Dear, Me..

Menjadi seorang sarjana yang “hanya” duduk berdiam di rumah yang nyaman ditemani celoteh ramai anak-anak adalah impian yang setengah terkabul. Mengapa setengah? karena mimpi asli saya dahulu adalah bekerja dari rumah sesuai latar belakang pendidikan yang saya miliki. Saat ini, bekerja dari rumah sudah saya lakoni, hanya saja tidak seideal yang saya cita-citakan dulu. Terlebih apa yang dicita-citakan orang tua.

Baca lebih lanjut

Iklan

Dear, Bukan Sebuah “Romance”

image

Setiap kubuka layar berbentuk segi empat,
mengawali perbincangan dengan kawan yang lama tak jumpa
atau membaca sederet kabar dari sahabat nun jauh di sana
banyak mereka bercerita tentang kehidupan
juga sosok pendamping yang Allah pilihkan bagi mereka
bercerita soal hari-hari yang mereka lalui
menyiratkan kebahagiaan yang mereka rengkuh dalam mahligai
tidak sedikit yang merasa resah, gelisah, galau, cemburu dan menyesal
Kenapa?
Bahagia tak menghampiri jiwa mereka saat membaca indahnya kisah teman-teman mereka
Mengapa?
Tak ada hadiah menghampiri, tak ada kejutan menghinggapi, tak ada kata romantis mampir di telinga seperti kisah yang sering mereka baca di sosial media kawan-kawannya

Aku tak begitu.
Membaca kisah mereka tak membuatku kesal dan cemburu
Penyesalan pun tak hinggap di hatiku
Karena bagiku engkau tak harus begini atau begitu
Aku tidak perlu hadiah jika itu membebanimu
Aku tak perlu kejutan karena bersamamu setiap harinya adalah suatu keindahan
Aku tak mengharap buaian kata-kata mesra, karena setiap tetesan keringatmu adalah sebuah romansa bagiku
Sikapmu yang apa adanya dan tak berpura-pura membuatku memahami
Itulah engkau apa adanya
Keromantisan itu ada saat kita bercengkrama bersama mata-mata mungil itu
Melihatmu tertawa, menggoda mereka, bagiku itu adalah cinta
Tanpa perlu engkau ucap aku pun percaya
Bagaimana bisa aku menuntutmu lagi menjadi ini dan itu?
Bahkan aku pun belum tentu sempurna bagimu

Lalu..
Satu kalimat pun meluncur bagimu bagai bunga yang selalu bersemi
“Apa yang tidak jika untukmu?”
Ha.. kita sudah setua ini dan tak patut berpuja puji
Tapi ketulusan katamu itu seperti janji yang akan selalu kusyukuri

Terima kasih.
Saya sangat bahagia saat ini.
Memilihmu adalah anugerah yang semoga selalu kupatri dalam hati.

« Bumiayu, 180915 »

*) for my beloved, jazaakallaahu khairan wa baarakallaahu fiik