua putri saya tidak melihat kejadian yang baru saja saya lihat.

Wahai orang tua, ajarkanlah adab dan akhlak kepada anak-anak kita. Ajarkanlah menutup aurat sejak dini dan menjaganya dengan baik sehingga mereka menjadi orang-orang yang mulia.

Memprihatinkan. Sungguh. Saat berbondong-bondong para orang tua bekerja keras membanting tulang untuk memberikan pendidikan yang layak kepada anak-anak mereka, tapi hal itu jadi bumerang. Kesibukan kita, menyita sepersekian waktu kita bersama anak-anak. Pendidikan layak yang kita maksudkan, ternyata hanya sampai pada ilmu pengetahuan akademis atau life skill-nya. Tapi di mana kita meluangkan waktu untuk mendidik adab dan akhlak mereka? Apakah kita mengharapkan lembaga pendidikan yang hanya bertemu sekian jam mengajarkan adab dan akhlak pada anak-anak kita? Sementara muatan pelajara lain sudah begitu padatnya.

Baru saat ada kejadian di antara anak-anak kita, para orang tua ribut meminta pertanggung jawaban lembaga pendidikan dan menganggap mereka lalai. Padahal mendidik adalah tugas dan tanggung jawab orang tua. Kelak, di hari akhir kita akan ditanya tentang amanah kita, salah satunya tentang pendidikan anak. Apakah kita sudah melaksanakan tugas mendidik anak dengan maksimal? Ataukah kita lalai dan bersantai, menganggap tanggung jawab kita kepada anak-anak hanya sekedar mencukupi kebutuhan lahiriahnya saja dan mengabaikan kebutuhan ruhaninya pun ruhiyahnya? Mengisi hati anak-anak kita dengan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan membimbing mereka untuk memiliki adab dan akhlak yang mulia.

Karena, kalaupun ada anak yang durhaka, orang tua pun bisa durhaka. Mengabaikan pendidikan adab, akhlak dan agama anak-anak kita sehingga menjadi sebab tidak berbaktinya mereka kepada kita, merupakan salah satu sebab kedurhakaan orang tua kepada anak. Karena kedurhakaan anak berlatar belakang lalainya paa orang tua dalam mendidik, di samping semua itu merupakan takdir Allah Ta’ala. Semoga anak-anak kita menjadi anak shalih yang akan menjadi ladang pahala yang terus mengalir saat kita sudah tiada lagi di dunia ini.