Anak dan Kertas Kosong

IMG_20140330_065126

Sudah beberapa lama saya bergabung dengan sebuah grup di sebuah media sosial yang berisi tentang pengasahan minat dan bakat anak. Sebenarnya sangat menarik sebagian besar materi yang ada di dalamnya. Namun.. entah mengapa ada salah satu falsafah grup tersebut yang mengusik relung hati. “Anak bukanlah kertas kosong” adalah falsafah itu. Anak terlahir memiliki minat dan bakatnya sendiri sehingga orang tua tidak berhak mengatur namun sebatas memberikan bimbingan dan arahan. Bahkan dalam usia dini, anak sudah diberi wewenang memutuskan persoalan pribadi mereka.

Tidak sepenuhnya salah, sih. Tapi juga tak sepenuhnya tepat.Jika kita adalah seorang Muslim, tentunya pernah mendengar sebuah hadits berikut ini, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya? (Anaknya lahir dalam keadaan telinganya tidak cacat, namun pemiliknya lah yang kemudian memotong telinganya, -pen.).” (HR. Bukhari). Maknanya adalah setiap anak terlahir dalam keadaan bersih (fitrah) dan kedua orangtuanya yang kelak akan memolesnya menjadi apa. Lantas bagaimana mungkin anak bukanlah kertas kosong? Setiap anak awalnya adalah selembar kertas bersih putih yang siap digambar apapun, dan gambar itu yang akan menjadikannya indah atau buruk. Orang tua membimbing adalah kewajiban dan sebuah keharusan, namun tidak setiap saat kita menyerahkan segala keputusan kepada anak terutama yang menyangkut masa depannya.

Saya jadi teringat pada si sulung yang akhir-akhir ini sedang “gandrung-gandrungnya” bermain dengan teman sebayanya. Dibilang sebaya juga kurang tepat sebenarnya, karena si sulung adalah yang paling kecil di antara mereka. Si sulung kami adalah satu-satunya anak di lingkungan kami yang berpuasa pada Ramadhan ini. Alhamdulillaah, patut disyukuri namun juga prihatin. Sungguh. Teman-temannya sudah menginjak kelas 1 hingga 4 SD namun mereka tidak berpuasa, bahkan puasa bedug sekalipun yang lazim dikerjakan oleh anak-anak kecil. Dengan santai mereka bermain dengan si sulung sambil menenteng makanan yang tentu saja menggoda si kecil. Mengikuti falsafah anak bukanlah kertas kosong, apakah mereka harus diberikan kewenangan untuk berpuasa atau tidak? Saya tidak tahu, barangkali ada pembaca yang tahu. Namun, doktrinitas dan pendidikan dalam agama adalah suatu hal yang penting serta mutlak dilakukan. Tanpanya, bisa dipastikan kehidupan anak akan carut-marut. Bahkan seorang yang matang dalam prinsip agama pun tidak jarang goyah, apalagi yang hanya diberikan secara dangkal. It can’t be, Mom. Bimbingan itu tidak cukup, terkadang butuh paksaan untuk memulai sebuah ketaatan dalam beramal shalih pada anak. Ketaatan pada anak selain karena adanya bimbingan dan pemahaman akan esensi ibadah juga membutuhkan rutinitas. Semisal hadits tentang shalat yang menyuruh kita memerintahkan anak untuk shalat di usia 7 tahun, dan memukul mereka di usia 10 tahun saat meninggalkannya (tentunya dengan pukulan yang membuat jera namun tidak menyakitkan fisik). Jika tidak ada doktrinitas sejak dini serta bimbingan intensif dari usia 7 hingga 10 tahun, tentunya tidak akan mudah bagi anak langsung mendirikan ibadah shalat secara rutin. Apa tujuan doktrinitas itu? Tidak lain agar mereka tidak merasa berat saat sudah memasuki akil baligh yang berarti sudah wajib shalat bagi mereka karena sudah berlatih sejak dini.

