Sekelumit Kisah Tentang: Rumah

home

Sebulan lebih lamanya, atau bahkan sudah berapa bulan berlalu saya tidak lagi mengunjungi, apalagi menulis di blog ini. Maklum saja, kedua gadis kecil ternyata membutuhkan ekstra perhatian. Si sulung yang sebentar lagi akan menempuh bangku sekolah dasar, ternyata membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kenapa?

Karena kami insyaallaah harus pindah ke kota seberang. Melihat harga properti yang melambung tinggi cukup membuat sesak napas. Sedangkan waktu kepindahan hanya satu tahun lagi. Mau kontrak? Bisa, asal sanggup membayar sewa rumah yang besar sewanya selama setahun bisa untuk membeli rumah tipe 36. Wow, subhanallaah ya.. itu pun bukan rumah mewah. Kalau rumah mewah bisa puluhan juta. Ada memang tawaran KPR melalui pengembang atau bahasa kerennya developer syari’ah, namun nominal cicilan sangat besar dengan jangka waktu yang singkat. Setahun saja.

Bagi keluarga muda seperti kami, memiliki rumah memang merupakan suatu kebutuhan yang penting meski kadang terasa tidak terlalu mendesak. Terutama jika dikaitkan dengan pola asuh terhadap anak-anak. Meski tidak sampai timbul konflik, ketidakselarasan pola asuh anak dengan orang tua atau mertua menjadi isu krusial. Mengingat, konsep kasih sayang grandparent vs parent itu berbeda. Orang tua ingin bersikap disiplin, namun kakek/nenek cenderung memanjakan. Isu krusia ini yang lebih banyak mengusik keluarga muda untuk memiliki rumah sendiri (atau setidaknya hidup tidak seatap dengan orang tuanya). Berbeda alasan dengan mereka, kepindahan kami dilatarbelakangi oleh keinginan mencari pendidikan terbaik sesuai idealisme kami untuk buah hati, yang saat ini belum kami temukan di kota kecil ini.

Meski urgent, tidak sedikit pasangan muda yang enggan mengambil KPR bank. Kami salah satunya. Maybe you know about the reason. Dalam Islam jelas bahwa riba itu sesuatu yang diharamkan. Saya kira banyak sekali artikel yang membahas tentang KPR bank ini, jadi bukan kapasitas saya untuk menulis di sini. Kalau terpaksa karena darurat bagaimana? Apa sih, kategori daruratnya? Selama kita masih bisa tidur dalam keadaan aman, bahkan nyaman, meski bukan rumah milik kita sendiri itu sudah cukup. Entah rumah orang tua, mertua, rumah pinjaman, maupun rumah sewaan, itu sudah menghapus status kedaruratan. Lalu kapan bisa punya rumahnya?? Itu juga menjadi pikiran kami (setidaknya saya). Tapi seseorang pernah berkata, kalkulator manusia dengan perhitungan Allah Ta’ala itu berbeda. Bisa jadi saat kita menjauhi apa yang diharamkan-Nya demi mengharap ridha Allah, Dia akan mengganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Dan sudah pasti seperti itu.

Saya teringat benar cerita suami saat kami berbicara tentang keinginan untuk membeli properti yang belum kunjung terwujud. Saat itu tiba-tiba beliau bercerita tentang salah seorang ustadz yang rutin mengisi kajian di daerah kami. Beliau menceritakan betapa zuhudnya penampilan ustadz tersebut, yang mendengarnya saja membuat hati saya terenyuh sedih sekaligus kagum. Saat itu saya mendadak mengerti, mengapa suami saya memilih berangkat kajian naik motor meski ada mobil menganggur di rumah, padahal kondisi hujan. Jawabnya, “malu, dik.”. Yah, malu. Karena gurunya berpenampilan begitu sederhana. Yang kata suami, seolah-olah baju yang dipakai selalu sama setiap mengisi kajian (atau bahkan mungkin itu baju terbaik yang ustadz tersebut punyai). Bahkan… masyaallaah.. bajunya terlihat sedikit tampak robekan di sana-sini. Bukan berpenampilan kucel, saya rasa. Namun memang hanya itu yang beliau punya. Alat transportasi pun tak dimilikinya. Saya yakin, bukannya beliau malas mencari nafkah sampai-sampai baju pun tak punya yang bagus. Namun memang beliau merasa cukup dengan keadaan demikian, selama masih bisa makan, minum, istirahat cukup, beribadah dan berdakwah, dunia sudah dalam genggaman. Cerita suami membuat saya terpekur. Betapa… serakah dan tamaknya saya dalam menghadapi dunia ini. Tidak pernah merasa cukup, selalu dan selalu memiliki keinginan yang tiada habisnya. Suami saya berkata, betapa sederhananya para gurunya, sekalipun nama mereka sudah sangat besar dan terkenal. Ketenaran bahkan tidak membuat mereka buta, justru semakin berhati-hati dalam melangkah. Sama sekali tidak tampak kemewahan pada diri mereka. Hidup mereka selalu disibukkan dengan mencari ilmu, berdakwah dan menafkahi keluarga. Kalau ada kelebihan rizqi, justru digunakan untuk membantu para muridnya. “Tidak seperti kita dik, yang bahkan masih bisa ganti-ganti HP.” Meski mereka hidup sangat sederhana, namun hatinya merasa lapang. Sempitnya tempat tinggal berbanding terbalik dengan kelapangan hati mereka. Mereka memang tidak pernah berkata betapa bersyukurnya mereka, namun saya kira para muridnya mengetahui ketawadhu’an dan sikap mereka yang begitu qana’ah.

Kalau dipikir, sejak awal menikah kami bisa mengajukan KPR. Bahkan dengan KPR bank, saat ini mungkin kami bisa memiliki dua rumah. Tapi… untuk dunia yang secuil ini, saya tidak mau bertaruh masa depan yang kekal. Cukup dan cukup, jika kita tidak bisa membeli kapling di dunia, mari kita berusaha membeli kapling di akhirat. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah *closing with deep smile.

didedikasikan untuk kami sendiri dan kalian, para kontraktor..

Iklan

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s