Kegandrungan si sulung kami dalam bermain dan mulai lekatnya si kecil dengan peer group-nya adalah suatu hal yang lumrah. Karena usia balita memang sedang senang-senangnya menjalin sosialisasi dengan sebaya. Namun, dalam pergaulannya pun harus dicermati oleh orang tua, terutama dalam memilih teman. Sebagai seorang muslim, orang tua memiliki kewajiban memilihkan teman yang baik bagi anak terutama dalam hal akhlak dan agama. Bukankah ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa seseorang yang berdekatan dengan penjual minyak wangi akan mendapat cipratan wanginya, sedangkan berdekatan dengan pandai besi akan mendapatkan bau yang kurang sedap atau terkena cipratan apinya? Maknanya, teman memiliki arti yang sangat penting dalam membentuk akhlak dan sikap seseorang, apalagi anak kecil yang masih dalam fase mengamati dan meniru.

Anak saya pun demikian, meski sudah diberikan aturan dan prinsip dalam berteman, masih saja ada hal yang kurang baik yang ditirunya. Bukan berarti anak kami adalah yang terbaik dan paling shalihah, lho. Namun merasa pendidikan kami belumlah optimal maka pembentengan dari dalam keluarga menjadi sangat penting. Seperti tadi siang, saat saya mengamati apa sih, yang dimainkan anak saya dengan teman-temannya? Qadarallaah saat itu si sulung tidak bermain dengan teman-temannya yang biasa (dan saya sukai). Apa yang mereka mainkan? Mereka berjoget-joget sambil menyanyikan lagu yang syairnya “nggak banget” alias agak vulgar. Dengan tajam saya tatap si sulung yang melihat saya sambil mengedikkan bahu, pertanda dia mengetahui bahwa saya tidak suka dia ikut-ikutan. Setelah itu mereka berganti permainan, bermain harimau-harimauan yang sepertinya ala sinetron karena ada nama-nama seperti “Gumara” dan “Pitaloka”. Mereka berkelahi sungguhan, lho. Aduh… lekas saya amankan si sulung dan saya pun menekankan kembali aturan-aturan yang kami perbolehkan dalam bermain. Dia mengusulkan permainan lain namun ditolak oleh teman-temannya, secara mutlak. Dia sudah kalah suara, bukan? Lalu jika anak bukan kertas kosong, saat si sulung kami menolak pulang dan meneruskan permainan tidak baik tersebut, haruskah saya terima pilihannya meski segala konsekuensi sudah saya utarakan? Di usianya yang masih dini tersebut, dia memang sudah paham sebab akibat namun masih sebatas pengalaman saja, dia belum mampu membayangkan akibat yang abstrak atau belum pernah dialami serta dilihat.

So, be smart parent, please… Anak-anak adalah harta paling berharga yang tidak tergantikan, sehingga harus kita berikan bimbingan sebaik-baiknya kepada mereka. Tidak semua teori parenting itu benar dalam pandangan Islam. Para pendidik Muslim, janganlah kita terlena dengan pendidikan parenting yang sedang booming, yang terus berkembang, berganti dari tahun ke tahun. Tahun ini pakar A bilang X, tahun depan pakar B bilang Y. Akhirnya kita bingung sendiri. Tidak ingatkah kita bahwa mereka mencetuskan teori parenting XYZ itu berdasarkan sampling? Sedangkan kita sudah punya pakar pendidikan utama yang tidak ada bandingannya, Rasulullaah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendidik dengan di bawah bimbingan Allah subhanahu wa ta’alaa dan menghasilkan para penghuni surga. Tidak main-main, surga yang menjadi hasil pendidikan beliau. Apakah ada hasil tertinggi yang ingin kita raih selain itu dalam mendidik diri dan anak-anak kita? Kalau saya sih, tidak.

Iklan

2 pemikiran pada “Anak dan Kertas Kosong

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s